
Rania memasuki hotel mewah yang baru saja disewakan Revan,
"Suka kan?" tanya Revan membuat Rania hanya mengangguk.
"Oke, gue balik dulu." Rania mengeryit heran menatap Revan.
"Nggak nginep Lo?" tanya Rania memberanikan diri.
Revan tersenyum dan mendekati Rania, "Kalau gue nginep, gue nggak bakalan tahan kalau nggak ngapa ngapain Lo, jadi lebih baik gue pu-"
Belum selesai ucapan Revan, Rania sudah mencium bibir Revan,
"Damn it, Lo yang mulai jadi jangan salahin gue!" ucap Revan mulai ******* kasar bibir Rania dan mendorong Rania ke ranjang.
Rania mendorong tubuh Revan yang masih berada di atasnya, setelah hampir satu jam pergulatan panas mereka.
Rania memunggungi Revan, membuat Revan hanya mengulas senyum. Revan lantas memeluk tubuh Rania dari belakang.
"Gila, gue capek." keluh Rania yang mengira Revan akan meminta nya lagi.
"Gue cuma mau meluk elo." seketika terasa helaan nafas Rania.
"Kadang gue ngerasa capek sama hidup gue."
"Apa karena mama lo?" tanya Revan.
"Bukan cuma itu."
"Ander?" tebak Revan yang membuat Rania seketika membalikan badan menghadap Revan.
"Gue nyesel udah pernah deketin tuh orang." balas Rania yang membuat Revan mengeryit heran.
"Dia bener bener udah ngehancurin hidup gue!"
Revan semakin penasaran dengan maksud ucapan Rania, "Kenapa Lo ngomong kayak gitu? dia pernah bikin masalah sama Lo?"
Rania menggeleng pelan, "Bukan dia, tapi gue yang bikin masalah sama dia."
Revan semakin mengeryit heran,
"Gue rekam pembicaraan kalian pas nongkrong di kafe gue!" sontak Revan terkejut.
"Anjir, jadi Lo tau kalau gue suka ngomongin cewek seksi?" Rania hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Revan.
__ADS_1
Revan menutup wajahnya malu, "Serius gue cuma ngomong doang, nggak ada niatan deketin cewek cewek seksi langganan bengkel gue!" Revan sampai mengacungkan dua jarinya.
"Gue nggak kaget sih, wajah Lo emang mesum."
Revan tersenyum malu, "Jadi itu masalah nya sampai Ander marah sama Lo?"
Rania mengangguk, "Awalnya emang niat banget buat ngehancurin hubungan mereka karena gue denger Ander nggak pernah cinta sama istrinya."
"Sebenarnya cinta, dia hanya belum bisa mengetahui perasaan nya sendiri." Rania mengangguk setuju.
"Dan melihat apa yang dia lakuin ke gue, yakin banget gimana cinta nya dia sama istrinya. makanya gue nyesel udah pernah ganggu hubungan mereka."
Revan mengangguk paham, "Emang apa yang dia lakuin ke elo?"
....
Ander yang baru saja sampai di kantor terkejut dengan kedatangan seseorang yang kini sudah berada di ruangan nya.
Awalnya tadi Ander ingin libur mengingat dia baru saja berbaikan dengan Eliya dan ingin menghabiskan waktu berduaan dengan Eliya setelah beberapa minggu mereka tak bersama namun sialnya, Eliya mendengarkan percakapan dirinya dengan Naya ditelepon yang menjelaskan akan ada banyak meeting hari ini membuat Ander dengan sangat terpaksa membatalkan liburnya karena Eliya terus memaksa Ia untuk berangkat.
Dan di sinilah dia sekarang, didalam ruangan dimana sudah ada Revan disana sepagi ini dengan wajah kesal menatapnya.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Ander heran.
"Gue tau bokap Lo kaya, Lo bisa lakuin apapun yang Lo mau tapi lihat lihat dong, Rania itu merintis kafe nya dari Nol dan dalam sekejap Lo hancurin gitu aja!" kata Revan dengan nada kesal membuat Ander semakin bingung.
"Maksud Lo itu apa? gue beneran nggak paham."
