DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
68


__ADS_3

Sandi dan Alex memasuki sebuah kafe yang cukup sepi, tidak terlalu banyak pengunjung.


Setelah memesan dua kopi dan pisang goreng untuk menemani obrolan mereka, Sandi pun ikut duduk menghampiri Alex yang sudah duduk lebih dulu.


"Jika di lihat dari wajahmu, terlihat wajah wajah keberhasilan." kata Alex saat Sandi baru saja duduk didepan Alex.


"Apa rencanamu berhasil lagi?"


Bukannnya menjawab, Sandi hanya tersenyum.


"Apa yang kau rencana kan untuk wanita penggoda itu?" tanya Alex penasaran.


"Dan siapa pasangannya kali ini?"


"Revan."


"Revan? anaknya Vano?" Alex terlihat terkejut.


Sandi mengangguk dan kembali tersenyum.


"Oh God... betapa laknat nya kita. nggak anak nggak bapak sama sama masuk ke jebakan kita." kata Alex membuat Sandi terkekeh.


"Aku hanya membantu Revan untuk bersatu dengan cinta pertamanya." jelas Sandi.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Alex.


"Aku sudah lama memperhatikan Revan yang memandang Wanita itu dengan pandangan tak biasa, dan terakhir aku mendengar Randi mengatakan jika Revan menyukai wanita itu."


"Tidak ada salahnya, dia wanita baik hanya saja dia sedikit tertekan."


"Terimakasih." ucap Alex kala pelayan mengantar pesanan mereka.


"Tertekan bagaimana?" Alex kembali fokus mendengar penjelasan dari Sandi.


"Orangtuanya bercerai dan sama sama menikah lagi. tak ada kasih sayang membuatnya mungkin seperti itu."


"Dia sudah lama menyukai Ander namun tak ada respon baik dari Ander, mungkin itu yang membuat Dia nekat." jelas Sandi.


Alex hanya mengangguk angguk paham, "Tapi apa ini jalan terbaik menjodohkan keduanya?"


"Saya pikir ini akan berakhir baik, seperti orangtuanya dulu."


Seketika tawa Alex membuncah, mengingat jebakan yang dulu mereka berikan pada Vano dan Riska.


"Sampai sekarang, aku masih tak bisa membayangkan bagaimana mereka jika tau kita ada dibalik semua ini." Alex masih terkekeh.


"Mungkin mereka akan berterimakasih pada kita." Sandi ikut terkekeh.

__ADS_1


Mereka menyesap kopi sambil mengobrol banyak hal, bernostalgia masa masa dulu yang membuat keduanya sesekali tertawa.


Sangat menyenangkan, berbeda dengan Rania yang kini sedang memegang kepalanya dengan kedua tangannya, kepalanya kini terasa berat.


"Boss..." salah satu karyawan kafe memasuki ruangan Rania.


"Ada apa lagi? bukankah tadi sudah ku jelaskan semuanya?" ketus Rania. Hari ini Rania memang benar benar tak bisa diganggu lagi.


"Saya hanya ingin mengatakan jika semuanya sudah siap."


"Ya sudah pergi dulu, nanti aku menyusul."


"Baik Boss." karyawan kafe itu segera keluar dari ruangan Rania.


Rencana nya mereka akan pindah tempat dan memulai semuanya dari nol lagi ditempat yang baru. Rania juga tak ingin terlalu lama terpuruk atas kegagalan cinta nya pada Ander. Ia sudah menganggap semua ini pelajaran, pelajaran yang amat berharga dan tak akan pernah mengulanginya lagi.


Dan sekarang yang menjadi fokusnya adalah Revan, pria pertama yang berani menyentuhnya bahkan merenggut kesuciannya.


Benar benar pria brengsek!


"Lihat, dia bahkan tak menghubungiku setelah apa yang terjadi semalam." kesal Rania yang sedari tadi melihat layar ponselnya.


Seusai mandi dihotel tadi pagi, Baik Revan maupun Rania sama sama diam, tak ada yang memulai berbicara. Bahkan Revan hanya mengantar Rania sampai depan Apartemen dan tak mengatakan apapun.


Tentu saja sikap acuh Revan itu membuat Rania sangat kesal hingga sekarang.


....


Dua minggu berlalu,


Sejak Ander berusaha menemui Eliya dirumahnya dan sejak saat itu Ander sudah tak pernah menemui Eliya lagi. Bukan tanpa sebab Ander melakukan itu, Ia hanya memberi waktu Eliya untuk berpikir tenang agar bisa menerima penjelasan nantinya.


Meski begitu, Ander tetap membelikan nasi padang kesukaan Eliya setiap harinya yang diantar oleh Ran.


"Mau cari siapa?" salah satu karyawan toko menghadang Ran yang baru ingin masuk ke ruangan Eliya.


"Nona Eliya." Ran menjawab malas.


"Tidak ada."


Ran mengerutkan alisnya, "Kemana?"


"Mau ku tau, kau pikir aku ibunya." Karyawan itu membalas ketus lalu pergi meninggalkan Ran.


"Dasar wanita aneh." gerutu Ran berbalik keluar toko dan kembali ke mobilnya.


"Orang ganteng itu pasti nyari mbak El ya Na?" tanya karyawan lain yang bernama Ranti saat wanita bernama Nana terlihat mengobrol pada asisten suami Eliya.

__ADS_1


"Ck, ganteng dari mana nya sih mbak, kek gitu kok ganteng." protes Nana sedikit sewot.


"Jangan sewot sewot Na, kali aja jodoh."


"Idih, ogah jodoh sama Dia." Ranti hanya terkekeh lalu meninggalkan Nana yang semakin sewot.


Ran sudah memasuki mobilnya, Ia menghela nafas berkali kali "Oke Ran, tenang. pelan kita akan mencari Nona." Ran segera melajukan mobilnya menuju rumah orangtua Eliya namun lagi lagi Eliya juga tak ada disana.


"Mungkin sedang makan siang bersama teman nya." kata Bunda Nisa yang tadi membuka pintu untuk Ran.


Karena bingung dan tak tau lagi harus kemana, terpaksa Ia kembali ke kantor dan masih membawa nasi padang milik Eliya.


"Aku tak mau tau, kau harus menyerahkan makanan itu pada istriku." kata Ander dengan nada kesal saat mengetahui Ran tak berhasil memberikan nasi padang pada Eliya.


"Tapi Tuan, saya sudah mencari kemana mana namun Nona memang tidak ada." Ran menghela nafas, mencoba sabar meskipun saat ini dirinya sangat kesal.


"Lalu kemana dia?"


"Saya juga tidak tau Tuan."


"Cari Dia!"


"Ta-tapi Tuan, bukankah sebentar lagi saya harus mengantar Tuan bertemu klien?"


Ashh sial, hampir saja Ander melupakan itu.


Ander melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktunya tinggal 30 menit lagi dan akhirnya Ander menyerah.


"Baiklah, untuk kali ini aku bisa memaklumi mu. tapi lain kali jangan harap kau bisa pulang sebelum memberikan makanan pada istriku."


Senyum Ran mengembang lebar, "Baiklah Tuan."


Ander mulai bersiap, hari ini Ia harus bertemu dengan salah satu klien nya disebuah restoran yang cukup terkenal disana.


Dan kali ini Ia membawa sekretarisnya untuk mendampingi meeting kali ini. Naya, sekretaris Ander pilihan Daddy nya memang sangat bisa diandalkan. meskipun penampilan nya terlampau cantik dan seksi namun pekerjaan nya tidak diragukan lagi, sudah sangat handal.


Sesampainya di depan restoran Ander dan Naya memasuki restoran itu sementara Ran menunggu didalam mobilnya. dan nyatanya keduanya sudah ditunggu oleh klien nya yang berasal dari luar kota.


"Maafkan saya atas keterlambatan ini." kata Ander kala mereka sudah duduk disana.


"Tidak masalah, kami juga baru sampai."


Mereka pun mulai mengobrol membahas tentang kerja sama mereka hingga mata Ander menangkap sosok wanita yang tak asing untuknya.


Wanita yang kini tengah tersenyum manis dengan seorang pria lalu seketika senyuman wanita itu berubah menjadi pelototan saat wanita itu tak sengaja menatap ke arah Ander.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2