DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
112


__ADS_3

"Beneran sayang, semalem aku lihat ada kuntilanak dipohon besar itu. kayaknya aku bakal tebang pohonnya." kata Revan tak henti hentinya mengoceh masalah hantu sepagi ini membuat Rania kesal karena Ia juga merasa ketakutan.


"Kamu kok diem sih? kamu nggak percaya sama aku?" tanya Revan pada Rania yang hanya diam namun tangan nya sibuk membuatkan roti bakar untuknya.


"Bukan nggak percaya, aku kesel sama kamu. bisa bisanya ngomongin hantu sama aku!'' balas Rania dengan nada kesal.


"Maaf sayang, aku masih shock sampai lupa kalau kamu takut hantu,''


"oke oke, kita nggak usah bahas ini lagi. " kata Revan takut Rania ngambek.


"Percuma, aku udah terlanjur tau dan takut!'' Rania yang kesal akhirnya meletakan roti bakar didepan Revan lalu berjalan keluar.


''Ck, goblok banget gue malah bikin ngambek." omel Revan pada dirinya sendiri.


Rania berjalan keluar ke belakang rumah, masih terlalu pagi dan udara juga masih terasa sangat segar.


Rania menatap sekeliling, ada beberapa tanaman bunga yang terawat, dan samping taman buatan itu pohon besar yang baru saja diceritakan Revan membuat Rania bergindik melihatnya.


Namun mata Rania mendadak melihat ada benda aneh disamping pohon. Meski takut namun rasa penasaran Rania sangat tinggi membuat Rania mendekati pohon itu.


''Buat apa ini?" heran Rania melihat ada boneka buatan dari kain putih yang dipasang dibambu panjang, terlihat seperti boneka sawah.


"Non Rania." suara mang Ujang terdengar dari belakang Rania membuat Rania langsung berbalik.


"Non ngapain di sini?'' tanya mang Ujang dengan raut wajah takut.


"Ini apa mang? buat apa?"


"Eh anu non, itu...''


"Ini bukan buat ritual pesugihan kan mang?" tanya Rania terdengar menuduh.


''Eh enggak non, pesugihan apa sih Non." Mang Ujang semakin ketakutan.


"Trus ini apa?" Rania masih memaksa.


Mang ujang menghela nafas panjang, lebih baik Ia mengaku saja pada Rania dari pada Revan tau dan masalahnya semakin runyam. bisa bisa uang yang baru saja ditransfer oleh Tuan Vano diminta lagi jika sampai Revan tau.


"Jadi gini Non..."


Rania memasuki dapur dan melihat Revan masih asyik menikmati sarapan buatan nya, Ia memandang Revan sejenak lalu tertawa.


"Nggak jadi ngambek?" tanya Revan heran melihat Rania menertawakan dirinya tanpa sebab.


Rania menggeleng pelan lalu duduk disamping Revan.


"Papa kamu itu lucu banget sih." kata Rania tiba tiba membuat kening Revan mengerut.


"Papa kesini? mana?" Revan celinggukan mencari keberadaan Papa nya.


Rania menggeleng ''Nggak kesini, aku cuma mau bilang Papa kamu lucu."

__ADS_1


Revan berdecak ''Dia emang gitu, suka bercanda. kamu pasti inget guyonan papa pas di hotel kemarin ya?"


Rania kembali tertawa, melihat Revan tak tau apa yang membuat Rania tertawa.


Saya diminta sama Tuan Vano buat nakutin Den Revan Non, makanya buat kayak gitu sama anak saya. maaf Non jangan salah paham dan jangan bilang sama Den Revan ya Non. bisa bisa gaji saya diminta lagi sama Tuan Vano.


Rania benar benar tak menyangka, Papa mertuanya begitu usil bahkan dengan anaknya sendiri.


"Udah ah ketawanya, lagian juga udah berlalu juga." kata Revan menatap Rania yang masih saja tertawa.


....


Siang nya, Riska dan Vano berkunjung kerumah baru Revan dan Rania. bertepatan hari libur mereka memang ingin kumpul keluarga.


Rania dan Riska sibuk didapur dibantu bik Rum yang sudah datang. sementara Revan dan Vano terlihat mengobrol diruang tengah.


''Pa, dulu rumah ini papa beli udah jadi apa bangun sendiri sih?" tanya Revan.


