DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
83


__ADS_3

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Revan berjalan mengikuti Seseorang yang tak lain adalah Rania dan kekasihnya yang berjalan memasuki klinik sang Papa.


Terlihat Rania dan kekasihnya disambut baik oleh para perawat dan mereka tampak berbincang sebentar sebelum akhirnya salah satu perawat mempersilahkan Rania memasuki sebuah ruangan.


Revan ingin mendekat ke ruangan itu namun sayangnya kekasih Rania menunggu diluar membuat Revan tak bisa kembali mendekat.


Revan hanya menatap ruangan dari jauh, terlihat Vano Papa Revan memasuki ruangan yang baru saja di masuki oleh Rania. Terbesit ide di otak Revan untuk menanyakan langsung pada Papanya.


Akhirnya Revan berjalan kembali ke ruangan sang Papa. Revan ingin membuka pintu dan melihat Risha menatap nya dengan tatapan aneh.


"Ada apa?" tanya Revan cuek.


Sementara Risha hanya mengelengkan kepalanya membuat Revan mendesah pelan lalu memasuki ruangan sang Papa.


Dan benar saja, Tak berapa lama sang Papa kembali keruangan Revan dan terkejut melihat Revan ada disana.


"Ada apa son? kenapa kembali?" heran Vano.


"Ada yang ingin ku tanyakan Pa," Revan terlihat ragu menatap Vano "Ehm, wanita yang baru saja Papa periksa sakit apa?"


"Siapa? wanita mana?"


Revan sedikit kesal karena Papa nya tak langsung mengerti maksudnya, "Wanita yang baru saja datang itu temen aku pa, dia sakit apa?"


"Aah, wanita cantik itu? apa dia teman spesial?" tanya Vano sedikit mengoda.


"Ck, sudahlah Pa, jawab saja." Revan mulai kesal.


Vano terkekeh, "Lemah jantung, sudah 2kali dia periksa di sini." balas Vano yang membuat Revan sangat terkejut.


"Apa itu berbahaya Pa?" tanya Revan terlihat khawatir.


"Sangat, sebelumnya dia suka mengonsumsi obat tidur tanpa resep dokter. mungkin itu salah satu penyebab nya." jelas Vano yang lagi lagi membuat Revan terkejut.


"Obat tidur?"


"Jika di lihat dia memang sedikit depresi, mungkin itu salah satu alasan meminum obat tidur karena biasanya orang depresi memiliki gejala susah tidur."


Revan terdiam cukup lama, sepertinya Ia mengerti sekarang kenapa Rania mengonsumsi obat tidur. Melihat bagaimana ibunya memperlakukan Rania, cinta Rania yang ditolak oleh Ander selama bertahun tahun mungkin itu penyebab Rania depresi seperti itu.


"Kau terlihat sangat khawatir Son? apa benar jika dia spesial?" kekeh Vano.


"Tidak, hanya teman baik yang dulu suka membantu." balas Revan acuh.


"Ya ya, kau bisa saja membohongi Papa mu yang tua ini."


Revan hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Dulu dia datang kesini sendiri dan sekarang dia datang bersama kakaknya, mereka ter-"


"Papa bilang apa? kakak?" mata Revan melotot menatap Vano saking terkejutnya.


"Ya, pria yang bersama nya tadi kakaknya, Papa pikir kekasihnya ternyata malah kakaknya." jelas sang Papa dan entah mengapa membuat Revan semakin kesal.


"Dia membohongiku. sialan!" batin Revan mengepalkan tangan nya.


Revan segera bangkit, "Revan balik bengkel dulu ya Pa."


"Ck, kenapa buru buru lebih baik di sini saja dulu. kita bercerita tentang gadis gadis cantik." kata Vano sambil cengegesan.


"Jika Mama tau, bisa habis papa." kata Revan sebelum keluar dari ruangan membuat Vano terbahak.


Revan keluar dari ruangan Vano dengan pikiran kacau, ya tentu saja kacau. Rania memang benar benar pintar mengacaukan suasana hatinya.


....


Sore ini Ran mondar mandir didepan mobil yang masih terparkir di kantor. sekali lagi Ia melirik ke arah jam tangan nya, sudah hampir pukul 5 sore sebentar lagi toko bunga mungkin akan tutup dan Ran khawatir dengan Nana yang akan pulang mengingat pagi tadi Nana tidak membawa motor.


