
Revan memasuki club yang dimaksud Randi, matanya melihat seisi club. Hingga Ia melihat sekumpulan wanita berpakaian seksi yang sedang tertawa sambil memegang gelas wine ditangan mereka.
Revan segera menghampiri ke arah mereka karena salah satu dari mereka adalah Rania yang memakai dress ketat dibawah lutut. meski dress yang dipakai Rania tidak terlalu terbuka namun tetap saja lekuk tubuh Rania terlihat jelas sekali.
Tanpa mengatakan apapun, Revan segera memegang tangan Rania lalu mengajaknya keluar membuat semua orang terkejut termasuk Rania sendiri.
"Gila, siapa tuh cakep banget!"
"Pacar nya Rania mungkin."
"Cakep banget, dapet dari mana tuh bocah."
Teman teman Rania mulai berbisik, Rania sendiri yang terkejut dan melihat Revan yang menariknya berusaha melepaskan diri.
"Lepasin gue." kesal Rania namun tak di gubris oleh Revan.
Hingga kini keduanya sudah berada di luar club, barulah Revan melepaskan Rania.
"Apa apaan sih Lo! main tarik tarik tangan gue!"
Rania hendak berbalik memasuki club namun dengan cepat Revan memegang tangan Rania lalu membawa masuk ke mobil.
"Lo pulang sama Gue, gue anter!" tegas Revan kala mereka sudah berada di dalam mobil.
Rania malah terkekeh, "Siapa Lo nyuruh nyuruh gue!"
"Mau gue bukan siapa siapa kek, yang jelas sekarang gue anterin Lo pulang."
"Gue nggak mau!" Rania hendak membuka pintu mobil namun sayangnya Revan sudah mengunci pintu mobil nya.
"Bukain nggak!"
"Nggak akan." Revan acuh hendak menyalakan mobilnya namun ucapan Rania seketika menghentikan gerakan nya.
"Lo itu bukan siapa siapa Gue! jadi jangan bersikap seolah olah Lo itu-"
"Mulai sekarang gue bakal jadi siapa siapa Lo!"
Rania terdiam menatap ke arah Revan,
"Apa yang udah gue lakuin kemarin Gue bakal tanggung jawab, Lo mau atau enggak gue bakal tetep tanggung jawab, jadi mulai sekarang Lo milik Gue! mau ataupun Enggak, Lo tetep milik gue!" kata Revan tegas.
Rania hanya membisu, entah mengapa ucapan Revan membuatnya sedikit terharu, dan tak berapa lama tangis Rania pun pecah membuat Revan bingung.
"Lo itu brengsek! Lo itu cowok sialan. bisa bisanya Lo baru nemuin gue. kemana aja Lo dasar cowok brengsek." Rania memukuli dada bidang Revan membuat Revan tersenyum lalu membawa Rania ke dalam pelukan nya.
"Jadi Lo nungguin gue?" Revan masih tersenyum tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
Rania yang kesal melepaskan pelukan Revan lalu kembali memukulinya "Dasar cowok brengsek nggak peka, bisa bisanya Lo ninggalin gue setelah apa yang Lo lakuin ke gue."
Revan menahan tangan Rania hingga Rania tidak bisa memukuli Revan, "Lo yang bilang kalau nggak sudi nikah sama gue pagi itu, lupa?"
__ADS_1
Rania ingat, Rania benar benar ingat jika Ia mengatakan itu pagi setelah terjadinya malam panas bersama Revan namun tentu saja Rania tidak benar benar serius mengatakan itu. Ia hanya terkejut dan kesal dengan apa yang terjadi membuatnya mengatakan itu pada Revan namun sejujurnya Rania juga mengharapkan pertanggung jawaban dari Revan.
Tentu saja Revan harus tanggung jawab, Revan sudah berani mengambil mahkota nya dan siapa juga yang akan mau dengan nya yang sudah tidak perawan.
"Jadi apa Lo sekarang berubah pikiran? udah sudi gue nikahi?" tanya Revan sedikit mengoda membuat Rania hanya menunduk.
Tak mendapatkan balasan dari Rania, Revan segera melajukan mobilnya meninggalkan club.
"Ck, temen gue lagi ultah. dirayain di club." entah apa yang Rania pikirkan Ia hanya ingin menjelaskan pada Revan membuat Revan tersenyum.
"Jelasin nih?" goda Revan dengan wajah tengil membuat Rania kesal.
"Ngeselin deh."
