
Eliya turun dari mobilnya dan memasuki mansion besar nan mewah milik majikan Ayahnya itu.
Mansion yang sudah terasa asing karena sudah sangat lama Ia tak datang kesini, bahkan semenjak pulang inilah kali pertama dia datang.
"Selamat pagi, saya datang ingin menjemput Tuan Alex mengantikan Ayah saya." kata Eliya kala pintu Mansion dibuka kan oleh salah satu Maid yang bekerja disana.
"Baiklah, tunggu disana karena Tuan Alex sedang sarapan." kata Maid itu sambil menunjuk tempat duduk yang ada disana.
Eliya mengangguk paham dan langsung saja duduk di kursi yang ada disana. Karena cukup lama Eliya mengeluarkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.
"Lho, kenapa kamu yang datang?" suara maskulin milik Alex terdengar membuat Eliya buru buru memasukkan ponselnya.
"Maaf Tuan, Ayah sedang demam jadi saya yang mengantikan untuk mengantar Tuan." balas Eliya sopan.
"Dia itu benar benar, sudah kukatakan jangan memaksa diri masih saja seperti itu, aku merasa seperti majikan kejam yang tak memberikan hari libur untuknya." gerutu Alex yang membuat Eliya tersenyum karena Alex tidak seperti yang Eliya pikirkan selama ini.
"Dan berhentilah memanggilku Tuan, aku bukan majikanmu." jelas Alex.
"Ta-tapi.."
"Panggil aku Dad, anggap aku ini Ayah mu juga." ucap Alex yang sontak membuat Eliya terkejut.
"Ta-tapi."
"Tidak ada tapi tapian, dan hari ini kamu tidak mengantarku. jadi bolehkan aku meminta tolong padamu?"
Eliya mengangguk, Ia terlalu gugup untuk menjawab,
"Tolong jemput Ander di bandara, dia pulang hari ini. kau masih ingat Ander kan? putra tampanku?" tanya Alex yang langsung saja membuat Eliya terkejut sekaligus melongo.
"Apa? menjemput pria devil? oh noo." batin Eliya menjerit.
"Hari ini aku tidak ke kantor karena putra ku pulang lagipula setelah ini aku juga akan pensiun karena Ander yang akan mengantikan posisi ku. jadi tolong ya Eliya jemput Ander sekarang. mungkin nanti pukul 9 dia sampai." kata Alex lalu memasuki mansion tanpa menunggu jawaban Eliya.
Eliya mendesah tak percaya, Ia benar benar tak diberi kesempatan untuk menolak karena Alex langsung pergi begitu saja.
Dengan langkah malas, Ia memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya sepelan mungkin.
"Jam 9 ya? jadi kalau gue dateng jam 10 nggak akan keburu dan pasti bocah manja itu naik taksi, ntar gue tinggal bilang aja sama Tuan Alex kalau ban nya bocor. Ah ide yang cemerlang Eliya." gumam Eliya lalu terkekeh senang.
Berkali kali Eliya putar balik, hingga saat pukul 10, Eliya memarkirkan mobilnya di parkiran bandara.
"Gue tinggal pura pura masuk dan nyari abis itu langsung cabut deh, duh nggak nyangka gue pinter juga." kekeh Eliya lalu keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Eliya berjalan memasuki Bandara, Ia mendekati salah satu petugas untuk menanyakan jadwal kedatangan pesawat yang ditumpangi Ander.
"Oh mungkin sebentar lagi mbak." jawab petugas itu yang tentu saja membuat Eliya terkejut bukan main.
"Lho belum sampai? bukan nya sudah jam 9 tadi ya harusnya?"
"Iya mbak, cuma tadi ada kendala disana jadi jadwalnya mundur. Mbak tulis aja nama pacar mbak pake papan trus tunggu disana." kata petugas itu sambil menunjuk pada kerumunan orang orang yang mungkin penjemput sama seperti dirinya.
"Pa-pacar? bukan pacar saya!" balas Eliya ketus.
"Eh maaf mbak, kirain pacarnya. Biasanya mereka yang suka jemput kebanyakan pacarnya sih." jelas Petugas itu sambil terkekeh.
