DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
08


__ADS_3

Ander melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia sangat marah dan juga malu. Bagaimana tidak malu, Eliya benar benar sudah mempermalukannya.


Flashback on...


"Bunda, bunda ini dia mau nyium aku." teriak Eliya sambil tangan Eliya menunjuk ke arah Ander.


Nisa dan Ander hanya melonggo mendengar ucapan Eliya.


"Apa benar nak Ander?" tanya Nisa dengan tatapan menuduh.


Karena kesal Ander tak menjawab ucapan Nisa malah langsung pergi begitu saja.


Flashback off....


"Sialan! dasar cewek gila!" umpat Ander sambil terus melajukan mobilnya.


"Dia pikir siapa? dia pikir cantik sampai aku harus menciumnya? wanita sialan!" Ander masih tak henti hentinya mengomel.


Ander menghentikan mobilnya dipinggir jalan untuk menghubungi Revan dan Randi.


"Kumpul di kafe biasa, ajak Randi juga." ucap Ander kala menelepon Revan.


"Heh, jam berapa sekarang? mana mungkin gue keluar, bisa digorok sama bokap." suara Revan membuat Ander semakin kesal.


Ander melihat pergelangan tangan nya, masih pukul setengah 9 belum terlalu malam.


"Nggak usah lebay, ini masih jam setengah 9!"


"Ck, ya udahlah gue otewe."


Ander mematikan panggilannya, kembali melajukan mobilnya menuju kafe tempat biasa mereka nongkrong.


Sementara itu Nisa masih berada di kamar Eliya, menanyakan kejadian tadi namun masih belum mendapatkan jawaban dari Eliya.


"Apa bener Ander mau nyium kamu?" tanya Nisa berulang ulang.


Nisa menghembuskan nafas panjang "Kamu bohong kan? lagian kalian ini nggak deket dan Ander juga anak yang sopan mana mungkin dia ngelakuin kayak gitu." jelas Nisa.


Kini giliran Eliya yang menghembuskan nafas panjang, "Baik apanya sih Bund, Bunda nggak tau aja kalau disekolah mereka kayak apa?"


"Memangnya kayak apa? suka gangguin kamu?" tanya Nisa semakin penasaran.


"Bukan aku Bund, tapi temen temen aku!"


"Masa sih? keliatan nya baik baik gitu kok."


"Ck, Bunda nggak tau aja."

__ADS_1


Nisa tersenyum melihat Eliya semakin cemberut "Trus kenapa dia kesini nemuin kamu? Bunda pikir kalau masalah sekolah nggak mungkin."


Awalnya Eliya ingin memendamnya sendiri, Eliya akan membongkar jika Ander and the gengs kembali melakukan perundungan lagi namun melihat Bunda yang terus mendesak akhirnya Ia menceritakan saja pada Bunda.


"Dia kesini karena minta video nya dihapus."


"Video apa?"


Eliya mengambil ponselnya dan memperlihatkan pada Bunda nya membuat sang Bunda terkejut, sangat terkejut.


"YA Allah, kenapa mereka bisa kayak gini?" ucap Bunda tak percaya.


"Maka nya Bund, Eli gemes tau nggak ngeliat tingkah mereka yang bermuka dua gitu. kalau dirumah keliatan manja dan baik padahal kalau disekolah mereka berandal banget." jelas Eliya terdengar mengebu.


"Jadi tadi kesini karena ini?" tanya Nisa lagi.


"Iya Bund, dia takut kalau sampai videonya dilihat sama Mommy dan Daddy nya. aku bilang aja sama dia, kalau mereka masih berandal ya aku kasih lihat tapi kalau mereka nggak berandal lagi juga nggak bakal aku bocorin." jelas Eliya membuat Nisa menghembuskan nafas berat.


"Kamu tau kan Ayah kamu kerja sama Daddy nya Ander jadi lebih baik kita nggak usah mencampuri urusan mereka El." jelas Bunda terlihat khawatir.


Nisa bukan khawatir karena takut Sandi dipecat, Ia hanya khwatir dengan Eliya. melihat Ander memiliki segalanya dan Ander bisa melakukan hal apapun jika Eliya mencari masalah pada mereka. Nisa hanya takut Eliya terluka.


