
Karena paksaan dari Ander dan Randi akhirnya Revan menjelaskan pada Mereka namun tak sedetail itu. Revan hanya mengatakan jika Ia ditolak oleh Rania dan merasa patah hati hingga akhirnya Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sontak penjelasan dari Revan membuat kedua saudaranya terbahak terutama Ander meski sudah mendapatkan peringatan tajam dari Eliya agar tak tertawa nyatanya Ander masih menertawakan nya.
Benar benar menyebalkan sekali bukan mereka!
"Nggak ada cewel lain apa? nggak bosen dari dulu ngejar tuh cewek terus?" heran Ander yang juga di angguki oleh Randi.
"Jadi dia lebih milih cowok itu dari pada Elo?" tebak Randi. mengingat Randi orang yang melihat Rania bersama pria lain. Pria yang tak lain adalah kakak Rania sendiri yang tak diketahui oleh Randi.
"Ya gue cuma ngerasa penantian gue sia sia aja." kata Revan dengan nada sedih membuat Ander dan Randi menghentikan tawanya.
"Dari dulu gue udah bilang kan, cari cewek lain
Lo nya aja yang masih ngebet nungguin!" kata Ander dengan nada malas "Lagian apa sih yang bikin Lo jatuh cinta sama tuh cewek?" tanya Ander terheran heran.
"Udah udah, nggak usah bahas lagi. kasian tuh mukanya tambah pucet." Randi menghentikan introgasi Ander namun dengan nada yang mengejek.
"Sialan Lo!"
"Heh, berani ngumpatin gue. nggak gue temenin." ancam Randi.
"Ampun bos, aku padamu." kata Revan menahan tawa karena wajahnya masih terasa sakit.
"Lo balik aja, kasian tuh bini Lo. lagi hamil juga diajak." Randi melihat Eliya yang beberapa kali ketiduran disofa.
"Ck, tadinya nggak ngajak, dia yang ngeyel mau ikut."
"Udah, balik aja. udah ada Randi ini." kata Revan yang langsung diangguki Ander.
Akhirnya Ander mengajak Eliya pulang,
"Aku pikir mau nginep." kata Eliya saat keduanya memasuki mobil.
Ander menggelengkan kepalanya, "Pulang, besok kesana lagi. ngantuk kan? tadi dibilang nggak usah ikut ngeyel." protes Ander sambil mengelusi kepala Eliya.
Eliya tersenyum menampilkan deretan giginya, "Kan aku juga pengen tau keadaan Revan mas."
"Nanti kan pasti aku ceritain, nggak perlu ikut pun."
"Lebih lega kalau lihat sendiri."
Ander menghela nafas panjang "Iya deh iya, terserah Nona Ander saja."
....
Pagi ini Risha berangkat lebih awal dari biasanya. meski semalam Ia tak bisa tidur karena kejadian kecelakaan yang dialami Revan namun tak menyurutkan niatnya untuk berangkat pagi.
Ia mengambil beberapa data pasien yang sudah Ia selesaikan kemarin, hendak meletakan diruang arsip dan terkejut melihat Vano tengah duduk disofa yang ada disana.
"Lho Bapak nggak pulang?" tanya Risha sopan. Melihat raut wajah Vano yang seperti baru saja bangun tidur.
__ADS_1
Vano menggeleng pelan, "Tidur disini, tapi ini mau pulang dulu. nanti kesini lagi."
"Baik pak."
Risha berjalan melewati Vano untuk meletakan beberapa dokumen yang Ia bawa disebuah lemari besar. Dan saat berbalik langkahnya terhenti karena ucapan Vano.
"Sha, mulai hari ini kamu yang bertanggung jawab atas Revan anak saya ya?"
"Maksud bapak?" Risha masih tak mengerti.
"Kamu saya tugaskan untuk merawat Revan, karena saya nggak bakal ngasih tau Mama nya perihal kecelakaan yang di alami Revan." jelas Vano.
Risha sebenarnya merasa sedikit keberatan karena Ia tidak terlalu menyukai gaya Vano yang terkesan sombong namun karena ini perintah dari atasannya jadi Ia juga tak mungkin menolak.
"Baik Pak." ucap Risha dengan nada lemas.
"Setiap saat kamu cek, kalau ada sesuatu yang nggak bisa kamu kerjakan bisa panggil saya."
"Baik pak, saya akan segera kesana."
Vano mengangguk setuju, "Makasih Ris."
"Sudah kewajiban saya pak, kalau begitu saya permisi." kata Risha keluar dari ruangan Vano.
