DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
52


__ADS_3

Hari hari berikutnya, Ander masih sering merasakan mual. namun hanya saat pagi hari saja dan saat makan makanan tertentu. Sempat Eliya membawa Ander kerumah sakit namun dokter hanya mengatakan jika Ander hanya salah makan membuat keduanya frustasi dengan penyakit apa yang diderita Ander.


Dan malam ini adalah malam pesta pernikahan mereka, Eliya dan Ander berada diruangan masing masing untuk persiapan pesta.


Ander yang kini berada didepan cermin terlihat merapikan kemeja yang ia pakai.


"Ciah, ganteng amat pengantin nya." celetuk Revan yang baru saja memasuki ruangan Ander.


Ander hanya membalas senyum sinis, "Randi mana?"


"Masih marah sama Lo, kalau Lo kau batalin rencana Lo itu dia baru mau ngomong lagi."


Ander malah terkekeh "Tapi dateng kan?"


Revan mengangguk, "Udah diluar noh anaknya sama para bapak bapak."


Ander mengangguk dan kembali fokus didepan cermin,


"Rania juga datang."


Ander tersenyum masam, "Padahal nggak gue undang."


"Ck, Lo boleh nolak cinta dia tapi nggak harus juga Lo ngehindar sampai begini. gimanapun dia yang udah bantuin kita waktu susah dulu."


Ander menghela nafas, "Gue mau liat Eliya dulu."


Entah mengapa membicarakan masalah Rania membuat Ander sangat malas. Ander keluar dari ruangannya dan berniat memasuki ruangan Eliya yang berada tepat disamping ruangan Ander.


"Mau kemana?" tanya Ella yang baru keluar dari ruangan Eliya.


"Mau masuk Mom,"


"Eits... nggak boleh masuk!" Ella berada didepan pintu dan mencegah Ander masuk.


"Apa sih Mom, cuma mau liat doang pelit banget."


"Surprise dong, lagian belum selesai dirias." jelas Ella.


"What? belum selesai? lama banget Mom."


"Namanya juga wanita." kikik Ella.


"Sini kamu ikut Mom, ada yang mau Mom tanyain." Ella menarik lengan Ander membawa Ander duduk disalah satu kursi yang ada disana.


"Ngomong apa sih mom?"


"Katanya kamu suka mual?"

__ADS_1


Ander mengangguk, "Mual, pusing, tapi periksa katanya nggak apa apa."


"Apa mungkin Eliya hamil?" Ella menebak yang sontak membuat Ander terkejut.


"Ha-hamil Mom?"


Ella menatap putranya aneh, "Kamu kok kaget gitu? apa jangan jangan kalian belum tidur bareng?" tebak Ella mengingat dirinya dan Alex dulu juga tidak langsung tidur bersama setelah menikah.


"Eh, udah dong mom. cuma kaget aja kok cepet banget hamilnya."


"La kalian aja udah nikah sebulan kan?"


Barulah Ander ingat jika Ia memang sudah melakukan selama sebulan dan selama itu pula Ander selalu mengeluarkan di dalam.


"Coba deh besok diperiksa, siapa tau dapet kabar baik." kata Ella tersenyum senang.


"Tapi kok yang ngrasain mual aku bukan Eliya?" Ander terlihat bingung.


"Dulu aja om kamu waktu hamil Revan juga gitu, yang ngidam yang mual juga om kamu bukan Tante Riska."


"Ck, enak banget Eliya nggak ngrasain apa apa." gumam Ander.


"Ngomong apa kamu?"


"Eh enggak mom," Hampir saja Ella mendengar ucapan nya.


Ander hanya diam, jika Eliya hamil bukankah seharusnya Ia senang karena rencana nya berhasil hanya tinggal menunggu saat Ia harus pergi. Namun mengapa Ia malah merasa ragu.


"Kamu mikirin apa?"


"Enggak mikir apa apa Mom."


Ella tersenyum melihat wajah kalut putranya, "Kalau Eliya bener hamil, kamu seharusnya bahagia, akan ada malaikat kecil yang menambah kebahagiaan rumah tangga kamu."


