DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
49


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Ander, siang ini Eliya pergi ke kantor Ander mengantar makan siang untuk Ander. Ran yang menjemput Eliya pun segera membawa Eliya ke ruangan Ander.


"Silahkan Nona." Ran membuka pintu ruangan dan disana terlihat Ander sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui via telepon.


"Seharusnya tidak begitu!" suara Ander terdengar marah.


"Ya sudah kita batalkan saja perjanjiannya." Ander menutup telepon lalu memasukan ponselnya ke dalam kantong celana.


Eliya yang masih berdiri didepan pintu melihat raut wajah emosi Ander, sedikit menakutkan memang saat wajah tampan berubah menjadi garang.


"Kamu sudah datang?" tanya Ander tanpa menatap Eliya, malah sibuk memilah milah berkas yang ada di meja nya.


"Apa ada masalah? aku menganggumu?" Eliya tak nyaman dengan sikap Ander yang cuek seperti ini tidak semanis biasanya.


Terdengar suara helaan nafas Ander, meletakan semua berkas dan mendekati Eliya.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Ander terdengar lebih baik dari tadi.


"Mie ayam, buatan ku sendiri." Eliya duduk di sofa yang ada disana. mulai menata makanan di atas meja.


"Kenapa tidak membuat spaghetti saja?"


Eliya menatap ke arah Ander, "Kamu tidak suka mie ayam, bukan nya dulu waktu sekolah kamu-"


Belum sempat Eliya meneruskan ucapannya, bibirnya sudah dilumat oleh Ander, membuat Eliya yang tak siap pun terkejut.


Ander ******* kasar bibir Eliya, mendorong Eliya hingga berbaring disofa. Tangan kekar Ander meremas kasar gunung kembar Eliya membuat Eliya merasakan nyeri namun tak bisa berbuat apapun.


Eliya tau, Ander sedang emosi melihat baru saja Ander marah marah di telepon namun bukankah tidak seharusnya Ander melampiaskan ini semua padanya.


Eliya hanya diam dan pasrah menikmati cecapan kasar Ander hingga cukup lama akhirnya Ander melepaskan tautan bibirnya.


Nyatanya tak hanya sampai di situ saja, dengan cepat Ander melepaskan kancing baju Eliya serta celana Eliya hingga Eliya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun.


"Bagaimana dengan pintunya?" protes Eliya yang sama sekali tak di gubris Ander.


Dengan cepat Ander segera menghujami Eliya dengan surga dunia membuat Eliya hanya pasrah dan menikmati semua perlakuan Ander.


Ander menghentikan gerakannya setelah mendapatkan pelepasan, Ia kecup kening Eliya lalu berbaring disamping Eliya.


"Kita harus segera pakai baju." kata Eliya dengan nada dingin.


Ander mengangguk setuju, Ia bangkit dan mengambilkan pakaian Eliya yang bercecer dilantai. Ia baru ingin memakaikan baju Eliya namun segera tangannya ditepis oleh Eliya.

__ADS_1


"Marah?"


Eliya tak mengubris malah sibuk menautkan kancing baju miliknya hingga membuat Ander kesal dan menahan tangan Eliya.


Eliya menatap wajah Ander dengan tatapan datar,


"Maaf." kata Ander yang sepertinya merasa menyesal telah berbuat kasar lagi pada Eliya.


"Tidak masalah, lagi pula sudah biasa!"


"Aku hanya kesal jika kamu menyebutkan tentang masa lalu."


Eliya mengeryit heran, "Masa lalu? kenapa?" tanya Eliya curiga.


"Tidak apa apa, hanya saja aku tidak suka."


"Apa alasan nya?" Eliya semakin penasaran.


"Tidak ada apa apa, hanya saja semua sudah berubah."


Eliya menghela nafas karena tak mendapatkan jawaban memuaskan dari Ander.


"Bukankah kamu tadi membawa mie ayam? ayo kita makan sekarang sebelum mie nya semakin mengembang." ajak Ander.


Lagi lagi Eliya hanya bisa menghela nafas dan segera menyiapkan makan siang untuk istrinya itu.


....


