
Ander yang baru saja selesai mandi, mendengar suara deru mobil diluar rumah membuat Ander segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi Tuan Muda." sapa Sandi saat Ander membuka pintu rumah.
Seketika wajah Ander berubah, menatap Sandi dengan malas.
"Ada apa?"
"Saya datang untuk menjemput Tuan muda karena hukuman Tuan sudah selesai." jelas Sandi yang langsung membuat wajah Ander sumringah.
"Benarkah?"
"Tentu saja Tuan, silahkan bersiap siap."
Dengan senyum mengembang Ander berbalik memasuki rumah untuk memberitahu kabar bahagia ini pada para adiknya.
"Akhirnya waktu pembalasan tiba." batin Ander tersenyum licik.
Ander memang sudah tak sabar menantikan momen ini, momen dimana Ia bisa terbebas dari hukuman dan membalas semua perbuatan Eliya padanya.
Dengan wajah sumringah, ketiga berandal keluar dari rumah dan buru buru memasuki mobil.
"Kita harus pamit dulu sama Mbah Mirah, biar gimana pun beliau udah ngasih kita pekerjaan selama kita di sini." ucap Ander yang langsung mendapatkan anggukan setuju dari kedua adiknya.
Sandi yang mengerti maksud dari anak anak yang duduk dibelakang pun segera membelokan mobilnya menuju kandang mbah Mirah tanpa diminta.
Sesampainya didepan kandang, ketiganya pun turun dan beruntung Mbah Mirah sedang berada didepan kandang.
"Lho, kalian nggak kerja?" tanya Mbah Mirah melihat pakaian yang dikenakan ketiga berandal sangat rapi dan mewah.
"Enggak mbah, kita kesini mau pamitan sama Mbah." jelas Ander menjelaskan kedatangan nya kali ini.
"Lho, kalian sudah terbebas dari hukuman?" tanya Mbah Mirah membuat ketiga berandal terkejut dengan pertanyaan Mbah Mirah yang tau jika mereka sedang mendapatkan hukuman.
"Kok Mbah tau kalau kita?" Revan segaja mengantungkan ucapannya.
"Eh mbah keceplosan. Lagian semua orang di sini juga tau kok. Tuh dikasih tau sama abang yang ada dimobil." jelas Mbah Mirah.
Ketiga berandal melirik tajam ke arah Sandi membuat Sandi yang sedang berada didalam mobil binggung karena merasa diperhatikan.
"Ya sudah Mbah gitu aja, maafin kita kalau ada salah ya?"
Mbah Mirah tersenyum, "Nggak ada salah, kalian anak baik dan rajin Mbah justru seneng sama kalian."
"Oh ya Mbah, Rania mana?" tanya Revan celinggukan mencari wanita yang biasanya bertengkar dengan nya.
"Rania udah balik ke kota semalam, memang dia nggak pamitan sama kalian?"
Ketiga berandal menggelengkan kepalanya serentak.
"Oh mungkin dia lupa soalnya buru buru semalem," jelas Mbah Mirah.
"Ya sudah mbah kami pamit dulu." Ketiga berandal pun mencium punggung tangan Mbah Mirah.
__ADS_1
Selesai berpamitan, ketiganya memasuki mobil dan sengaja membanting pintu mobil.
Mereka kesal karena merasa Sandi menjelekan mereka dikampung ini.
"Nggak anaknya, Nggak bapaknya sama aja!" Sindir Ander membuat Sandi yang ada didepan mengulum senyum.
....
Ella memeluk erat tubuh putra nya yang sudah 2 minggu ini tak bersamanya.
"Mom kangen banget,"
"Ander juga kangen sama Mom."
"Kamu kok kurusan sayang, apa disana nggak suka sama masakan Bibi?" tanya Ella membuat kening Ander mengkerut.
"Bibi siapa Mom?" kini giliran Ella yang binggung.
"Lho, disana ada Bibi yang masak buat kamu kan?"
Ander melonggo sekaligus kesal, bisa bisanya Mom nya berkata seperti itu. Tak tahu saja jika dirinya bahkan harus bekerja dikandang sapi hanya untuk makan.
Eliya dan Sandi benar benar sialan, membuat drama sampai sejauh ini.
"Ander nggak suka masakan Bibi." jelas Ander berbohong.