Dengan langkah malas, Risha berjalan menuju ruang rawat milik Vano, sebelumnya Risha mengecek ruang Vano melalui data pasien baru di komputernya karena semalam Ia langsung pulang dan tak tau Vano berada diruangan sebelah mana.
Risha membuka ruangan, Ia melihat Vano yang masih memejamkan mata di ranjang pasien dan ada satu pria tampan yang juga disana sedang tidur disofa yang ada diruang inap itu.
Segera Risha mengacuhkan pandangan nya dan mendekati Revan yang masih terlelap.
Risha mengecek, apa saja yang harus Ia bawa saat ini. cukup, Risha pun segera keluar untuk mengambil beberapa peralatan medis yang harus dibawa.
Tak berapa lama Risha kembali lagi dengan nampan yang berisi peralatan medis.
Dengan gerakan pelan karena takut menganggu tidur Revan, Risha menganti infus yang sudah mau habis namun sayang gerakan pelan Risha nyatanya masih menganggu tidur Revan.
Revan membuka matanya dan terkejut melihat Risha,
Risha nampak tersenyum kaku, "Maaf ganggu tidurnya, cuma mau ganti infus." jelas Risha masih tak enak.
Revan kembali mengangguk pelan, "Jam berapa sekarang? dan kenapa Lo disini? bukannya Lo asisten Papa?"
"Masih jam setengah 7,"
"Pak Vano yang memberikan wewenang untuk merawat Anda." jelas Risha yang membuat Vano mendesah tak percaya.
Papa niat sekali menjodohkan nya sampai melakukan semua ini batin Revan.
"Mohon kerjasama nya." kata Risha lagi.
"Gue lagi sakit, nggak bisa diajak kerja apalagi kerjasama bareng." balas Revan acuh namun mampu membuat Risha tersenyum geli hingga membuat pipi putihnya menjadi memerah.
__ADS_1
"Ampun dah, ni cewek manis amat kalau senyum." batin Revan tak sengaja melihat senyuman Risha.
"Boleh minta tolong nggak?"
"Boleh, mau minta tolong apa?" tanya Risha yang baru saja selesai menganti infus.
"Ambilin minum, gue haus."
Risha mengangguk paham dan segera mengambilkan air minum untuk Revan.
Risha mengulurkan gelas pada Revan, "Apa mau pakai sedotan aja?" tawar Risha melihat Revan yang sedikit kesusahan karena tangan nya juga banyak luka yang diperban.
"Nggak usah, gue bisa."
Risha mengangguk paham hingga Ia dikejutkan oleh suara pria yang tidur disofa yang ada dibelakangnya.
"Perasaan baru merem, udah pagi aja."
Sontak Risah menatap ke arah Randi yang berbicara, keduanya bertatapan cukup lama sebelum Risha menunduk sopan dan kembali membalikan kepalanya menatap Revan yang sudah selesai minum.
"Setelah ini mau ganti perban dulu apa sarapan dulu?" tanya Risha.
"Sarapan dulu, gue laper."
Risha mengangguk paham, "Biar saya ambilkan jatah makan pagi dulu."
"Eitss tunggu...." Risha yang baru berbalik pun kembali berbalik ke arah Revan.
"Ada apa?"
"Gue nggak mau sarapan makanan sini. Gue maunya dibeliin diluar. bubur ayam." pinta Revan. mengingat makanan klinik rasanya tidak enak.
Dengan tatapan kesal, Risha hanya bisa menuruti perintah Revan meski itu bukan pekerjaan nya. membelikan sarapan diluar untuk pasien jelas bukan pekerjaan Risha. Gaya Revan benar benar menyebalkan.
"Biar gue aja." hingga suara dari belakang membuat Risha sedikit lega.
"Gue juga mau nyari sarapan." kata Randi yang sudah bangkit dari sofa.
"Biar Risha aja, Lo di sini aja Rand." pinta Revan membuat Randi menatap Revan heran begitu juga dengan Risha yang kesal dengan Revan.
"Ini tuh bukan tugas dia, jadi jangan nyuruh yang bukan tugas dia. mentang mentang anak pemilik klinik." protes Randi langsung keluar begitu saja membuat Risha tersenyum senang melihat Randi yang tak cuma tampan namun baik hatinya.
"Saya permisi keluar sebentar." kata Risha membawa kembali nampan da berjalan keluar.
"Sialan, padahal gue nyuruh Risha beli bubur karena gue udah kebelet pipis, Randi sialan bisa bisanya dia lebih milih beli bubur dari pada bantuin gue ke kamar mandi!"
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN..
.
__ADS_1