
Selesai mandi, Rania duduk dipinggir ranjang masih memakai jubah mandi. Matanya Rania terlihat kosong, seperti tak ada kebahagiaan padahal hari ini hari pernikahan dirinya, yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya.
"Kenapa sayang? ada yang sakit?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir melihat Rania duduk melamun.
"Sedih aku, Mama nggak datang." ucap Rania dengan suara serak seperti ingin menangis.
Revan langsung saja memeluk Rania membuat air mata Rania langsung saja tumpah, menangis terisak dipelukan Revan.
"Apa sebegitu nggak pentingnya aku ya, sampai Mama nggak datang."
"Sudah sayang, sudah... mungkin mama lagi sibuk jadi nggak bisa datang." Revan mencoba memberi pengertian pada Rania.
"Sibuk dengan kekasih mudanya." sinis Rania.
Revan segera menyeka air mata Rania, "Masa malam pertama harus sedih terus gini sih, mendingan kitaa... aduh." Rania kembali mencubit pinggang Revan dan tersenyum.
"Nah gini dong, kalau senyum gini kan cantiknya nambah." rayu Revan yang lagi lagi membuat Rania tersenyum.
"Ya udah mendingan sekarang istirahat, kasihan dedek bayinya." kata Revan sambil mengelus perut Rania yang masih rata.
"Tapi sekarang aku laper." ucap Rania dengan nada manja.
"Barusan selesai makan, masa laper lagi?" heran Revan sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi aku nggak boleh makan lagi?" protes Rania terlihat mrenggut.
"Bolehlah, ya udah sayangku mau makan apa?" Revan berdiri hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi pelayan hotel.
"Seblak, aku mau seblak endes." balas Rania membuat Revan menatap Rania,
Seingat Revan, Seblak endes itu nama warung pinggir jalan yang memang menyediakan menu seblak.
"Aku kayak pernah denger nama seblak endes." gumam Revan mencoba meyakinkan memang itu yang dimaksud Rania.
"Itu lho warung seblak yang ada dideket kafe ku. aku pengen makan seblak itu jadi beliin ya?" pinta Rania dengan wajah memohon.
"Tapi itu makanan pinggir jalan, apa nggak apa apa kamu makan itu?"
"Nggak apa apa, aku pengen nya makan itu. jadi sana beliin." paksa Rania.
"Oke aku minta resto hotel biar bikinin kamu seblak." kata Revan yang langsung di gelengi Rania.
"No, aku maunya seblak ditempat itu. nggak mau ditempat lain."
Revan menghela nafas panjang, "Ya udah Bentar aku cek di gofood, kali aja bisa order lewat gofood." Revan hendak menscroll layar ponselnya namun ponselnya malah direbut oleh Rania.
__ADS_1
"Aku nggak mau pesen lewat gofood, maunya kamu yang kesana beliin aku." ucap Rania menyembunyikan ponsel Revan dibelakang punggungnya.
"Ya ampun sayang, please nggak usah aneh aneh. ini udah malem dan ini juga malam pertama kita, bisa bisanya kamu malah nyuruh aku-"
"Jadi kamu nggak mau?" tanya Rania dengan mata memerah seperti ingin menangis membuat Revan benar benar keheranan dengan sifat Rania yang mendadak berubah kekanakan.
"Kamu nggak mau beliin aku seblak itu?" Rania sedikit terisak.
"Iya iya sayang, aku beliin tapi please jangan nangis lagi. oke?" Revan pun segera bangkit dan keluar dari kamar hotelnya hanya mengenakan piyama tidur saja.
Revan berjalan keluar dengan raut wajah masih bingung, benar benar tak menyangka Rania ternyata semanja ini.
"Mau kemana kamu?" suara Vano membuyarkan lamunan Revan.
"Eh papa..." Revan terkejut melihat Vano yang baru saja dari luar hotel tempat mereka menginap.
"Kamu itu mau kemana? ini malam pertama kamu bisa bisanya malah keluyuran." ucap Vano terdengar kesal.