"Hmm, ya sudah sekarang Mama masakin buat Ander ya biar Ander makan banyak." kata Ella yang langsung mendapatkan anggukan dari Ander.
Selesai mandi, Ander kembali ke meja makan dan disana sudah ada Alex yang sepertinya menunggu dirinya.
"Hay Boy, apa kamu tidak rindu Dad?" tanya Alex melihat Ander bersikap acuh padanya.
"Sayangnya tidak!" balas Ander acuh membuat Alex terbahak.
"Kau masih marah nak?" tanya Alex sambil mengobrak abrik rambut Ander membuat si empu menatap protes.
"Aku bukan anak kecil Dad!"
Alex kembali terkekeh,.
"Bukankah disana menyenangkan. Liburan yang berbeda dari biasanya?"
"Ya memang menyenangkan, tapi di tuduh melakukan hal yang tak Ia lakukan rasanya sangat menyebalkan apalagi orang orang dikampung menganggap dirinya dan adik adiknya anak nakal, itu sangat menyebalkan." batin Ander.
"Okey jika memang masih marah dengan Dad, apa kita harus berkuda bersama untuk menghilangkan amarah mu?" tanya Alex melihat Ander hanya diam tak menjawab.
Selama ini jika Ander kesal dan marah karena Alex terlalu sibuk bekerja, berkuda adalah pilihan mereka agar kembali menghangat dan itu selalu berhasil namun kali ini Ander masih setia dengan kebisuannya.
"Sup Daging kacang merah kesukaaan My Boy sudah siap." Aroma sup kesukaaan Ander menyeruak kala mangkuk berisi sup yang masih mengepul diletakan dimeja.
"Wah, Dad dibagi nggak nih?"
"Yah, cuma satu porsi nih khusus buat My Boy, Dad nanti aja ya biar dibikinin Bibi." kata Ella membuat Ander tersenyum penuh kemenangan sementara Alex memanyunkan bibir nya pura pura ngambek.
__ADS_1
Ander menikmati sup masih ditemani oleh kedua orangtuanya, sesekali Alex melontarkan candaan untuk mencairkan suasana.
"Bentar lagi kamu ujian, nanti mau lanjut kuliah dimana?" tanya Ella.
Ander meletakan sendoknya setelah menghabiskan semangkuk sup buatan Ella,
"Ander pengen kayak tante Bianca,"
"Mau ke luar negeri?" Alex cukup terkejut.
Ander mengangguk pelan, "Boleh nggak Mom?"
Raut wajah Ella terlihat sedih, "Mom nggak mau jauh sama kamu tapi kalau kamu mau nya di sana ya sudah, Mom hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu."
Ander menatap Mom nya penuh haru,
"Nggak minta ijin sama Dad nih?" protes Alex.
"Udah pasti di ijinin kan sama Dad?" balas Ander penuh percaya diri.
"Padahal Enggak!"
"Dad,.." raut wajah Ander berubah memelas.
Alex tersenyum "Ya carilah ilmu yang banyak disana agar nanti saat kamu pulang sudah bisa mengantikan Dad."
"Siap Dad." Ander terseyum puas.
...
Pagi ini Ander begitu bersemangat berangkat ke sekolah, mengingat lebih 2 minggu Ander libur.
Ander begitu tak sabar menantikan hari ini, hari dimana Ia akan membalas semua perbuatan Eliya.
Ia bahkan sudah merancang apa saja yang akan Ia lakukan pada Eliya.
"Ck, buru buru amat. Mau kemana?" tanya Revan kala mereka sudah berada di parkiran sekolah.
"Segala pake nanya, ya pasti ketemu sama mbak pacar lah. Udah kangen banget kan 2 minggu nggak ketemu." ejek Randi membuat Ander melotot tajam ke arah Randi.
Ander segera meninggalkan kedua saudara somplaknya dan berjalan menuju kelas Eliya.
Sesampainya di kelas Eliya, Semua teman Eliya tentu terkejut dan takut melihat kedatangan Ander. Mereka takut akan jadi korban keusilan Ander seperti temannya.
"Eliya mana?" tanya Ander pada salah satu siswa saat Ia tak melihat batang hidung Eliya.
"E-eliya kan sudah pindah."
"Haaa? pindah?"
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1