DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
82


__ADS_3

Vano berjalan ke ruangan nya, melihat meja aisten pribadinya kosong, Ia melirik jam tangan dan mengangguk sudah waktunya makan siang ternyata batinnya.


Vano membuka pintu ruangan dan terkejut melihat Revan duduk disofa miliknya dan tengah memainkan ponselnya.


"Kau sudah datang son?" tanya Vano melepaskan jas putihnya dan meletakan digantungan baju.


Revan yang melihat Papa nya sudah datang pun segera mematikan ponselnya dan berdiri.


"Sudah ku antarkan, aku balik ke bengkel ya Pa?" kata Revan sedikit malas.


"No, kita makan siang bersama dulu. sudah lama nggak makan siang bareng juga kan?" ajak Vano yang kini sudah berada disamping Revan, menepuk bahu Revan dan mengajaknya kembali duduk.


Dengan nafas berat, Revan mengikuti kemauan sang Papa.


"Bekal nya aja cuma seporsi, mana cukup buat buat berdua Pa," protes Revan.


"Tenang, bentar lagi dateng kok makanan kesukaan kamu." kata Vano membuat Revan mengerutkan keningnya tak mengerti.


Tak berapa lama, pintu ruangan diketuk seseorang membuat Vano tersenyum dan mengatakan dengan lantang masuk aja Sha.


Dan asisten Vano itupun masuk membawa satu kotak makanan berlogo restoran kesukaan Revan.


"Maaf pak jika lama." kata wanita itu meletakan makanan di meja depan sofa yang mereka duduki.


"Nggak masalah." kata Vano yang sudah mulai makan.


"Saya permisi pak."


"Eh Sha, udah tau belum ini anak saya." kata Vano lagi lagi menepuk bahu Revan untuk memperkenalkan pada asisten barunya itu.


Dengan senyum yang dipaksakan wanita itu menjawab dengan sopan, "Sudah kok pak."


"Sudah kenalan ternyata ya." kata Vano melirik ke arah Revan dengan senyuman yang menurut Revan aneh.


"Saya permisi pak." pamit wanita itu yang merasa sudah tak nyaman berada di ruangan Vano.


"Ya, nikmati makan siang mu." kata Vano membuat wanita itu kembali berbalik dan tersenyum ke arah Vano.


Revan tak peduli dengan tatapan sang Papa, Ia memilih membuka makanan yang baru saja dibawa wanita tadi. sampai di sini Ia sudah cukup mengerti apa maksud sang Papa meminta nya datang setiap hari.


"Gimana Risha?" tanya Vano menatap Revan yang acuh padanya.


Oh jadi namanya Risha batin Revan.


"Risha siapa Pa?" tanya Revan pura pura tak tau.

__ADS_1


"Asisten baru papa barusan."


"Oh, biasa aja." balas Revan acuh membuat Vano terkekeh.


"Sayang banget, padahal nggak ada duanya." kata Vano membuat Revan menatap tajam ke arahnya.


"Papa suka sama dia?"


Vano kembali terkekeh, "Apa menurut kamu dia akan menerima Papa yang sudah Tua ini son?"


"Mungkin aja kan, wanita mana yang nggak mau sama papa." tuduh Revan terlihat khawatir melihat Papa nya yang masih sangat tampan di usia nya yang sudah 50tahun.


Vano kembali terkekeh, "Benarkah seperti itu? jadi apa Papa coba saja menyatakan perasaan pada nya ya."


Revan menatap tajam, tak terima dengan ucapan Vano, "Papa mau mengkhianati mama?"


Vano kembali terkekeh, "Oh ayolah son, Papa hanya bercanda. jadi santai saja oke?"


"Lagian Mama itu wanita pertama dan satu satunya. tak akan pernah terganti." jelas Vano membuat raut wajah Revan terlihat lega.


"Papa sengaja nyuruh aku kesini cuma mau ngenalin ke cewek itu tadi?" tanya Revan acuh dan mulai kembali menikmati makan siangnya.


"Duh ketauan ya." balas Vano sambil tertawa.


