
Mobil Ander berhenti tepat didepan toko bunga milik Eliya. segera Eliya mencium tangan Ander sebelum Ia keluar dari mobil.
"Nanti aku pulang kerja mampir ke tempat Revan dulu."
"Aku ikut mas." pinta Eliya dengan wajah memelas membuat Ander hanya bisa menghela nafas.
"Ya nanti gampang." balas Ander langsung saja membuat Eliya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Eliya keluar dan segera memasuki toko.
"Tunggu dulu." pinta Ander kala Ran sudah ingin melajukan mobilnya.
"Ada yang tertinggal Tuan?" tanya Ran melihat ke bangku belakang namun tak ada barang milik Eliya yang tertinggal.
"Ada apa dengan mu?" heran Ander.
"Saya? saya baik baik saja Tuan."
"Ck, kau tidak ingin menemui kekasihmu? siapa namanya, Na-."
"Tidak Tuan," balas Ran cepat "Saya akan melajukan mobilnya sekarang Tuan."
Bukan nya menjawab, Ander malah terkekeh.
"Jadi apa kalian sedang bertengkar?"
"Tidak Tuan, kami baik baik saja." balas Ran terdengar kesal karena Ander kepo sekali dengan hubungan Ran dan Nana.
"Benarkah? tapi tingkah lakumu mengatakan jika kalian sedang tidak baik baik saja." kata Ander setengah mengejek.
"Ck, dasar pria bucin." ejek Ander membuat Ran menatap Ander dari spion dengan tatapan kesal tak terima.
"Dia pikir hanya aku yang bucin? apa dia lupa bagaimana saat Nona Eliya sedang marah kemarin? huh dasar menyebalkan!" batin Ran tak mengubris ucapan Ander lagi.
...
"Nana? sedang apa di sini?" heran Eliya melihat Nana masih berdiri dibalik gerbang toko.
"Eh mbak, udah datang to? kok mobilnya nggak keliatan?" heran Nana sambil celinggukan ke arah luar namun tak mendapati apa yang ingin Ia lihat.
Eliya tersenyum ke arah Nana, "Siapa yang kamu cari? Ran ya?"
"Eng-enggak mbak, nggak nungguin kok. ya udah aku masuk duluan ya mbak." kata Nana buru buru berjalan memasuki toko bunga membuat Eliya tertawa melihat Nana salah tingkah.
__ADS_1
"Bodoh bodoh bodoh." umpat Nana sambil memukuli kepalanya saat sudah menjauh dari Eliya "Bisa bisanya kamu menunggu diluar seperti itu!"
"Jangan menunggu pria menyebalkan yang sama sekali tidak berniat serius padamu!"
Nana kesal karena setelah mengantar Nana malam itu, Ran sama sekali tak menghubungi dan menemuinya lagi sampai sekarang. Padahal, Nana menunggu Ran dan itu benar benar menyebalkan.
....
Risha kembali membawa nampan berisi makanan untuk Revan karena ini sudah jam makan siang dan sebentar lagi Revan waktunya untuk minum obat.
Jantung Risha berdegupan, sedikit grogi mengetahui didalam sana ada artis yang begitu dikagumi teman temannya. Bahkan semua teman Risha iri dengan Risha yang bisa keluar masuk keruangan Revan bahkan menjadi perawat pribadi Revan yang sebenarnya tidak terlalu disukai oleh Risha.
Klek, pintu terbuka Risha melihat Revan tengah terlelap sementara Randi sibuk memainkan ponselnya. Namun begitu Risha memasuki ruangan Randi yang tadinya fokus dengan ponselnya pun segera bangkit menghampiri Risha.
"Sudah waktunya makan siang ya?" tanya Randi ramah membuat Risha sangat gugup.
"I-iya." Risha memberikan nampan pada Randi dengan tangan sedikit gemetar. Ia melirik sedikit ke arah Randi yang tersenyum padanya. memang sungguh tampan dan Risha baru menyadari nya. Pantas saja semua teman temannya begitu memuja Randi.
"Tolong dibangunkan, takut telat minum obat." kata Risha.
"Beres, kamu udah makan siang?" tanya Randi.
