DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
46


__ADS_3

Eliya terbangun pagi ini, tidak lagi menahan sakit Ia malah tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang masih terlelap disampingnya.


Sesuai dengan ucapan Ander semalam, pria itu benar benar memperlakukan dirinya dengan lembut, tidak lagi kasar seperti kemarin malam.


"Aku tau aku sangat tampan." mata Ander terbuka membuat Eliya buru buru membalikan badan, Ia sudah tertangkap basah menatap Ander.


"Terlalu percaya diri!"


Ander terkekeh lalu memeluk istrinya yang kini sudah memunggunginya.


"Bagaimana jika satu ronde lagi?"


Eliya mendelik mendengar permintaan Ander, Ia berbalik dan memukuli dada suaminya.


"Apa masih kurang semalam? aku bahkan hanya tidur 3 jam karena kamu meminta tambah terus!"


Ander terkekeh, "Jangan salahkan aku karena memiliki hasrat bercinta yang sangat over. seharusnya kamu bersyukur karena diluar sana banyak wanita yang mengeluh suaminya tidak bisa memuaskan."


Eliya hanya mendengus mendengar ucapan Ander. Jika di pikir pikir Ander memang benar seharusnya Ia bersyukur memiliki Ander yang gagah rupawan dan mampu membuatnya merasakan kenikmatan setiap malam. Oh tidak Eliya, kenapa pikiranmu jadi kotor seperti ini.


Eliya menepuk pipinya menyadarkan dirinya sendiri.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" kekeh Ander melihat wajah memerah malu milik Eliya.


"Jangan bilang kau juga mengakui milik ku sangat hebat!"


"Ti-tidak, dasar pria mesum... bisa bisa membahas hal kotor seperti ini!" Eliya bergegas bangkit dan meninggalkan Ander yang terkekeh.


"Hey, pria mesum ini yang bisa membuatmu mendesah dan menjerit setiap malam." teriak Ander yang masih bisa didengar Eliya didalam kamar mandi.


"Dasar menyebalkan." omel Eliya merasa wajahnya sudah panas, rasanya malu sekali. Eliya segera melucuti piyamanya, setelah melakukan ronde terakhir Ander selalu memakaikan kembali piyama Eliya karena tak ingin Eliya sakit karena tidur dengan keadaan tak berpakaian. Mengingat itu kadang membuat Eliya merasa diperhatikan dan disayang.


"Berandal itu sudah berubah menjadi suami yang baik." gumam Eliya.


"Oh lihatlah bercak merah ini, bagaimana bisa Ia membuat sebanyak ini tanpa aku sadari." heran Eliya melihat seluruh dadanya dipenuhi bercak tanda cinta Ander.


Eliya segera menyalakan shower dan berdiri dibawahnya, Ia siram seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower


Rasanya menyegarkan, mengingat pergulatan panas semalam membuatnya berkeringat dan tubuhnya terasa lengket.


Selesai mandi Eliya keluar dengan mengenakan jubah mandinya, Ia melihat Ander masih menyandarkan diri diranjang dengan menatap layar tab yang kini ada di tangan nya.


"Mungkin hari ini aku pulang malam." kata Ander menghentikan langkah Eliya.


"Kenapa?"


"Ada banyak pekerjaan hari ini, jadi jangan menungguku. jika sudah mengantuk tidur saja lebih dulu."


"Baiklah." balas Eliya. Entah mengapa saat Ander mengatakan itu padanya ada perasaan aneh yang Ia rasakan. seperti rasa kecewa namun Eliya juga tak mengerti mengapa harus kecewa.


Ander bangkit dan mencium bibir Eliya "Aku mau mandi dulu." bisiknya lalu memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Eliya menggelengkan kepalanya lalu berjalan memasuki walk in closet.


Eliya sedang mengoleskan selai di roti bakar yang baru saja matang, sementara Ander yang kini sudah rapi dengan setelan jas nya menghampiri Eliya lalu mengecup pipi Eliya dari belakang.


"Apa yang kau buat?"


Tentu saja Eliya terkejut dengan perlakuan Ander.


"Hanya kopi susu dan roti bakar."


Ander mengangguk "Jangan memasak makanan berat dipagi hari, aku tidak terlalu menyukainya."


Eliya mengeryit "Lalu nasi goreng yang kemarin?" Eliya ingat jika kemarin pagi Ia membuatkan Ander nasi goreng.


