
Rania pergi kerumah Mama nya ditemani Ricky sang Kakak. Setelah menceritakan semua pada Ricky membuat Rickk emosi dan ingin menemui Revan Namun Rania menjelaskan lagi jika Revan sedang dirawat karena sakit dan Revan juga sudah akan mempertanggung jawabkan perbuatannya membuat Ricky mengurungkan niat untuk menghabisi pria yang telah menghamili adiknya itu.
Dan sekarang, Rania hanya meminta Ricky untuk menemani dirinya menemui sang Mama sekaligus meminta restu dari Mama karena sejak awal Mama nya memang tak merestui hubungan Rania dan Revan. Mama nya masih kekeh ingin menjodohkan Rania pada Pria tua bangka yang kaya raya pilihan sang Mama.
"Apa? jadi kamu hamil?" Mama menatap Rania tak percaya, saat Rania mencoba menjelaskan pada Mamanya.
Plak.... satu tamparan mendarat ke pipi Rania.
"Bisa bisanya kamu hamil sama pria ingusan yang nggak aka ngasih kamu apa apa!"
"Bukannya Mama udah bilang akan menjodohkan kamu sama Om Ferdi!"
Rania hanya mengepalkan tangannya, ingin menangis namun tak ingin terlihat lemah dimata Mama nya.
"Hancur sudah rencana mama!"
Ricky yang tak tahan lagi dengan perlakuan sang Mama akhirnya bangkit dan hendak mengajak Rania pergi saja. Karena rasanya percuma berdebat dengan orangtua yang sama sekali tak memiliki hati. buang buang waktu.
"Mau kemana kalian, mama belum selesai bicara!"
"Kita nggak butuh bicara sama Mama lagi, nggak butuh restu dari Mama lagi."
"Mama mau setuju atau enggak, Ricky bakal tetep nikahin Rania sama Revan!" kata Ricky mengandeng tangan Adiknya hendak mengajaknya keluar namun sayang sang Mama lebih dulu meraih tangan Rania dan membanting Rania kesamping hingga Rania jatuh ke lantai.
"APA MAMA GILA!" bentak Ricky benar benar sudah tak tahan lagi.
"Mau nggak mau, kamu harus gugurin kandungan kamu dan nikah sama om Ferdi!"
"Mama jangan gila! kalau mama memang suka sama pria tua bangka itu kenapa nggak mama aja yang nikah sama dia." ucap Ricky dengan suara lebih pelan sementara Rania tak tahan lagi akhirnya Ia menangis di lantai.
Benar benar tak menyangka Mama nya akan sejahat ini pada Rania, putrinya sendiri.
__ADS_1
"Karena dia lebih milih Rania dari pada Mama, jadi Rania harus nikah sama om Ferdi! kalau Rania nggak mau apa kalian tega liat Mama dipenjara?"
Ricky tersenyum sinis, "Mama mau dipenjara pun kita nggak peduli." kata kata Ricky membuat Mama nya terkejut.
Ricky mengulurkan tangan nya pada Rania agar Rania bangun,
"Karena Mama dipejara juga ulah Mama sendiri."
"Selama ini Mama nggak peduli sama anak anak Mama. Mama lebih peduli sama berondong berondong Mama yang suka nghabisin duit mama."
"Dan sekarang, kalau Mama punya hutang. Mama minta saja sama berondong Mama itu." kata Ricky merangkul lengan Rania dan mengajaknya keluar.
"Dasar kalian anak durhaka! kalian benar benar durhaka!" Teriak Mama Rania histeris.
"Mama nyesel punya anak seperti kalian, nggak berguna sama sekali!" teriak Mama Rania yang masih bisa didengar Ricky dan Rania meski mereka sudah berada diluar.
Rania semakin terisak mendengar ucapan Mama nya, begitu juga Ricky yang sangat terpukul dan tak menyangka. Seorang ibu yang seharusnya mengayomi dan melindungi anaknya malah menjadikan anaknya sapi perah.
Selalu membawa pria muda pulang kerumah hingga Mama tega menitipkan Ricky dan Rania yang waktu itu masih sangat kecil dirumah nenek yang ada dikampung.
Beruntung, sangat beruntung Nenek dikampung menyanyanggi mereka dan menyekolahkan mereka hingga mereka sampai dititik ini.
Dan itu semua karena nenek, bukan Mama jadi jika mereka seperti ini pantaskah mereka dikatakan durhaka?
Ricky memberikan selembar tissue pada Rania yang masih saja terisak padahal mereka sudah berada didalam mobil.
"Sudahlah, jangan pikirkan ucapan Mama. kakak pasti akan selalu ada untukmu." kata Ricky mengingat beberapa tahun terakhir dirinya harus meninggalkan adiknya karena perusahaan yang Ia naungi memiliki cabang diluar negeri dan dirinya menjadi salah satu manager yang harus membantu cabang luar negeri.
"Mama bilang kita anak durhaka bang." kata Rania masih terisak.
"Ssshttt, jangan berkata seperti itu. bahkan mama tak pernah merawat kita sejak kita kecil jadi bukan salah kita jika kita menjadi seperti ini."
__ADS_1
"Sudah, jangan dipikirkan lagi." kata Ricky sambil mengelusi rambut Rania menggunakan tangan kirinya, berharap itu bisa membuat Rania tenang.
"Jika pria itu sudah sembuh, suruh menemui ku." kata Ricky kala mereka sampai di rumah Rania dan Rania hendak turun dari mobil.
Rania hanya mengangguk pelan, rasanya seluruh tenaga ditubuh Rania sudah terkuras habis.
"Istirahatlah, jangan pikirkan apapun. aku tetap akan menikahkan mu dengan pria itu apapun yang terjadi." kata Ricky yang lagi lagi diangguki Rania.
Rania turun dari mobil dan memasuki rumahnya, sementara Ricky melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen.
Sebenarnya sepulang dari rumah mamanya, Rania ingin menemui Revan lagi namun niatnya batal karena perasaan nya kini yang hancur lebur mendengar ucapan sang Mama yang begitu egois.
Sangat Egois...
Rania meringkuk diranjangnya, Ia kembali mengingat masa kecilnya dulu. Pernah satu hari Rania sakit demam, mulutnya terus memanggil nama Mama karena memang Rania sangat merindukan Mama nya.
Nenek Rania berinisiatif menelepon Mama untuk mengurangi rasa rindu Rania namun sayang tanggapan sang Mama sangat mengecewakan.
Setelah panggilan ke sepuluh barulah diangkat oleh Mama namun bukannya khawatir putri kecilnya sakit, Mama malah memarahi nenek dan meminta agar Rania tak menjadi anak manja.
Rania yang waktu itu masih berusia 7 tahun, dan sampai sekarang Rania masih mengingat semua hal yang menyakitkan itu.
Rania semakin meringkuk dan memeluk kedua kakinya, rasanya juga sudah lelah menangis.
"Mama janji akan memperlakukan mu sebaik mungkin Nak,"
"Mama tidak ingin kamu merasakan seperti apa yang Mama rasakan." ucap Rania berjanji pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENN
__ADS_1