
Siang ini Randi keluar dari bandara, setelah baru saja Ia mendapatkan pesan dari manager nya jika pemotretan nya dicancel membuatnya sedikit kesal karena Ia sudah berada di bandara.
Randi menutup pintu mobilnya sedikit kasar, saat Ia hendak menghidupkan mobil matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang sangat Ia kenali.
Rania.
Baru kemarin pagi Ia melihat Rania bersama Revan keluar dari hotel dan sekarang wanita itu tengah keluar dari bandara dengan seorang pria yang kini merangkulnya erat.
Terlihat Rania dan Pria itu sangat akrab, sesekali mereka tertawa hingga mereka memasuki sebuah mobil yang tak jauh dari mobil Randi.
Karena penasaran, Randi akhirnya mengikuti mobil itu yang nyatanya mobil yang Rania dan pria itu tumpangi memasuki sebuah hotel membuat Randi sangat terkejut.
Bagaimana Ia harus mengatakan pada Revan? sedangkan Randi tau Revan begitu mengilai wanita itu. Wanita yang nyatanya bukan wanita baik baik.
Segera Randi memutar balik mobilnya untuk pergi ke bengkel Revan.
Dan di sinilah sekarang, Randi yang sedang berada direstoran melihat Revan menghampiri sebuah meja dimana disana ada Rania dan pria itu.
Randi memang sengaja mengajak makan siang Revan didekat hotel yang Rania masuki bersama pria tadi dan beruntung karena Rania makan siang di sini bersama pria itu jadi Randi tak perlu menjelaskan pada Revan yang mungkin tak akan mempercayainya.
Dan sekarang Randi melihat Revan dari meja nya tanpa ikut menemani Revan yang sedang emosi disana.
Sementara Revan yang kini duduk di depan Rania yang sedang bersama pria lain menahan emosi agar tak sampai membuat malu dirinya sendiri.
"Van," satu kata yang Revan dengar dari bibir tipis Rania. Tak ada rasa terkejut atau menyesal dari raut wajah Rania, malah terlihat biasa saja.
"Siapa dia?" tanya Revan matanya menatap tajam Rania.
"Dia-"
"Gue cowoknya, Lo siapa?" balas Pria yang mungkin seumuran dengan Revan.
Revan tersenyum tipis, dalam hati Ia menertawai dirinya yang begitu bodohnya mengharapkan Rania.
"Oh, cuman temen. Ya kan?" balas Revan dengan nada datar membuat Rania sedikit gugup.
"Y-ya, dia temen." kata Rania pada Pria yang ada disampingnya. dan tentu saja ucapan Rania memperjelas statusnya dengan Revan.
"Oke, lanjut aja makan siang nya, sorry ganggu." kata Revan bangkit lalu pergi meninggalkan meja Rania.
Revan menghampiri Randi yang tengah asyik menyantap makan siang nya lebih dulu.
__ADS_1
"Sialan." desis Revan menarik kursi lalu mendudukinya.
"Minum dulu brother, abis liat yang panas panas minum yang seger seger biar fresh." Randi menyodorkan segelas ice lemon tea pada Revan. Tatapan Randi terlihat mengejek membuat Revan semakin kesal saja.
Sekali tegukan ice lemon tea habis seketika membuat Randi menggeleng tak percaya, "Gila, panas beneran nih ternyata."
"Nggak usah banyak bacot." Revan menatap Randi kesal lalu Ia segera menyuapkan makanan yang Ia pesan ke mulutnya.
"Pelan pelan brother, kalau Lo keselek trus mati nanti dikira bunuh diri gegara tuh cewek!"
Uhuk.. uhuk... ucapan Randi seketika membuat Revan tersedak.
"Sialan Lo!" Randi hanya terkekeh.
Usai menghabiskan makanan nya, Revan segera bangkit dan menyambar kunci mobil yang ada di meja.
"Gue tunggu di mobil." Revan segera pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari Randi.