"Tentu saja sudah habis aku makan, lagipula istriku sudah membuatkan untuk ku, mana mungkin aku buang."


Blush.. Eliya kembali tersipu dengan ucapan Ander.


"Dasar tukang rayu." batin Eliya.


Selesai sarapan, Mereka turun ke bawah dan didepan sudah ada Ran yang menjemput mereka.


"Nanti saat pulang kamu hubungi Ran, biar dia yang menjemputmu." kata Ander kala keduanya sudah memasuki mobil.


"Tidak perlu, aku bisa naik taksi."


"Tidak ada bantahan. Kau dengar Ran, setiap sore kau harus menjemput Istriku." kata Ander tegas membuat Eliya lagi lagi tersipu.


"Baiklah Tuan, Saya akan menjemput Nona setiap sore."


Mereka sudah sampai didepan toko bunga, Eliya selesai mencium punggung tangan suaminya hendak keluar namun Ander menahannya dan lagi lagi mencium bibir Eliya membuat Eliya malu lalu memukul dada Ander.


"Bagaiman jika Ran melihat." kesal Eliya.


"Tenang saja Nona, saya sudah menutup mata saya dan tak melihat apapun." suara Ran didepan membuat Eliya bertambah malu.


Ander hanya terkekeh, sementara Eliya segera keluar dari mobil dengan wajah memerah malu.


....


Randi dan Revan menikmati senja di kafe milik Rania, tempat mereka biasa menghabiskan waktu hanya sekedar bercanda atau mengbrol sesuatu.


"Ander benar benar sedang menikmati peran nya sebagai pengantin baru hingga melupakan we time bersama." celetuk Revan.


"Ya biarkan saja mereka menikmati masa masa indah berdua." balas Randi acuh.


"Tapi aku tidak yakin Ander menerima pernikahan itu!"


"Entahlah, tapi jika dilihat Ander menyukai ugly."


"Hey, dia sudah cantik kenapa kau harus menyebutnya seperti itu." protes Revan.

__ADS_1


Randi hanya mengedikan bahunya "Sudah terbiasa."


"Kenapa kalian cuma berdua? mana Ander?" tanya Seseorang dibelakang Revan yang tak lain adalah Rania.


"Etciee... mencari Ander nona?" goda Revan membuat Rania duduk disamping Revan dan menatap Revan sebal.


"Dia mungkin akan jarang berkumpul di sini." balas Randi.


"Kenapa?" tanya Rania.


"Jangan katakan pada nya." Revan menatap Randi penuh harap.


"Dia sudah married, tentu saja dia menghabiskan waktu bersama istrinya." kata Randi tak mengindahkan permintaan Revan.


Seketika wajah Rania berubah pucat "Me-menikah?"


"Ya dia sudah menikah beberapa hari yang lalu mungkin pestanya akan digelar bulan depan." jelas Randi lagi.


"Ti-tidak, mana mungkin seperti itu." Rania menatap Randi tak percaya, Ia segera bangkit dan meninggalkan Revan dan Randi.


"Ada apa dengan nya?" tanya Randi pada Revan.


"Sudah ku bilang jangan katakan padanya, kau ini benar benar menjengkelkan." kata Revan lalu bergegas menyusul Rania.


"Mereka kenapa?" Randi heran dengan sikap Rania dan Revan yang mendadak pergi meninggalkan nya.


Revan keluar dari kafe menuju taman kecil yang ada dibelakang kafe. Disana Ia menemukan Rania yang tengah duduk menatap keheningan malam.


"Untuk apa kau kesini? untuk menertawakan kebodohan ku?" Revan yang baru ingin duduk disamping Rania pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih berdiri disamping Eliya.


"Bukankah aku bodoh, menunggu seseorang yang sama sekali tak melihat keberadaanku." kata Rania lagi.


"Cinta nggak bisa dipaksa, kita harus sadar itu." kata Revan.


"Siapa istrinya? apa aku mengenalnya?"


"Tidak, kamu tidak mengenalnya. Dia menikah karena ketahuan tidur bersama anak dari sopir Daddy nya."


"Anak dari seorang sopir?" Rania terkekeh geli.


"Ya, dia langsung menikah saat itu juga."


"Jadi mereka tak saling mencintai?" tanya Rania yang langsung di angguki Revan.


"Masih ada harapan untuk ku." Rania tersenyum puas sementara Revan hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN


..

__ADS_1


__ADS_2