Sudah hampir 4 minggu Eliya dan Ander menjalani biduk rumah tangga, mereka kini sudah terbiasa dengan keberadaan satu sama lain. meskipun Ander masih tetap kukuh ingin melanjutkan ajang balas dendamnya sangat berbeda dengan Eliya yang sudah terlihat jelas mulai mencintai Ander.


"Hari ini ada fiting baju pengantin di butik rekomendasi dari Mom." jelas Eliya saat keduanya sarapan bersama.


Memang beberapa hari lagi akan diadakan pesta pernikahan Eliya dan Ander. Pesta yang sudah di siapkan oleh Alex disebuah hotel mewah.


"Aku akan datang menyusul." balas Ander lalu mengigit sadwich buatan Eliya.


"Jam 2 siang dan pastikan tidak terlambat." kata Eliya memperjelas.


"Baiklah Tuan putri, Akan kupastikan tidak datang terlambat." balas Ander membuat Eliya terkekeh.


Seperti biasa, saat berangkat Ander mengantar Eliya lebih dulu sebelum menuju kantornya.


Memasuki kantornya, Ander berhenti tepat didepan meja Naya sekretarisnya.

__ADS_1


"Pastikan tidak ada meeting nanti siang jam 2 karena aku harus pergi."


"Baiklah pak."


"Maaf pak baru saja ada yang menghubungi nomor kantor." jelas Naya sebelum Ander pergi.


"Siapa?"


"Namanya Revan, katanya-"


"Sudah, jangan dilanjutkan lagi. aku sudah paham." kata Ander lalu pergi meninggalkan meja Naya.


Ander duduk dikursi kebesarannya, Ia langsung tersenyum mengingat Ia hampir saja lupa jika memiliki 2 adik menyebalkan yang mungkin merindukannya.


Sudah lama sekali, hampir satu bulan Ia tak menemui mereka berdua, setelah menikah dan bekerja Ander bahkan tidak sempat untuk datang ke tempat tongkrongan dikafe milik Rania.


Dan sepertinya, Malam ini Ia harus datang untuk melepas rindu dengan kedua adiknya sekaligus memberikan undangan agar datang ke pesta pernikahannya meskipun tanpa di undang pun mereka pasti akan tetap datang.


Tepat pukul 2 siang, Ander sudah sampai di butik langganan Mom nya dan disana sudah ada Eliya yang asyik mengobrol dengan Mom dan Bunda Eliya.


"Nih anaknya baru dateng." Celetuk Ella, Langsung saja Ander mengambil tangan Mom nya untuk Ia cium tak lupa tangan Bunda Eliya yang juga Ia cium.


"Nggak telat kan?" kata Ander dengan nada angkuh.


"Iya iya nggak telat." Eliya membalas dengan malas.


Eliya dan Ander pun memasuki ruang fitting room dan mulai mencoba baju pengantin mereka.


Awalnya Ander yang keluar, dengan setelan kemeja dan jas warna biru laut membuat Ander terlihat semakin menawan.


Dan saat pintu ruang fitting room milik Eliya terbuka, semua mata memandang ke arah Eliya tak terkecuali Ander yang langsung melonggo di buatnya.


Gaun pengantin warna biru laut senada dengan baju Ander dengan belahan dada yang tidak terlalu rendah namun di bagian punggung yang terbuka menampilkan punggung mulus milik Eliya membuat Ander menatap Eliya tak kedip.


"Cantik banget sih mantu mom, ini aja belum pake make up lho, coba kalau udah bisa bisa lakinya langsung ngiler." Cibir Ella membuat Ander sadar dari lamunannya.


"Apaan sih Mom." Ander kesal karena godaan receh Ella.


"Eliya suka kan sama gaun nya?" tanya Ella.


"Suka kok Mom." balas Eliya malu malu apalagi melihat Ander menatapnya tanpa kedip membuat Eliya semakin tersipu.


"Nggak nyangka gue, cewek dekil nan nyebelin macam Eliya bisa berubah jadi bidadari kayak gini. serius bisa tambah gila gue liat ginian." batin Ander masih memandangi Eliya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN..


__ADS_2