Dengan keberanian tinggi, Ran berjalan memasuki ruangan Ander. terlihat Ander masih membolak balikan berkasnya seperti belum minat untuk pulang.


"Ada apa?" tanya Ander saat melihat Ran berjalan mendekat.


"Tu-tuan tidak pulang?"


Jika dirinya ikut lembur, bagaimana nasib Nana? pikir Ran khawatir.


"Tu-tuan, boleh nggak kalau saya pergi keluar sebentar?" tanya Ran dengan gugup.


"Untuk apa? menjemput pacar baru mu itu?" tanya Ander sedikit menyentak membuat Ran terkejut dan langsung saja menunduk.


Ander menghela nafas panjang, segera Ia menutup berkas nya dan bangkit mengambil jas yang tersampir disofa.


"Kita pulang sekarang." Ran mendongak menatap tak percaya ke arah Ander yang berjalan keluar.


Dengan senyum mengembang, Ran berjalan mengikuti Ander dari belakang.


Sementara Ander tertawa geli melihat kebucinan Ran. Sebenarnya Ander sudah selesai dari tadi namun Ia sengaja mengerjai Ran dan tak menyangka saja Ran akan datang ke ruangan nya seperti tadi. cinta memang membuat seseorang kehilangan akal pikir Ander.


Beruntung toko baru saja tutup setelah mereka sampai, dan Ander meminta Ran membawa pulang motornya sementara Ander menyetir sendiri membawa mobilnya bersama Eliya.


Dengan perasaan senang karena kebaikan bos nya, Ran menunggu Nana keluar dari toko. Dan tak berapa lama pujaan hatinya yang membuat Ia gila akhir akhir ini pun sudah keluar toko dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku sudah menunggumu." kata Ran saat Nana berjalan mendekat.


Nana hanya mengangguk, terlihat sekali wajah Nana tidak seceria wajah Ran. "Aku bisa saja pulang naik ojek online."

__ADS_1


Ran hanya tersenyum, Ia memberikan helm pada Nana dan meminta Nana segera naik.


Dari jauh teman teman Nana bersorak mengoda Nana membuat pipi Nana memerah malu.


Nana yang baru saja naik, tangan nya ditarik oleh Ran agar memeluk Ran membuat Nana terkejut dan langsung saja memukul punggung Ran.


"Nanti jatuh kalau nggak pegangan." kekeh Ran.


Nana pun akhirnya menurut, memeluk Ran dari belakang.


Sepajang perjalanan Nana hanya diam hingga akhirnya Ran lah yang memulai obrolan.


"Kita makan dulu?"


"Langsung pulang saja." balas Nana singkat.


"Makan dulu." Ran sedikit memaksa.


"Jika kamu ingin makan, aku turun di sini saja biar nanti pesan ojek online." balas Nana acuh dan entah mengapa membuat Ran langsung diam.


Hingga keduanya sampai dirumah Nana, Ran masih diam membuat Nana sedikit heran. Apa Ran marah? pikir Nana.


"Eh nak ganteng kesini lagi. makasih lo udah nganter Nana." Ibu Nana keluar dari rumah dan menyambut Ran sumringah.


"Iya Bu, ehm saya pamit dulu ya Bu." kata Ran sopan.


"Eh masuk dulu, udah ibu bikinin sop iga sapi. ayo makan dulu." ajak Ibu Nana.


"Nggak usah maksa Bu, kalau mau balik." kata Nana.


"Saya permisi Bu." Ran mengambil tangan Ibu Nana langsung mencium nya dan segera pergi dari rumah Nana.


Dengan kesal Ibu Nana memukuli lengan Nana,


"Aduh bu, sakit."


"Kamu tuh bener bener deh Na, udah punya pacar ganteng gitu jangan jutek jutek. ditinggal baru tau rasa!"


Nana hanya memutar bola matanya malas, lagipula siapa juga yang pacaran dengan nya batin Nana.


.BERSAMBUNG...


kayaknya semakin kesini, like sama komen nya semakin turun ya...


apa ceritanya membosankan? hehe


Maaff jika jadwal update berantakan karena memang keaadaan sedang seperti ini, tidak memungkinkan untuk author begadang dan menulis rutin seperti biasa.

__ADS_1


maafkan author ya😔


__ADS_2