DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
95


__ADS_3

Pagi ini Ander sarapan sendirian karena Eliya lebih dulu sarapan dan sekarang Eliya sedang berada dikamar mereka untuk mandi dan bersiap berangkat kerja.


Meski sudah hampir 5bulan usia kandungan Eliya namun tetap saja Eliya masih ingin bekerja, bosan katanya jika hanya dirumah saja. padahal Ander sangat mengkhawtirkan keadaan Eliya jika masih terus bekerja namun sekali lagi Eliya mampu meyakinkan Ander jika semuanya akan baik baik saja.


Dan sekarang Eliya keluar dari kamar sudah berpakaian rapi dan siap berangkat namun Eliya memasang wajah cemberut, bukan tanpa sebab Eliya seperti itu bahkan Ia sarapan lebih dulu untuk mencoba menghindarinya karena Eliya sedang marah padanya, ya sedang marah.


Mungkin karena usia kehamilan yang semakin tua membuat Eliya mudah kesal dan marah jika Ander melakukan kesalahan sedikit saja.


Hanya sepele karena Ander sudah menjenguk Revan di siang hari kemarin tanpa mengajak Eliya membuat Eliya kesal pada Ander.


Bukan Ander tak ingin mengajak Eliya, Ander memang sengaja menjenguk Revan di siang hari agar saat sore Ia bisa pulang bersama istrinya dan istirahat tanpa perlu ke tempat Revan lagi .


Karena Ander benar benar tak tega jika melihat Eliya yang sudah lelah seharian bekerja masih harus diajak ke klinik.


Namun kenyataan nya, Bukannya diterima baik oleh Eliya, malah Eliya marah padanya.


Wanita memang benar benar sulit ditebak.


"Nanti sore ada jadwal periksa kandungan kan?" tanya Ander mengandeng paksa tangan Eliya saat keduanya berjalan keluar apartemen.


Eliya hanya mengangguk pelan sambil terus berjalan,


Keduanya memasuki mobil dimana sudah ada Ran didepan.


"Berangkat sekarang Tuan?"


"Tidak! tahun depan." balas Ander membuat Eliya tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.


"Apa kau tersenyum sayang?" goda Ander yang langsung membuat Eliya kembali cemberut.


Ander tersenyum dan mengelus rambut Eliya.


Mobil berhenti tepat didepan klinik Vano membuat Eliya mengerutkan keningnya heran, "Kenapa berhenti di sini?"

__ADS_1


"Bukan nya kita mau check up kandungan?"


"Ayo kita check up disini dan sekalian menjenguk Revan, agar istriku ini berhenti ngambek." kata Ander sambil menoel pipi Eliya.


"Ck, terlambat." Eliya masih kesal membuat Ander hanya bisa menghela nafas sabar.


"Maafkan aku, mengertilah. aku hanya tidak ingin kamu kelelahan sayang." jelas Ander yang membuat Eliya tersenyum.


"Ciee, istriku udah nggak ngambek."


"Apa sih mas, dahlah turun aja." Eliya keluar lebih dulu meninggalkan Ander yang mengodanya lalu Ander pun ikut menyusul Eliya keluar.


Sementara didepan, Ran yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa geleng geleng kepala sambil membayangkan, apakah dirinya nanti juga akan mengalami fase seperti itu bersama Nana? Ran tersenyum malu membayangkan dirinya bersama Nana.


Eliya dan Ander berjalan berdampingan, Tangan Ander terus saja mengenggam tangan Eliya. Tak ingin melepaskan tangan Eliya meskipun Eliya minta dilepaskan karena keduanya menjadi tontonan orang orang yang ada di klinik.


Keduanya berjalan ke ruangan Revan, sebelum memeriksakan kandungannya, Eliya ingin ke tempat Revan lebih dulu namun keduanya malah berpapasan dengan Om Vano dan Tante Riska.


"Lho, kalian mau kemana?" tanya Vano pada Eliya dan Ander.


"Udah balik," jawab Tante Riska "Kalau kalian mau ketemu Revan nanti aja, soalnya lagi ada tamu tuh."


"Tamu? siapa?"


"Cewek yang kemarin. tau nggak sih dia siapa nya Revan?" Vano mulai penasaran, pasalnya baik Rania maupun Revan hanya mengaku sebagai teman saja.


"Ck, ngapain dia datang kesini lagi." gerutu Ander membuat semua orang penasaran melihat ketidaksukaan Ander pada Rania.


"Kamu kok ngomongnya gitu? memangnya kalian saling mengenal?" heran Riska.


"Siapa sih mas?" bisik Eliya mulai penasaran dengan orang yang sedang dibicarakan.


"Ya udahlah Om. Tante. kalau lagi ada tamu kita mau check up kandungan dulu aja. nanti kesitu lagi." kata Ander mengandeng tangan Eliya dan mengajaknya berbalik keruangan Kia.

__ADS_1


"Eh nggak mau diperiksa sama Om aja?" tawar Vano.


"Nggaklah, bisa shock nanti anak aku diliat sama om."


"Dasar ponakan sialan!" teriak Vano membuat Ander terkekeh.


..


Rania masih saja diam, duduk dikursi samping ranjang Revan dan memandangi Revan yang masih terlelap.


Mengingat baru saja, saat Ia datang Dokter Vano menyambutnya ramah juga Mama Revan langsung meminta nya masuk dan meninggalkan dirinya disini seolah tak ingin menganggu Rania dan Revan.


Bahagianya Revan memiliki orangtua yang begitu peduli padanya membuat hatinya sedikit menghangat mendapat sambutan baik dari orangtua Revan. Berbanding balik dengan dirinya yang mempunyai orangtua namun sama sekali tak memperdulikannya.


Dan bagaimana jika orangtua Revan mengetahui kehamilannya? apakah mereka masih seramah tadi atau malah berubah kecewa padanya?


Entahlah, rasanya Rania malah semakin takut untuk mengungkapkan semuanya meski Rania tak yakin jika Ia bisa menjalani semuanya sendiri.


Rania masih menatapi Revan hingga mata Revan perlahan terbuka dan terkejut kala melihat Rania duduk disampingnya, menunggu dirinya tidur.


"Ran? ngapain kamu disini?" tanya Revan mengucek matanya, mencoba menyadarkan penglihatan nya dan sadar jika memang yang ada disampingnya adalah Rania bukan karena kehaluan nya.


"Nemenin kamu." balas Rania sambil tersenyum.


"Pergi aja Ran, gue udah nggak mau ganggu Lo lagi," kata Ander memalingkan wajahnya.


"Apa kamu yakin nggak mau ketemu aku setelah lihat ini?" tanya Rania mengeluarkan 5 tespack garis dua yang ada didalam tasnya dan meletakan diperut Revan.


Revan membelalakan matanya melihat benda bergaris dua itu.


"Benarkah sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah?"


bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2