Eliya hanya memutar bola matanya malas lalu pergi begitu saja meninggalkan petugas bandara.
Dengan terpaksa Eliya menulis nama Ander di papan nama karena sudah hampir 7 tahun mereka tak bertemu, takut jika Eliya tak mengenali wajah Ander.
Menjemput Ander si anak manja
Begitulah isi dari papan yang Ia tulis.
Hampir seperempat jam Eliya menunggu dan akhirnya pesawat yang ditumpangi Ander sudah mendarat.
Eliya mulai maju ke depan dan meninggikan papan nya dengan kedua tangan nya.
Hingga Ia melihat pria tampan, sangat tampan dan gagah melihat ke arahnya dengan tatapan mengeryit membuat Eliya binggung ditambah lagi pria itu kini mendekat ke arahnya.
"Siapa Lo?" suara serak pria itu membuyarkan lamunan Eliya.
"Haa?"
Pria itu memutar bola matanya malas, "Siapa yang nyuruh Lo jemput gue?"
Karena terkejut sekaligus shock, Eliya menjatuhkan papan namanya.
"Jadi dia Ander? yakin? nggak salah? kenapa bisa berubah total gini sih?" batin Eliya.
Eliya tau jika sejak dulu Ander memang sudah tampan namun masih tak menyangka saja jika ketampanan Ander bertambah hingga terlihat sempurna seperti ini.
Sadar Eliya, sadar...
Ander yang merasa gadis penjemputnya sedikit aneh akhirnya berjalan meninggalkan Eliya. Cantik sih tapi aneh pikir Ander.
"Eh tunggu, Lo Ander?" Eliya mengejar Ander membuat Ander menghentikan langkahnya dan menatap intens ke arah Eliya.
__ADS_1
Suara, ya Ander kenal suara gadis ini.
Ander menatap ke arah Eliya dari atas sampai bawah berkali kali membuat Eliya merasa risih.
"E-lo si ugly?" gumam Ander pelan namun masih terdengar di telinga Eliya.
"Ugly?" Eliya penasaran siapa Ugly yang dimaksud Ander.
"Ck, jadi Lo tu Eliya?" tanya Ander yang langsung di angguki Eliya.
"Kenapa? nggak suka gue jemput? gue juga sebenarnya males jemput Lo!" ketus Eliya.
"Mana mobilnya? gue capek dan lagi males debat sama Lo!" kata Ander melangkahkan kakinya lebih dulu meninggalkan Eliya.
Eliya menatap heran ke arah Ander sebelum akhirnya Ia mengejar Ander dan memberitahu letak mobil Eliya.
Keduanya sudah berada didalam mobil, Eliya mulai melajukan mobilnya meninggalkan bandara. sementara Ander yang duduk dibelakang menatap ke arah Eliya dengan tatapan tak percaya.
Bagaimana mungkin gadis cengeng, dekil dan jerawatan bisa berubah secantik ini, ah iya cantik, Eliya memang terlihat sangat cantik sekarang.
Wajahnya mulus tanpa jerawat, kulitnya kini putih meski tertutup dengan jaket yang Eliya pakai namun tetap tertangkap di mata Ander kulit putih mulus milik Eliya.
Dengan rambut lurus sebahu yang dikuncir, beruntung leher Eliya tertutup dengan kerah jaket, jika tidak...
Oh tunggu dulu Ander, jangan terpesona, jangan...
Jangan lupakan wanita ini yang menyebabkan dirimu dulu dihukum.
Sekarang Ander sudah bertemu kembali dengan Eliya, bukankah waktu yang tepat untuk membalas perbuatan Eliya dulu.
Tanpa disadari Ander tersenyum devil ke arah Eliya, sementara Eliya yang tadinya fokus menyetir pun berubah gugup karena sedari tadi Ia sadar jika Ander melihat ke arahnya tanpa kedip.
"Ngapain sih Lo ngeliatin gue terus!" kesal Eliya tak tahan lagi.
"Lo cantik."
"Haaa?"
Blush, merona pipi Eliya.
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen biar rajin update😁
__ADS_1