"Ck, papa jangan marah marah dong!" balas Revan dengan wajah malas "Aku maunya juga nggak keluyuran Pa, tapi tau tuh si Rania aneh aneh masa malem gini minta seblak Pa, mana jauh lagi." adu Revan yang langsung membuat Vano terbahak.
Revan menatap ke arah Vano heran, "Papa kok malah ketawa sih?"
"Sukurin, makanya jangan bikin bunting anak orang." ucap Vano membuat Revan melotot.
"Shhttt... Pa jangan keras keras, malu." kesal Revan melihat orang sekitar yang menatap ke arah Revan dan Vano.
"Tunggu, Papa belum selesai ngomong."
"Apa lagi sih pa?" Revan menatap Vano kesal.
"Kamu yang ikhlas, istri kamu lagi ngidam tuh. harus dapet kalau nggak dapet bisa ngiler anak kamu ntar."
"Haaa? seriusan Pa? jadi itu yang dimaksud ngidam?" Revan kembali berlari mendekati Vano.
"Iya, kalau minta aneh aneh biasanya ngidam. ck kamu percuma Papa sekolahin kalau kayak gini aja nggak tau."
Revan kembali menatap Vano sebal, "Lagian disekolah mana ada pelajaran arti ngidam, udahlah Revan mau beli seblaknya aja dari pada ntar nggak dapet. emang Papa mau cucu pertama Papa ileran?"
"Ya nggaklah, udah sana keburu tutup nyaho ntar."
Revan segera memasuki mobilnya dan melajukan menuju warung seblak endes. Dan sedikit menegangkan karena saat Revan sampai warung seblak sudah hampir tutup.
"Maaf mas, kami udah tutup." kata bapak penjual seblak.
"Tapi bahan nya masih kan pak?" tanya Revan
__ADS_1
"Masih, tapi memang jam segini kami tutupnya."
"Pak please, bikinin seporsi saja. Istri saya ngidam pak mau seblak buatan bapaknya." pinta Revan dengan nada memohon.
"Waduh, gimana ya mas. udah dimasukin semua dimobil bahan nya." kata Bapak penjual seblak.
"Pak, please... saya mohon. istri saya beneran lagi ngidam. saya bayar 5x lipat deh." ucap Revan.
"Ya udah mas, sebenarnya saya udah tutup tapi karena kasihan istrinya mas ngidam jadi saya buatin lagi deh." ucap Bapak itu membuat Revan terlihat lega.
"Tapi bener ya mas mau bayar 5x lipat?"
Revan segera saja mengeluarkan uang ratusan 2lembar didompetnya, "Ini pak, malah 10x lipat dari harganya yang penting buatin seblaknya, yang enak."
"Alhamdulilah, rejeki nomplok ini." kata bapak itu terlihat senang.
"Makasih ya mas, sering sering beli disini."
Revan hanya tersenyum menanggapi Bapak penjual seblak itu.
...
"Mas, ngapain sih senyum senyum?" tanya Riska saat Vano memasuki kamar hotel mereka. Tadinya Vano pamit ingin menemui teman nya diluar hotel membuat Riska curiga siapa yang baru saja ditemui oleh suaminya itu hingga membuat suaminya tersenyum senang seperti ini.
"Barusan ketemu Revan."
"Terus?'
"Dia lagi bingung nurutin ngidamnya Rania." kekeh Vano yang juga membuat Riska tersenyum senang.
"Rania ngidam?"
"Iya, minta seblak yang deket sama kafe nya dia. makanya si Revan bingung."
"Dan malah kamu ketawain?" Riska menatap sebal Vano.
"Ya iyalah, trus aku harus gimana?"
"Ih mas jahat banget deh, bantuin nyari kasian kan Revan nya masih awam nurutin istrinya ngidam."
"Lah, dia bikin anak aja Papa nggak diajak, giliran susah masa mau ngajakin Papa."
"Mas kamu tuh bener bener deh!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN