
Pagi harinya, Rania sudah datang ke rumah tiga berandal dengan membawa sayur yang baru saja Ia beli dari abang tukang sayur keliling.
"Serius nih nggak ngerepotin?" tanya Ander kala membuka pintu dan melihat Rania datang dengan membawa plastik berisi sayuran hijau.
"Nggak kok santai aja," Rania tersenyum ke arah Ander yang baru saja bangun tidur.
"Gue kira Lo bercanda semalem, eh ternyata beneran kesini!"
"Aku nggak bercanda, serius."
Ander tersenyum dan mempersilahkan Rania masuk,
"Gue mandi dulu nggak apa apa kan?"
"Iya, nggak apa apa. aku langsung masak ya?"
Ander mengangguk dan membiarkan Rania berkutat di dapur sendiri.
"Gue pikir ada kuntilanak di sini," celetuk Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan kaus lengan pendek serta celana kolor rumahan, Rambutnya yang masih basah menetes membasahi kaus yang dipakai Revan.
"Ngapain Lo ngeliatin gue gitu? naksir?" tanya Revan sambil cengengesan.
"Selain penipu ternyata rasa percaya diri kamu tinggi juga ya?" ejek Rania dengan nada datar.
"Maksud Lo?"
Rania tak mengatakan apapun, Ia kembali sibuk memotong sayuran yang akan Ia masak.
"Masak yang enak, gue nggak mau kalau nggak enak." celetuk Revan kemudian berlalu pergi meninggalkan Rania yang terlihat kesal.
"Huft, sabar Rania, sabar..."
10 menit berlalu, Ander yang baru saja selesai mandi pun mendekati Rania yang masih sibuk di dapur.
"Gue mau bantuin."
Rania terkejut namun Ia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dan bersikap biasa.
"Kamu bolak balik tempe nya aja biar nggak gosong." kata Rania tak melihat ke arah Ander.
Ander mengangguk, diam diam Rania melirik ke arah Ander yang mulai sibuk membolak balikan tempe dipengorengan.
"Kamu biasa masak?" tanya Ander memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Iya, soalnya aku di kota tinggal sendiri jadi ya biasa masak sendiri di kos." jelas Rania.
"Lo ngekos? nggak tinggal sama bokap nyokap?"
"Orangtua aku bisnis di luar negeri, mereka jarang pulang. aku nggak mau kesepian dirumah jadi aku milih kos dan kerja partime biar nggak kesepian." jelas Rania sambil tersenyum masam.
"Sorry kalau Lo nggak nyaman gue tanyain masalah pribadi kayak gini!"
Entah mengapa melihat senyum masam Rania membuat Ander merasa bersalah.
__ADS_1
"Ck, nggak masalah kok. Oh ya Lo dari kota juga? kata Nenek gue kalian bukan orang sini?"
Ander mengangguk "Iya, gue cuma lagi dihukum dan tinggal di sini!"
Rania membegap mulutnya "Jadi kalian ini anak orang kaya?"
Ander hanya tersenyum tak membalas ucapan Rania.
"Udah dibilangin, Lo nya ngeyel." suara Revan terdengar menjawab pertanyaan Rania.
Rania hanya mendengus kesal menatap ke arah Revan yang ikut nimbrung didapur.
Merasa kehadirannya tidak dibutuhkan oleh Rania membuat Revan semakin gencar berada disana agar Rania semakin kesal.
"Masak apa nih? wah tempe goreng." celetuk Revan dengan suara dibuat buat membuat Rania kesal mendengarnya sementara Ander hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bocah adiknya itu.
"Lo bangunin Randi sana." usir Ander.
"Ogah, sini biar gue yang bolak balik tempenya." ucapan Revan tentu membuat Rania kembali kesal. pasalnya Rania ingin berduaan dengan Ander malah diganggu oleh si tengil Revan.
"Ya udah nih, gue bangunin Randi dulu." Ander segera pergi dari dapur membuat Rania tak terima dan melotot ke arah Revan.
"Ngapain Lo melototin gue? naksir?"
Rania memutar bola matanya malas, lalu kembali mengiris bumbu tak memperdulikan suara yang keluar dari mulut Revan.
Tadaa...
"Perasaan Lo cuma bantuin goreng tempe deh!" protes Rania tak terima.
"Tetep aja, gue bantuin masak kan?"
Rania hanya memutar bola matanya malas, Kembali fokus menatap Ander yang sedang mengambil nasi lengkap dengan oseng kangkung dan tempe goreng.
"Kalian doyan kan makan beginian?" tanya Rania ragu takut jika ketiga berandal tak menyukai makanan sederhana seperti ini.
"Tenang aja, kita suka kok makanannya. lagian ini enak banget!" puji Ander yang membuat Rania tersipu malu.
"Biasa aja sih, ya lumayan lah nggak buruk buruk amat masih bisa dimakan." celetuk Revan yang lagi lagi menghilangkan senyuman diwajah Rania.
"Dasar cowok nggak tau malu plus nyebelin."
"Eh gue denger ya!"
"Bodo!" ketus Rania.
Ander hanya melonggo menatap kedua orang yang bertengkar didepannya, sementara Randi terlihat acuh dan menikmati makanannya.
"Udah, habisin makanan nya trus kita ke kandang takut nanti telat." Ander mengingatkan.
Rania menurut dan kembali menikmati sarapannya, begitu juga dengan Revan.
Selesai sarapan, mereka ber empat akhirnya berangkat ke kandang dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Rania dan Revan berjalan mengawali dan Ander serta Rendi berada dibelakang mereka.
"Kalian baru sampai?" tanya Mbah Mirah yang sudah berada dikandang.
"Kita belum telat kan mbah?" Ander terlihat khawatir.
Mbah Mirah hanya menggelengkan kepalanya, "Kalian datang tepat waktu."
Ketiga berandal lega setelah mendengar jawaban mbah Mirah.
"Jadi hari ini kita ngapain mbah? ngarit lagi?" tanya Revan terdengar tidak sabar.
Mbah Mirah menggelengkan kepalanya "Hari ini tugas kalian mandiin sapi trus nanti sore merah susu sapinya." kata Mbah Mirah membuat ketiga berandal melonggo, Rania yang melihat raut wajah ketiga berandal itu hanya bisa tertawa.
"Biar nanti Rania yang ngajarin kalian bertiga, biar dia anak gadis tapi dia jago ngerawat sapi di sini." puji Mbahh Mirah.
"Ya iyalah, cucu nya gitu ya udah pasti dipuji!" gumam Revan pelan namun masih bisa didengar Rania membuat Rania kesal dan menendang kaki Revan.
Aduh...
Semua mata kini memandang ke arah Revan meminta penjelasan karena suara Revan mengejutkan mereka.
"Banyak semut mbah dibawah." Revan pura pura mengaruk kakinya membuat Mbah Mirah hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu mbah tinggal, kalian mulai kerja." kata Mbah Mirah yang langsung diangguki ketiganya.
Ketiganya memasuki kandang, Rania membawa selang yang akan digunakan untuk memandikan sapinya.
"Kalian udah pernah mandiin hewan apa belum? hewan apa aja?" tanya Rania.
"Gue pernah mandiin ikan koi dikolam bokap gue!" celetuk Revan membuat semua mata melotot ke arahnya.
"Lo itu serius dikit kenapa sih? jangan bikin kesel orang." Ander mengingatkan Revan dan entah mengapa lagi lagi membuat Rania salah tingkah dan tersipu malu merasa Ander membelanya.
"Ck, lebih seru biar nggak tegang amat." balas Revan santai.
"Gue mulai aja ya!" Rania pun mulai mempraktekan mencuci sapinya,
"Gitu doang gampang." Lagi lagi Revan bersuara.
"Ya udah, sana ambil selang dan cuci sapi sebelah sana." Rania menatap kesal Revan.
Tak menjawab, Revan segera mengambil selang dan segera memilih sapi yang Ia cuci.
"Apa Lo liat liat?" sentak Revan kala sapi yang Ia cuci tengah menatap ke arahnya.
"Dasar sapi ngrepotin aja Lo!" gerutu Revan.
"Lo nggak gila kan?" suara Rania terdengar di belakang Revan.
BERSAMBUNG....
likevotendankomen
__ADS_1