"Nggak usah pura pura bego! Lo kan yang nyuruh orang ngasih rekaman di setiap meja kafe Rania trus bikin para pelanggan nya marah. Tau nggak Lo, gara gara kelakuan clildish Lo itu Rania jadi harus nutup kafe nya!"
Ander hanya bisa melonggo mendengar kekesalan Revan, Ia sungguh tak melakukan apapun yang di tuduhkan Revan.
"Gue nggak nyangka, Lo bisa sejahat ini sama cewek."
Ander menghela nafas "Tapi gue nggak nglakuin itu." balas Ander acuh dan mulai sibuk dengan berkasnya.
"Gila, masih nggak mau ngaku Lo?" kesal Revan.
Ander menatap Revan jengah, "Gue beneran nggak nglakuin itu. Gue tau Li itu bucin sama tuh cewek tapi nggak seharusnya Lo percaya sama semua omongan dia. cari tau dulu kalau mau nuduh."
Revan diam cukup lama,
"Kita kenal udah dari orok, jeleknya kita udah tau semua lah. jadi Lo bisa mikir sendiri bener nggak tuh omongan si cewek!"
__ADS_1
Revan mengangguk setuju, "Tapi masa Rania bohongin gue?"
Ander hanya mengendikan bahunya "Ati ati aja deh sama cewek ular macam dia. kayak nggak ada cewek lain aja."
Revan menatap Ander kesal, "Nggak usah bacotlah. gue mau nikahin dia!"
Ander menatap Revan lalu seketika Ia tertawa, "Bagus deh, biar tuh cewek ada pawangnya."
Revan menatap Ander kesal lalu keluar dari ruangan Ander dengan menutup pintu sekeras mungkin agar Ander tau jika Revan kesal dengan nya, sementara Ander hanya terkekeh.
...
Didalam mobil, Ran sibuk mengetikan pesan lalu mengirimkan nya.
Semenit, dua menit tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Ran kembali mengetik pesan lagi berharap Ia mendapatkan balasan namun masih tetap tak dibalas padahal yang baru saja Ia kirimi pesan sedang online baru saja namun saat Ran mengirim pesan mendadak orang itu sudah tidak online.
Ran melempar ponselnya di dasboard lalu menghela nafas kasar dan seketika Ia tersenyum sendiri mengingat semalam Ia yang begitu memaksa meminta nomer telepon dari seseorang yang tak lain adalah Nana.
Entahlah, sepertinya Ran benar benar sudah jatuh cinta pada Nana. padahal Ia dulu sempat beberapa kali kesal pada Nana yang selalu bersikap jutek padanya.
"Jadi ini rumah kamu?" tanya Nana saat keduanya sudah sampai didepan rumah Ran.
Ran mengangguk, "Gimana? mau tinggal bareng di sini jadi istriku?" entah dapat dari mana Ran bisa berkata seperti itu. kata kata itu mendadak muncul begitu saja membuat wajah Nana seketika merah padam.
"Ak-aku balik duluan." kata Nana gugup, mulai menstarter motornya hendak pergi namun kunci motor diambil oleh Ran hingga motornya langsung mati.
"Kasih nomor Lo dulu." kata Ran setengah memaksa dan memberikan ponselnya pada Nana.
"Balikin kunci motornya!"
"Ketik nomor Lo, baru gue balikin." Dengan tatapan kesal Nana mengetikan beberapa angka di ponsel Ran membuat Ran tersenyum senang.
"Gue cek dulu bener nomor Lo apa bukan." Ran langsung saja mendial nomor itu dan sesaat Nana mengambil ponselnya dari slingbag nya dan memperlihatkan pada Ran.
"Oke, Lo jujur juga ternyata." Ran memberikan kunci motor pada Nana membuat Nana segera menyalakan motornya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat Ran terkekeh.
"Lucu juga tuh cewek kalau lagi malu malu kucing." Guman Ran yang sedang mengingat kejadian semalam.
Ran kembali mengecek ponselnya dan masih belum ada balasan dari Nana, "Emang bener bener minta disamperin tuh cewek!"
Segera Ran keluar dari mobilnya untuk menghadap bos besar.
BERSAMBUNG .....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA.