
Ran kini sudah berdiri didalam ruangan Ander membuat Ander yang masih sibuk dengan berkasnya menatap heran ke arah Ran. Pasalnya Ander belum memanggil Ran untuk datang tapi Ran sudah berada disana.
"Tuan tidak mengirim makan siang untuk Nona?" tanya Ran membuat Ander mengeryit heran. Ander menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya lalu menatap Ran curiga.
"Masih pukul 9 pagi, sepertinya istriku masih kenyang. ada apa? kenapa kau bersemangat sekali bertemu istriku?" tanya Ander curiga membuat Ran merutuki kebodohan nya.
Ran dengan bodohnya datang dan menawarkan diri tanpa melihat jam berapa ini. Ran pikir ini sudah siang dan waktunya makan siang.
Bagus Ran, kau membuka kuburan mu sendiri batin Ran tak berani menatap tatapan curiga dari Ander.
"Kau menyukai istriku?" pertanyaan Ander yang membuat Ran melotot.
"Ti-tidak Tuan, maafkan saya. Saya hanya ingin pergi mencari sarapan dan siapa tau Tuan juga ingin membelikan untuk Nona."
"Sarapan? di jam segini?" Ander terlihat masih mencurigai Ran.
"Say-saya memang sudah biasa sarapan di jam segini Tuan."
"Pergi saja, Eliya tadi sudah sarapan."
"Baik Tuan."
"Tunggu."
Ran yang berbalik ingin keluar pun menghentikan langkahnya.
"Ad-ada apa Tuan?"
"Mulai sekarang makan siang biar aku yang antar sendiri, kau jaga kantor saja."
Tentu saja ucapan Ander membuat Ran terkejut setengah mati. Jika dia tidak mengantar makan siang itu sama saja Ia tak akan ada alasan lagi untuk menemui Nana di toko.
"Ta-tapi, kenapa Tuan?"
"Kau mencurigakan sekali, aku hanya tak ingin orang yang ku percaya menusuk ku dari belakang." balas Ander santai yang membuat Ran melotot tak percaya. Posesif sekali Tuan nya ini.
"Ti-tidak Tuan, tentu saja tidak."
"Lagi pula mana berani saya mendekati Nona." Ran menambahi.
Ander mengibaskan tangan nya pada Ran, "Sudah keluar saja sana, kau menganggu ku saja."
"Ta-tapi Tuan, saya benar benar tidak menyukai Nona." Ran masih tak mau menyerah.
"Kubilang keluar, atau kau ku pecat!"
Ran hanya bisa menghela nafas pasrah lalu keluar dari ruangan Ander meskipun sebenarnya dirinya sangat kesal dengan tuduhan Ander yang sama sekali tak Ia lakukan.
"Ck, sial sekali!" gerutu Ran saat sudah berada diluar.
Ran sangat merutuki kebodohan nya, Ia melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan nya, memang ini masih terlalu pagi untuk makan siang.
__ADS_1
"Dasar bodoh." omel Ran sambil memukuli pelan kepalanya sendiri.
Ran kembali memasuki mobilnya, Ia mengambil ponselnya dan terlihat sangat senang saat mendapatkan notifikasi pesan dari Nana.
Nana
Ada apa? kenapa mengirim pesan banyak sekali
Ran tersenyum pesan nya di balas meskipun balasan Nana terlihat kesal.
Aku merindukan mu
Sent, Ran mengirim balasan pada Nana dan sedetik kemudian pesan Ran sudah dibaca oleh Nana namun hingga beberapa menit Ran menunggu, pesan nya masih belum mendapatkan balasan dari Nana.
"Ck, dasar menyebalkan." gerutu Ran mulai mengetikan pesan lagi pada Nana.
Kenapa tidak dibalas? apa kau tidak merindukanku juga sayang?
Sent... Ran sudah mengirimkan kembali pesan nya. Dan kali ini pesan nya tidak dibaca oleh Nana, bahkan Ran menunggu hampir 15 menit masih belum dibaca oleh Nana membuat Ran sedikit kesal.
"Oh, jadi kau ingin jual mahal padaku. Baiklah kita lihat saja nanti sayang siapa yang akan datang lebih dulu."
...