"Belum,"
"Ma-maaf saya masih banyak pekerjaan, permisi." buru buru Risha keluar dari ruangan Revan membuat Randi mengerutkan keningnya heran.
"Apa dia takut sama gue ya?" celetuk Randi melihat sejak masuk ruangan Risha hanya menunduk bahkan tak berani menatap wajahnya.
Randi membangunkan Revan dengan memanggil nama Revan namun Revan tak kunjung bangun membuat Randi sedikit kesal.
"Gila nih orang kebo banget dah," Dengan jahil Randi membuka kemeja Revan dan memainkan ****** Revan membuat Revan merasa geli dan akhirnya bangun.
"Anjir, ngapain Lo? mesum banget!"
Randi tertawa puas "Makanya kalau dibangunin jangan susah susah."
"Tuh makan siang dulu trus minum obat, permintaan dari mbak perawat cancik." kata Randi yang membuat Revan memutar bola matanya malas.
Dilihat dari matanya, Revan tau jika Randi menyukai Risha. Ia hanya ingin tau saja bagaimana tanggapan Randi jika tau Revan dijodohkan dengan Risha, apa Randi akan marah?
"Dia udah kesini?"
Randi mengangguk,
__ADS_1
"Ck, kok udah pergi aja padahal mau minta di suapin."
Seketika Randi melotot menatap Revan sebal "Nggak usah genit genit Lo!"
Randi menyambar piring Revan di meja lalu mulai menyuapinya. "Masih ada gue, nggak usah manja ke cewek lain."
Revan tersenyum puas "Posesif amat bang."
"Gue nggak posesif, cuma kasihan aja tuh kayaknya cewek baik baik jadi pelampisan Lo dari Rania, kasian tau." sangkal Randi dan Revan hanya tersenyum jahil ke arah Randi.
Sementara Risha tampak terburu buru berjalan ke ruangannya. Entahlah, Randi hanya mengajaknya makan siang kenapa Ia harus segugup ini?
"Sha, nggak makan siang?" tanya Vano yang baru saja keluar dari ruangan. Ada lingkaran hitam dimata Vano menandakan jika Vano tak tidur semalaman.
"Belum dok, sebentar lagi."
"Dokter mau dibelikan makan siang?" tawar Risha.
"Boleh deh." Vano mengeluarkan selembaran uang warna merah dan memberikan pada Risha "Kembaliannya ambil aja sha buat kamu beli makan siang, jangan kasih saya lagi!" kata Vano mengingatkan karena selama ini Risha sama sekali tak mau menerima uang kembalian jika Vano meminta Risha membelikan makan siang.
Risha hanya mengangguk lalu berjalan keluar dengan hati hati. Takut Randi melihatnya dan malah mengajaknya makan siang.
Vano kembali memasuki ruangan nya. kepalanya berdenyut sejak tadi membuatnya tak konsen memeriksa pasien bahkan Ia harus memberikan jadwal periksanya pada dokter lain untuk beristirat sejenak diruangan nya.
Mengingat tadi pagi saat Ia pulang melihat wajah istrinya yang pucat karena khawatir semalam Revan tak pulang dan tak bisa dihubungi.
Vano terpaksa membohongi istrinya jika Revan berada di apartemen Randi sedang menenangkan diri karena patah hati yang langsung saja membuat Riska percaya begitu saja bahkan dari raut wajah Riska nampak sekali jika Riska lega tidak terjadi sesuatu pada Revan.
Vano masih tak bisa membayangkan jika Riska tau dirinya menyembunyikan keadaan Revan mungkin benar ucapan Ander jika Riska pasti akan mengamuk padanya dan lebih parahnya lagi tak ada jatah untuknya.
Oh no, apa sebaiknya Ia mengatakan semua pada Riska, jujur saja pada Riska?
Sepertinya memang Ia harus mengatakan itu pada Riska namun tidak hari ini. tunggu Revan sedikit membaik saja agar Riska tak begitu khawatir memikirkan Revan.
Baru saja Vano bernafas lega, tiba tiba pintu terbuka dan Vano terkejut melihat wanita yang datang dengan membawa sebuah rantang makanan.
Wanita cantik yang berjalan ke arahnya dengan senyuman cantik mengoda.
Wanita yang tak lain adalah istrinya, Riska.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1