"Revan nggak akan tertarik Pa,"


Revan masih tetap acuh, Ia cukup sadar diri wanita itu terlihat baik tidak sepadan dengan dirinya yang berandal ini apalagi Revan juga pernah meniduri wanita, oh tidak Revan tak pantas mendapatkan wanita sebaik itu.


Selesai makan siang, Revan keluar dari ruangan papanya, Ia menyempatkan melihat ke arah wanita berhijab yang sedang menunduk fokus dengan berkasnya itu.


Revan sedikit mendekat dan melihat nama panjang wanita itu, Risha Regganis Ayu. Nama yang cukup unik batin Revan.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu terdengar datar namun masih terdengar sangat lembut.


Bukan nya menjawab, Revan segera saja pergi meninggalkan Risha membuat Risha menatap tak percaya ke arah Revan.


"Sebenarnya ada apa dengan dia itu?" gerutu Risha heran dengan sikap Revan.


Revan berjalan cepat ke arah luar, dan saat Ia sudah berada disamping mobilnya mata Revan tak sengaja melihat seseorang yang tak asing sedang berjalan dipapah oleh seorang pria. wajah orang itu terlihat sangat pucat memasuki klinik papa nya, karena penasaran Revan akhirnya kembali memasuki klinik sang Papa dan mengikuti dua orang yang tak asing untuknya itu.


....


Ander membuka pintu, keluar dari ruangan nya namun dikejutkan oleh Ran yang hendak masuk ke ruangan Ander.


"Tuan, mau makan siang?" tanya Ran dengan senyum mengembang. seperti sudah menanti sejak tadi.

__ADS_1


"Ya, kenapa? kau antarkan aku sekarang." kata Ander acuh melewati Ran.


"Siap Tuan."


Dengan wajah girang, Ran mengikuti Ander dari belakang berjalan keluar kantor.


"Kita beli nasi padang ditempat biasa Tuan? apa Tuan akan mengajak Nona makan diluar?" tanya Ran kala keduanya sudah berada didalam mobil.


"Kita tidak akan ke toko siang ini," jelas Ander acuh sambil menatap ipad nya.


"Kenapa Tuan?" Ran terlihat sangat terkejut.


Ander menghela nafas panjang lalu meletakan ipad, "Ya karena hari ini aku ada meeting dengan klien di hotel bumi asri. Apa Naya belum memberitahumu?"


"Ti-tidak Tuan, Naya belum memberitahu saya."


"Ck, teledor sekali Naya." gerutu Ander.


"Jadi sekarang kita makan siang di hotel bumi asri Tuan?" tanya Ran sekali lagi sebelum Ia melajukan mobilnya.


Lagi lagi Ander menghela nafas, "Tentu saja kita akan kesana, kemana lagi. kau ini kenapa?"


"Ti-tidak tuan, maafkan saya." Ran segera melajukan mobilnya sebelum Ia diamuk oleh Ander.


Dalam hati Ran sangat kesal dan menggerutu, "Sial, gagal sudah rencanaku untuk mengajak Nana makan siang."


Sementara di belakang, Ander mengulum senyum ia menahan diri untuk tidak menertawakan Ran yang terlihat kesal.


"Ternyata asik juga mengerjai orang bucin." batin Ander.


Sesampainya didepan hotel Ander segera memasuki hotel sedangkan Ran menunggu dimobil.


Jam 12 siang, biasanya Nana sedang istirahat di jam seperti ini, Ran mencoba mendial nomer Nana namun sayang hingga ketiga kalinya Nana tak menjawab panggilan nya dan akhirnya Ran memilih mengirimkan pesan pada Nana,


Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang, tapi gagal karena bos Ander ada meeting di hotel. maafkan aku sayang, makan sianglah sendiri jangan menunggu ku.


Sedetik kemudian pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Nana namun tak kunjung mendapatkan balasan hingga akhirnya Ran kembali mengirimi pesan.


Sayang, apa kau marah padaku?"


Sementara di toko, Nana terlihat mengomel melihat pesan yang di kirimkan oleh Ran.


"Dasar pria gila, memangnya siapa yang sedang menunggunya!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA.


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA BUAT PARA READDERSS YANG SEDANG MERAYAKAN ...


__ADS_2