"Dulu papa beli bekas orang, kenapa?"


''Pantesan aja." gumam Revan.


"Emang kenapa? kamu nggak suka?"


"Rumahnya horror banget pa." keluh Revan yang sontak saja membuat Vano tertawa.


"Kan, malah diketawain."


''Serius Pa, dipohon besar itu ada kuntilanak.''


"Pantes sih..."


''Pantes gimana Pa?''


''Dulu tu katanya memang ada yang gantung diri dipohon itu. mungkin itu yang sekarang jadi kuntilanak." jelas Vano membuat Revan langsung merinding.


''Papa kok jadi nakutin sih!" kesal Revan.


''Ck, Papa kan cuma ceritain aja." Vano terlihat santai, dalam hati Vano ingin terbahak sekeras kerasnya melihat Revan begitu penakut.


"Lagi pada ngomongin apa sih?" Riska datang membawa satu piring pisang goreng yang masih hangat.


"Itu Ma, Papa nakutin Revan."


"Nakutin gimana sih, orang Papa cuma ngejelasin aja." Kata Vano membela diri.


"Ngejelasin apa emang?" Riska penasaran diikuti Rania yang kini menyusul duduk disamping Revan.


"Papa bilang ada yang gantung diri dipohon besar samping rumah makanya ada kuntilanaknya." jelas Revan mengebu yang seketika membuat Vano, Rania serta Riska terbahak.


Revan menatap ketiganya bergantian dengan tatapan kesal, Ia benar benar katakutan sekarang bisa bisanya mereka malah menertawakan dirinya.

__ADS_1


Sementara Rania yang tak bisa menahan tawanya benar benar tak menyangka jika keusilan Papa mertuanya berlanjut.


''Mana ada hantu, lagian ini rumah baru aja selesai dibangun sama Papa. Masa iya ada yang bunuh diri disini." kata Riska masih tertawa.


Revan menatap ke arah Vano kesal, " Papa ngerjain aku?"


"Katanya nggak takut," cibir Rania.


"Kamu ngebelain Papa?" Revan menatap Rania kesal sebelum Ia bangkit dan pergi meninggalkan ruang tengah.


Vano masih saja terbahak, "Pa udah deh, kamu tuh usil banget." kata Riska.


"Anak kamu aja tuh yang penakut." balas Vano.


"Dia anak kamu juga!" kesal Riska memukul lengan Vano yang masih terbahak.


Rania menatap kedua mertuanya, membuat hatinya menghangat. Ia benar benar sangat bersyukur setelah sekian lama tak pernah merasakan kehangatan keluarga setelah Neneknya meninggal. Kini Ia bisa kembali menikmati rasa itu.


Rania memasuki kamar, melihat Revan sibuk dengan ponselnya. segera Rania mendekati Revan dan duduk disamping Revan.


"Ciee yang lagi marah." goda Rania namun Revan tak mengubris malah semakin fokus main game.


"Kamu kalau kayak gini keliatan kayak anak kecil tau." kata Rania lagi.


"Mama sama Papa masih di sini, malah ditinggal ke kamar."


Revan meletakan ponselnya, "Bete dikerjain trus sama Papa."


"Bete karena kamu nggak bisa bales?" ejek Rania.


"Kan, kamu juga nyebelin." dengus Revan membuat Rania terkekeh.


"Nggak usah marah lah, harusnta kamu bersyukur masih memiliki keluarga utuh, yang sayang sama kamu dan bisa memberikan kehangatan hati kita." kata Rania yang langsung membuat Revan menatap Rania lekat lekat.


Revan baru menyadari jika istrinya kurang kasih sayang dari keluarganya, seketika Revan langsung memeluk Rania.


"Udah udah, aku di sini bakal bikin kamu bahagia. nggak usah di inget inget lagi." kata Revan.


Tanpa disadari, air mata Rania menetes membasahi baju yang dipakai Revan.


BERSAMBUNG...


Ada yang setuju nggak kalau Randi dan Risha kita sumpelin di sini aja hehe..


aku bener bener lagi sibuk banget gaess.. kyae bakal susah bikin novel baru...


Nggak aneh juga kan karena emng judul sama novel ini buat ceritain anak anak dari istri kedua tuan alex..


jadi gimana nih? aku minta saran dari kalian yaaa..


makasih buat yang mau jawab...

__ADS_1


__ADS_2