"Bayar dulu kek." gerutu Randi kembali melanjutkan suapan nya.
Selesai makan dan membayar, Randi segera menyusul Revan yang kini sudah di mobilnya.
"Gue pikir Lo bunuh diri di sini." ejek Randi sesaat setelah memasuki mobil.
Randi terkekeh, "Kan udah gue bilang dari dulu kalau dia bukan cewek baik baik. Lo nya sih ngeyel."
Revan hanya menghela nafas lelah, sejujurnya Ia juga tak ingin memiliki perasaan pada Rania sedangkan diluar sana banyak sekali perempuan yang mendekatinya yang mungkin lebih lebih baik dari Rania.
Entahlah, perasaan Revan selalu saja pada Rania meskipun sudah di campakan berkali kali.
Dan semalam, Revan bahkan sudah memikirkan berbagai cara agar Ia bisa menikah dengan Rania, Ia juga sudah berencana untuk mendekati Mama Rania secara perlahan agar mendapatkan restu namun nyatanya kini Rania malah bersama pria lain dan masih saja menganggap dirinya sebatas teman.
Dan setelah ini Revan sudah bertekad untuk melupakan Rania dan melepaskan segala nya tentang Rania. Revan benar benar ingin move on dari cinta pertamanya itu.
"Gue nggak nyangka semua bakal kayak gini, gue pikir kalau gue usaha deketin dia trus bisa bikin dia luluh tapi nyatanya." Revan tersenyum miris.
"Nggak masalah, masih banyak cewek ini." kata Randi menghibur.
"Gue punya solusi biar Lo nggak patah hati lagi."
"Apa?"
__ADS_1
"Ntar malem kita clubbing."
Revan hanya terkekeh,
Malam harinya, Revan dan Randi sudah berada di sebuah club malam langganan Randi.
"Gila, kalau bokap Gue tau bisa di gorok gue!" kata Revan tepat di telinga Randi. Karena musik Dj yang begitu keras hingga terdengar seisi club membuat keduanya harus berbisik ditelinga jika ingin mengatakan sesuatu.
"Dasar anak manja." ejek Randi.
Revan hanya tersenyum tipis. cukup mengerti jika Randi memang kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya yang sibuk dengan bisnis mereka membuat pergaulan Randi sedikit bebas dari Revan dan Ander yang cukup kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Revan baru ingin meneguk satu gelas whisky yang Randi pesankan namun sebuah suara dari belakang membuat Revan menyemprotkan minuman nya sebelum Ia teguk.
"Ngapain kamu di sini?"
...
Malam ini Eliya menyiapkan makan malam tanpa mengatakan sepatah katapun. Ya sejak Ander menuduhnya memiliki hubungan dengan Ran, seharian kemarin Eliya memang mendiamkan Ander.
Kadang Ander menanyakan sesuatu dan Eliya hanya menjawab seperlunya saja membuat Ander kesal dan kembali menuduhnya.
Entahlah Eliya juga tak habis pikir kenapa Ander bisa berpikir Ia memiliki hubungan dengan Ran.
"Masak apa?" Ander mendekat ke arah Eliya yang langsung membuat Eliya mencium bau harum dari tubuh Ander yang baru saja mandi.
"Steak daging."
Eliya mengambil satu steak di piring tak lupa sayuran serta saus steak dan meletakan di depan Ander yang sudah duduk.
"Enak sekali." puji Ander saat menyuapkan seiris steak ke mulutnya membuat Eliya yang mendengar langsung tersenyum lega.
"Nggak usah senyum senyum, aku masih kesal padamu!"
Dan suara menyebalkan Ander membuat Eliya kembali kesal.
Eliya menghentakan kedua kakinya lalu pergi meninggalkan Ander.
"Sayang makan dulu makan malam mu." teriak Ander yang tak mendapatkan jawaban hanya suara pintu yang tertutup keras.
"Dasar pria menyebalkan, baru saja Ia mengatakan jika masih marah dan sekarang sudah memanggil sayang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komen...