"Ck, Bunda tenang aja. lagian Kita kan tau gimana Tuan Alex. dia bukan seseorang yang selalu membela Ander kalau salah pasti bakal kena marah kan?"


"Bukan itu sayang, Bunda itu takut kalau Ander berbuat sesuatu yang nggak baik sama kamu."


Nisa hanya tersenyum membenarkan ucapan Eliya, sepertinya memang tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Jadi gimana Bund? apa sekarang Eliya cerita sama Ayah juga?"


"Hmm, jangan sekarang. seperti apa yang tadi kamu bilang saja. Mereka bisa berubah nggak? kalau nggak baru kita cerita sama Ayah. gimana?"


"Oke deh Bund, rasanya lega deh kalau udah cerita sama Bunda." ucap Eliya sambil memeluk Nisa.


"Pasti tadi Nak Ander marah dan malu banget pas kamu bilang dia mau nyium kamu." kata Nisa mengingat Ander hanya diam dan langsung pergi tanpa membela dirinya.


"Biarin aja Bund, lagian nggak sopan masa mau masuk kamar aku." jelas Eliya sebal.


"Iya iya, ya udah kamu lanjutin belajarnya."


"Siap Bund."


...


Setelah menunggu hampir 1 jam dan sudah menghabiskan 3 gelas es lemon tea, akhirnya Revan dan Randi datang ke kafe.


"Kenapa tuh muka? kusut banget." goda Revan menarik satu kursi dan duduk didepan Ander.

__ADS_1


"Gimana videonya? beres kan?" kali ini Randi yang bertanya membuat Ander semakin kesal.


Revan yang baru mengingat masalah Video mendadak khawatir "Oh ya hampir lupa gue!"


Masih tak ada jawaban dari Ander membuat Revan dan Randi semakin kalut.


"Ck, oke oke sorry kita telat. jangan salahin gue, salahin Randi noh pake acara nungguin bokap nyokapnya pulang dulu. tau sendiri kan Mereka pulangnya malem banget." jelas Revan.


"Ck, kan gue harus ijin dulu."


"Dasar anak manja!" ejek Revan.


"Ck, gue manja tapi nggak pernah ngompol dicelana. padahal udah gede." ejek Randi tak mau kalah.


Revan segera menendang kaki Randi membuat Randi mengaduh.


"jangan keras keras, sialan loh." kesal Revan sementara Randi hanya tertawa.


Randi mengingat saat kelas 2 smp dan Revan kelas 3 smp, Randi menginap tidur dikamar Revan karena Papi Maminya sedang mengadakan bisnis keluar kota. paginya saat bangun Randi mencium bau pesing seperti pipis dan saat Randi menyibak selimut nya dan Revan ada bekas ompol disana lalu Randi memberanikan diri memegang celana Revan dan benar saja ternyata Revan mengompol. sejak saat itu Randi memiliki senjata jika kalah mengejek Revan.


Randi hanya tertawa melihat wajah kesal Revan sementara Ander semakin kesal saja melihat tingkah kedua sepupunya itu. Dirinya sedang pusing mereka malah bercanda.


"Jadi gimana?" tanya Revan.


"Gagal, " balas Ander acuh.


"Gila! posisi kita nggak aman." keluh Randi.


"Kasih apapun biar dia nurut mau nge hapus Videonya." kata Revan.


"Iya, mau mobil, baju, sepatu apapun nanti kita patungan."


"Ck, Kalian pikir dia cewek matre yang tergiur masalah gituan?" sentak Ander semakin kesal karena mencari jalan keluar dengan mereka bukannya mendapatkan ide malah menjadi buntu.


Randi hanya diam, diam berpikir.


Sementara Revan malah tersenyum tengil menatap Ander.


"Kenapa Lo?"


"Etcieee. ... kok tau banget kalau dia nggak matre, duh curiga gue." celetuk Revan membuat Ander geram dan melempar topi yang Ander pakai mengenai wajah Revan. Bisa bisanya bercanda disaat genting seperti ini.


"Ampun bos, ampun." kekeh Revan.


BERSAMBUNG....


Pengen nya double trus up nya tapi karena kerja pulang malem dan capek banget jadi cuma satu deh... nggak apa apa ya yang penting update...

__ADS_1


oh ya jangan lupa like vote dan komen biar semangat authornya nulis 😁


__ADS_2