Sementara itu Nana terlihat sedikit kesal melihat banyak nya notifikasi pesan dari Ran dan juga balasan pesan dari Ran yang mengatakan jika Ran rindu padanya.
"Huh Rindu katanya? dasar buaya. aku tak akan terpengaruh dengan ucapan manisnya." omel Nana memasukan ponselnya ke dalam celemek tanpa melihat pesan dari Ran lagi.
"Eh, nggak apa apa mbak." Nana terlihat malu lalu mengaruk kepala nya yang tak gatal.
"Apa ada pelanggan yang menyebalkan lagi?" tanya Eliya yang sepertinya sudah biasa mendengar keluhan para pelayan toko tentang pelanggan menyebalkan.
Nana menggeleng pelan, "Bukan masalah toko kok mbak."
"Lalu apa? jangan jangan kau sedang marahan dengan kekasihmu?" goda Eliya yang langsung saja membuat Nana tersipu malu.
"Wah sepertinya ucapan ku benar ya." goda Eliya lagi.
"Eng-enggak kok mbak. bukan masalah pacar juga. lagian aku nggak punya pacar." jelas Nana tak ingin Eliya salah paham.
Eliya menatap Nana tak percaya, "Kau cantik seperti ini mana mungkin tak memiliki pacar!"
Nana kembali mengangguk, "memang nggak punya pacar kok mbak."
Eliya terdiam cukup lama, "Sepertinya kau akan cocok jika ku sandingkan dengan Ran, sopir Ander. Dia sepertinya juga tak memiliki pacar."
Uhuk ... uhuk...
Nana yang terkejut dengan ucapan Eliya hingga Ia terbatuk batuk.
"Kau baik baik saja? maafkan aku Nana aku tak akan mengatakan lagi." Eliya menjadi tak enak dengan Nana.
__ADS_1
"Eh nggak apa apa mbak, nggak tau nih kok tiba tiba keselek, kayaknya ada lalat masuk deh barusan." kata Nana membuat Eliya melotot namun sedetik kemudian Nana tertawa.
"Bercanda mbak."
"Ya udah mbak, aku balik ke sana dulu ya. kayaknya udah banyak yang datang tuh.".
Eliya hanya mengangguk,
Eliya diam menatapi punggung Nana yang pergi keluar.
"Apa jangan jangan mereka sudah saling mengenal?"
.....
Ander yang baru datang meletakan dua bungkus nasi padang di atas meja diruangan Eliya. Sementara Eliya masih berada diluar mengambil peralatan makan yang akan mereka pakai.
Pintu ruangan terbuka dan Eliya masuk dengan membawa dua piring, sendok dan gelas.
"Ck, kenapa tidak minta tolong salah satu karyawan toko untuk mengambilkan?" tanya Ander yang kini sudah bangkit dari duduknya dan mengambil piring dari tangan Eliya.
"Tidak apa, mereka juga sedang makan siang."
Ander dan Eliya sudah duduk di sofa, Eliya segera menyiapkan makanan di piring.
"Kenapa tumben sekali datang sendiri? biasanya juga menyuruh Ran kan?" tanya Eliya memberikan nasi padang yang sudah siap untuk di makan oleh Ander.
Bukan nya menerima piring yang Eliya berikan, Ander malah menatap Eliya dengan tatapan curiga.
"Ada apa?" tanya Eliya heran.
"Kau juga menyukai Ran?" tanya Ander terdengar menuduh.
Eliya terkejut dan menatap Ander tak percaya.
"Menyukai Ran? apa maksudmu?"
"Ran menyukaimu dan Kau juga menyukainya, jadi kalian saling menyukai selama ini?" tuduh Ander membuat Eliya membegap mulutnya sendiri dan menatap Ander tak terima.
"Kenapa malah melotot? jadi selama ini kalian berkhianat di belakangku?"
"Astaga, kau memulainya lagi!" kesal Eliya bangkit dari duduknya dan ingin pergi namun Ander menahan tangan Eliya.
"Lepaskan aku! jika kau masih menuduhku seperti itu lebih baik pergi saja sana!"
"Kau mengusirku?" Ander terlihay ikut kesal.
Eliya melepaskan pegangan tangan Ander, "Ya aku mengusirmu karena kau menuduhku menyukai Ran! aku sama sekali tak menyukainya!"
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1