DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
77


__ADS_3

Ander masih memandangi istrinya dengan kesal namun Eliya malah tak mengubrisnya. Eliya malah sibuk menghabiskan nasi padang yang kini tinggal sesuap.


Dan finally, Eliya sudah menghabiskan makanan nya.


"Aku akan pergi keluar! Anak anak pasti membutuhkan ku." Eliya bangkit tanpa memperdulikan Ander yang masih menatap nya dengan tatapan kesal.


Lagipula siapa yang lebih kesal? dirinya dituduh melakukan apa yang tak Ia lakukan. Menyukai Ran? yang benar saja. Ander memang menjengkelkan. kenapa pula Ia harus seposesif itu.


"Kau tidak menungguku menghabiskan makananku? kau memang sudah bosan padaku ya?" ketus Ander yang kini sudah menahan tangan Eliya agar tak bisa keluar.


Eliya memutar bola matanya malas, "Aku hanya kesal bisa bisanya menuduhku seperti itu. coba katakan apa yang membuatmu menuduhku seperti itu?" Eliya kembali duduk, dirinya ingin menyelesaikan masalah sepele apapun dan tak ingin kabur lagi sepeerti biasa.


"Aku hanya curiga karena Ran begitu semangat menawarkan diri mengantarkan makan siang untukmu." jelas Ander yang membuat Eliya melongo.


"Jadi karena itu kamu menuduhku?" Eliya menatap Ander tak percaya.


"Tentu saja, karena selama ini dia yang menemui mu saat kita sedang tak bersama." balas Ander dengan tatapan kesal.


"Tapi bukan berarti dia menyukai ku." Eliya sempat ingin tertawa namun Ia ingat jika sedang kesal.


"Kau membelanya?" tuduh Ander lagi dan kali ini Eliya benar benar sangat kesal.


"Sudahlah, sepertinya percuma menjelaskan semua padamu jika kamu sudah berpikir seperti itu."


"Lebih baik habiskan saja makananmu dan segera kembali ke kantor!" Eliya kembali bangkit dari duduknya namun kali ini tangan nya tidak ditahan oleh Ander.


"Ya aku kembali di usir, aku memang tak di inginkan di sini." kata Ander mengambil piringnya lalu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya sementara Eliya hanya bisa menggeleng kepalanya tak percaya.


"Lihatlah nak Daddymu, dia sangat menyebalkan jika seperti ini." batin Eliya sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


Sementara itu dikantor, Ran memasang wajah murung dan sangat kesal.


Ya seharusnya saat ini Ia bisa bertemu dengan Nana dan menggoda Nana. Namun karena bos nya si posesif dan super bucin itu Ia jadi tak bisa menemui Nana.


Sialan, bagaimana bisa Bos nya menganggap Ia menyukai Nona, bahkan memandang lama wajah Nona saja Ia tak akan berani apalagi menyukainya. Benar benar sialan batin Ran sambil menendang nendang kursi kebesaran Ander.


Ran duduk disofa yang ada di ruangan itu, diambilnya ponsel dari saku celana untuk melihat apakah ada balasan pesan dari Nana namun sayang nya sangat mengecewakan karena Nana hanya membaca pesan yang Ia kirim tadi tanpa membalasnya membuat Ran semakin kesal saja.


Segera Ran melempar ponselnya di sofa lalu mulai menyandarkan kepalanya di sofa.


Tanpa Ran sadari Ia malah memejamkan mata di sofa ruangan Ander, entah berapa menit Ia tertidur hingga Ia mendengar suara deheman dari Ander yang sangat keras membuatnya seketika bangun.


"Tu-tuan..." Sapa Ran melihat Ander berdiri didepan nya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kau pikir ruangan ku ini hotel?"


"Maafkan saya Tuan," Ran menunduk takut.


"Aku akan memberimu libur 1 minggu." Ucapan Ander sontak membuat Ran mendongak dan menatap Ander.


"Li-libur satu minggu Tuan?"


Ander mengangguk namun tatapan nya pada Ran masih terlihat kesal.


"Aku sedang tak ingin melihatmu di sini jadi aku memberimu libur 1 minggu mulai dari siang ini."


Glek, antara senang dan takut yang saat ini Ran rasakan. Ia tentu senang karena Ander memberinya waktu libur satu minggu namun Ia juga takut jika sewaktu waktu Ander berubah pikiran dan malah memecatnya.


"Ta-tapi Tuan."


"Aku tidak mau dengar bantahan apapun!"


"Tu-tuan, nanti tidak memecat saya kan?" tanya Ran memastikan.


"Tergantung."


Ran terkejut dengan balasan Ander.


"Ampun Tuan, ampun... jangan pecat saya. saya bersumpah tidak pernah sekalipun menyukai Nona." Ran memohon pada Ander namun Ander masih terlihat tak mempercayainya.


"Keluar saja sana, aku semakin muak melihatmu." kata Ander lalu membalikan badan membelakangi Ran.


"Ta-tapi Tuan tidak akan memecat saya kan?" tanya Ran sekali lagi.


"Keluar atau malah kupecat sekarang!" kata Ander sedikit membentak membuat Ran ketakutan dan memilih keluar.


"Sialan, dasar bos bucin! untung aja bayaran nya gede." gerutu Ran berjalan keluar kantor.


...


Siang ini Randi memasuki bengkel milik Revan, dimana Revan tengah sibuk membantu para montir nya.


"Sibuk banget?" tanya Randi yang kini sudah berada didepan Revan.


"Ck, tumben? ngapain kesini?" heran Revan celinggukan mencari mobil Randi namun tak menemukan nya. Revan pikir Randi kesini untuk service mobil.


"Makan siang bareng gimana?" tawar Randi yang langsung di angguki Revan.

__ADS_1


"Gue ganti baju dulu." Randi mengangguk membuat Revan segera memasuki ruangan nya untuk bersiap.


"Kemarin tante Bi bilang Lo ke bali?" tanya Revan saat keduanya sudah berada didalam mobil.


Randi mengangguk, "Tapi nggak jadi, dicancel."


"Ada masalah apa?" tanya Revan yang hanya di gelengi oleh Randi.


Revan mengangguk paham, Ia cukup tau sifat Randi yang lebih memilih diam jika mendapatkan masalah berbeda dengan dirinya yang kadang terbuka dengan Randi maupun Ander.


Keduanya keluar memasuki restoran chinnese, setelah mendapatkan tempat duduk keduanya segera memesan makanan.


"Udah mantep banget sama tuh cewek?" tanya Randi tiba tiba membuat Revan menatap Randi.


"Maksudnya?"


"Rania, kemarin Gue liat Lo keluar hotel sama tuh cewek." kata Randi yang sontak membuat Revan sedikit malu karena ketahuan.


"Gue serius sama doi." balas Revan dengan senyuman kaku.


Randi menghembuskan nafas pelan, "Yakin? nggak mau diselidikin dulu?" tanya Randi membuat Revan mengerutkan keningnya heran.


"Dia aman kok!" Randi tersenyum mendengar balasan Revan.


"Oke kalau gitu."


Makanan pun datang, mereka segera menikmati makan siang sambil sesekali bercanda ringan, hingga mata Revan tak sengaja melihat seseorang yang sangat tak asing.


"Mau kemana?" tanya Randi melihat Revan bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan nya.


Randi menatap ke arah Revan pergi dan melihat apa yang membuat Revan meninggalkan nya. Seketika Ia tersenyum tipis.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen....


Maafkan aku kalau update nya lama bgt, alhamdulilah author udah sembuh... terimakasih buat doa kalian.


Hanya sedikit curhat saja...akhir akhir ini banyak sekali kejadian tak terduga yang membuat author sedikit terguncang dan itu salah satu penyebab jarang update. maafkan author...


Semoga kita semua dilindungi dari marabahaya apapun ya teman teman readers semua...


terimakasih buat kalian yang sudah menunggu cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2