Revan terkekeh lalu mengelus lembut rambut Rania dengan tangan kirinya,
"Apa sih, nggak usah pegang pegang." Rania menatap Revan kesal.
Revan memanyunkan bibirnya, "Nggak inget apa kemarin keenakan gara gara dipegang."
"Ngomong apa kamu?"
"Eh nggak ada."
Rania kembali cemberut, hingga kini mobil Revan sudah terparkir dihalaman depan rumah Rania.
"Temenin nggak?" goda Revan saat Rania melepaskan seatbeltnya.
"Nggak usah macem macem!"
Rania keluar dari mobil diikuti oleh Revan,
"Ngapain sih?" sewot Rania melihat Revan mengikutinya memasuki rumah.
"Mastiin aja kalau Lo aman."
"Modus!"
Revan kembali terkekeh namun tetap mengikuti Rania memasuki rumah.
"Nyaman juga nih!" gumam Revan sudah duduk disalah satu sofa yang ada di ruang tamu.
"Bikinin kopi boleh deh." celetuk Revan.
"Lo pikir ini kafe, udah malem pulang sana! mau di grebek sama orang sini?" kata Rania dengan nada kesal.
"Asyik juga tuh, biar bisa nikah sek- aduh duh." Revan mengaduh kesakitan kala Rania menjewer telinga Revan.
"Kalau ngomong tuh yang bener dong." kesal Rania.
Revan tersenyum tengil lalu menarik tangan Rania hingga Rania duduk dipangkuan Revan. Awalnya Rania memberontak namun karena tenaga Revan lebih kuat akhirnya Rania hanya diam pasrah.
__ADS_1
"Berani jewer gue?" tanya Revan mendekatkan wajahnya pada Rania yang kini terlihat gugup.
"Le-lepas nggak!"
"Nggak akan." Revan terlihat cengengesan dan berusaha mendekatkan wajah keduanya namun baru saja ingin menempelkan bibirnya,
Tox tox tox... ketukan pintu terdengar membuat Revan dan Rania terkejut.
"Shhh, sial!" gerutu Revan kala Rania bangkit dan ingin membuka pintu depan.
....
Selesai mengunci toko, Ran memberikan kunci pada Nana yang menunggu di belakangnya. Sejak ucapan Ran siang tadi membuat Nana menjadi pendiam. bahkan Nana belum mengatakan apapun hanya mengangguk saja jika ditanya.
Ran merogoh ponselnya, hendak memesan taksi online karena ini sudah larut malam pastilah akan sedikit susah mendapatkan taksi lewat di jam seperti ini.
"Ck, sialan." gerutu Ran kala melihat ponselnya mati.
Ran menatap ke arah Nana yang sedang mengeluarkan motornya dari tempat parkir membuatnya terlintas ide bagus.
"Gue nebeng dong." Seketika Ran mendapatkan tatapan terkejut dari Nana.
"A-apa? nggak mau!" balas Nana tanpa menatap Ran.
"Pelit banget, sama pacar sendiri." Nana melotot ke arah Ran tak terima.
"Kenapa? tadi siang aku nanya kamu ngangguk jadi fix kita resmi jadian."
"A-apa? nggak bisa gitu dong!" protes Nana dengan wajah kesal.
"Bisalah, apapun bisa kalau sama aku." kata Ran sambil tersenyum tengil. Ran merebut motor Nana lalu menaiki di jok depan.
"Ayo, keburu malem sayang."
"Minggir nggak? aku nggak mau nganter kamu dan nggak mau juga jadi pacar kamu!" kesal Nana.
"Sayangnya aku nggak terima penolakan! nggak mau naik? ya udah nih aku tinggal."
Nana hanya menatap Ran kesal, "Motor siapa yang ditinggal siapa!" gerutu Nana membuat Ran terkekeh.
Nana pun membonceng di jok belakang,
"Pegangan sayang, aku nggak mau kamu jatuh nanti."
BERSAMBUNG....
Haloo readerss...
maafkan author mu yang baru nonggol hehe...
sakit hampir 10hari yang bikin nggak up beberapa hari... untung nya sebelum sakit aku punya simpenan update tan jadi baru 3 hari nggak update , aslinya malah semingguan nggak update..
__ADS_1
lagi sakit bener2 nggak bisa diajak mikir...
Semoga nggak lupa sama jalan ceritanya yaa.. dan makasih buat kalian yang msih nunggu😍😍😘😘