"Dulu waktu awal Mom dan Dad juga seperti kamu, menikah tanpa rasa cinta namun perlahan cinta itu tumbuh apalagi pas Mom udah hamil kamu. rasa sayang Dad ke Mom dan kamu jadi nambah." Ella bercerita sambil tersenyum mengingat Ia dulu saat awal menikah dengan Alex.


"Gimana gue bisa cinta, orang dari awal aja gue nggak ada niat serius." batin Ander.


"Acara udah mau mulai, mempelai wanita sudah siap." Teriak seseorang membuat Ander dan Ella menegok ke arah nya.


"Pokok nya inget kata Mom, jangan sampai kamu bikin menantu Mom sakit. awas aja kalau sampai terjadi." Ella mengingatkan kala Ander sudah bangkit dan menghampiri Eliya.


Sementara Ander hanya berdecak kesal lalu berjalan menghampiri ruangan Eliya.


Pintu ruangan Eliya terbuka, Eliya keluar sudah berbalut baju pengantin mewah yang memperlihatkan punggung mulus milik Eliya, polesan make up yang natural serta rambut yang di tata begitu apik hingga leher jenjang Eliya terlihat, benar benar membuat Ander tak berkedip.


Bahkan Ander sampai mematung didepan pintu sambil menatap Eliya hingga suara deheman beberapa orang mengejutkan Ander.

__ADS_1


"Bisa kita mulai sekarang Tuan? semua tamu sudah menunggu dibawah." kata seorang petugas WO.


"Ah iya, ayo kita mulai sekarang."


Ander terlihat gugup berjalan mendekati Eliya lalu Eliya mengandeng tangan Ander. mereka berjalan menuruni tangga dimana semua mata yang ada di bawah memandang ke arah mereka.


"Aku gugup, rasanya tak bisa berjalan." bisik Eliya.


"Apa perlu ku gendong sampai ke bawah?" goda Ander membuat Eliya tersenyum. sedikit menghilangkan kegugupan nya.


"Jangan bercanda."


Hingga keduanya sampai dilantai bawah dimana acara di adakan, Semua orang terlihat bersorak gembira.


"Gila, bini nya cantik gitu. dahlah mundur aja."


"Bening banget tuh pengantin nya."


"Nggak laki, nggak bini sama sama kece."


"Eliya udah berubah, makin cantik pantes si Ander naksir."


Bisikan bisikan dari teman sekolah, karyawan kantor mulai terdengar kala Ander dan Eliya sudah duduk di kursi pelaminan mereka.


Dari jauh terlihat seorang wanita cantik yang memakai dress warna maroon menatap ke arah Eliya dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa harus dia? kenapa harus wanita itu yang bersanding dengan Ander." gumam Rania menatap sendu ke arah Eliya.


Rania tak mungkin lupa dengan Eliya meski hanya sekali bertemu namun rasanya sangat membekas. Eliya wanita baik begitulah kiranya Rania menilai Eliya. Mengalah memberikan paprika padanya meskipun saat itu Eliya yang lebih dulu mengambilnya. Jika orang lain mungkin tak akan sebaik Eliya, itulah yang membuat Rania begitu memuji kebaikan hati Eliya.


"Namanya Eliya, dia teman sekolah kami saat Sma." jelas Revan yang kini sudah ada disamping Rania.


Rania hanya berdecih, Ia padahal tidak bertanya kenapa pula Revan harus menjelaskan padanya.


"Ikhlaskan saja mereka. masih banyak pria lain yang layak untukmu."


Rania tersenyum sengit, "Kau hanya terlalu ikut campur!"


Rania berjalan meninggalkan Revan yang menghela nafas lelah,


"Aku hanya kasihan padamu karena mencintai pria yang sama sekali tak melihatmu."


"Dan juga aku kasihan pada diriku sendiri yang menyukai wanita yang bahkan selalu mengabaikan sikap baik ku ini."


Tanpa Revan sadari dibelakang ada seseorang yang tersenyum mendengar gumaman nya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Like vote dan komen....


__ADS_2