DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
47


__ADS_3

Eliya keluar dari toko dan melihat mobil Ran sudah berada didepan toko bunganya.


Eliya menghela nafas tak percaya, padahal Ia belum menghubungi Ran tapi Ran sudah berada disana menunggunya.


"Aku pikir Suamiku hanya bercanda." kata Eliya kala sudah memasuki mobil.


"Tentu saja tidak Nona,"


"Baiklah, lain kali jika kamu sibuk tidak perlu menjemputku."


"Saya akan tetap menjemput Nona."


"Terserah saja."


"Jadi kita langsung pulang Nona?" Eliya hanya mengangguk.


Mobil pun mulai melaju meninggalkan toko bunga, didalam mobil baik Ran maupun Eliya sama sama diam. Tak ada yang memulai pembicaraan hingga keduanya sampai didepan apartemen.


"Apa perlu saya antar ke atas Nona?" tanya Ran membuat Eliya mendelik tak percaya.


"Kau pikir aku anak kecil." ketus Eliya membuat Ran tersenyum kikkuk.


"Maaf Nona, saya hanya ingin memastikan Nona sampai dengan selamat." jelas Ran.


Eliya memutar bola matanya malas, "Tidak perlu, tidak akan terjadi apapun padaku." kata Eliya lalu keluar dari mobil dan langsung berlari memasuki apartemen takut Ran mengejar.


Sementara Ran hanya terkekeh geli menatap langkah buru buru Eliya.


....


Selesai mandi Eliya bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam. Namun melihat isi kulkas kosong akhirnya Eliya berniat untuk pergi ke supermarket.


Eliya segera mengambil dompet dan ponselnya lalu keluar dari apartemen. Memesan taksi online dan sampailah di supermarket.


Eliya mendorong troli dan segera membeli beberapa sayuran untuk persediaan dikulkas selama beberapa hari.


Saat Eliya ingin mengambil paprika bersamaan dengan seseorang yang juga ingin mengambilnya.


"Yahh tinggal satu." keluh seorang wanita yang kalah cepat dari Eliya.


Eliya tersenyum lalu memberikan paprika itu pada wanita yang terasa tak asing untuk Eliya.


"Untukmu saja." Langsung saja mata wanita itu berbinar senang menerima paprika dari Eliya.


"Terima kasih banyak. persediaan paprika dikafe sudah habis, pasar sudah tutup jadi aku mencari di sini. terima kasih sudah mau mengalah." kata wanita yang juga terlihat cantik saat tersenyum itu.


"Wah kamu punya kafe? hebat sekali." puji Eliya pada wanita itu.


"Aku Rania, kamu?" Wanita bernama Rania itu mengulurkan tangan nya pada Eliya.

__ADS_1


"Aku Eliya."


"Maaf aku tidak bisa lama lama karena harus kembali ke kafe." kata Rania membuat Eliya mengangguk.


"Semoga kita bertemu lagi di lain waktu." Senyum Rania mengembang mendengar ucapan Eliya.


"Oke, see you." Rania melambaikan tangan pada Eliya lalu pergi menuju kasir.


"Ramah sekali." batin Eliya lalu bergegas kembali menyelesaikan belanjanya.


...


Eliya memasuki apartemen, melirik jam sudah pukul 7 malam namun sepertinya Ander belum pulang.


Eliya bergegas memasak didapur sebelum Ander pulang agar nanti mereka bisa makan malam bersama.


Selesai memasak, Eliya melihat jam lagi sudah pukul 8 malam namun tak melihat tanda tanda Ander sudah pulang.


"Dia hanya mengatakan pulang malam tapi tak memberitahuku pulang jam berapa." gerutu Eliya yang kini menunggu Ander di meja makan.


Perut Eliya sudah sangat lapar, Ia ingin makan malam lebih dulu namun Ia urungkan karena masih menunggu Ander pulang.


Namun hingga pukul 9 malam, Ander juga masih belum pulang. Dan karena kesal menunggu akhirnya Eliya makan lebih dulu karena perutnya sudah tak tahan lagi harus segera di isi.


Selesai makan, Eliya menunggu Ander duduk disofa sambil menonton televisi meskipun sebenarnya tak ada acara televisi yang Eliya sukai namun karena tak ingin bosan akhirnya Eliya terpaksa menonton televisi.


...


Eliya membuka matanya, merasa ada seseorang yang menidihnya dan menciumi bibirnya.


Eliya melihat Ander sudah berada di atasnya dengan rambut masih basah seperti habis mandi dan tersenyum padanya. Eliya menatap ke arah lain dan akhirnya sadar jika Eliya sudah berada di kamar.


Baru ingin membuka bibirnya, Ander sudah melahap habis bibirnya hingga Eliya hanya bisa pasrah dibawahnya.


Nyatanya tak hanya ciuman bibir karena Ander meminta lebih pada Eliya, membuka piyama Eliya lalu menyatukan mereka hingga hanya suara desahan saja yang terdengar.


Cup, Ander mengecup kening Eliya lalu menyelimuti tubuh polos Eliya setelah menyemburkan benihnya ke dalam rahim Eliya.


"Jangan pakai piyama nya, aku masih ingin minta tambah nanti."


Eliya memutar bola matanya malas mendengar kata tambah yang keluar dari bibir Ander. Entah harus berapa ronde lagi malam ini.


"Sudah pulang dari tadi?" tanya Eliya melihat ke arah jam sudah pukul 1 dini hari.


Ander yang kini sudah menatap latar tab sambil bersandar diranjang hanya mengelengkan kepalanya pelan.


Eliya menghembuskan nafas melihat Ander kembali sibuk di jam istirahat nya.


"Sudah makan?" tanya Eliya.

__ADS_1


"Makanan di meja makan sudah kuhabiskan semuanya." balas Ander tanpa menatap ke arah Eliya membuat Eliya kesal.


"Apa pekerjaan nya tidak bisa dilanjutkan besok?" tanya Eliya dengan nada kesal.


Ander terkekeh lalu meletakan tab nya di nakas, "Apa kamu menginginkan lagi sayang." goda Ander yang langsung membuat Eliya memanas.


"Bu-bukan seperti itu. hanya saja ini sudah waktunya tidur."


Terlambat, Ander tidak mengubris ucapan Eliya malah menyibak selimut Eliya lalu kembali menciumi Eliya.


"Tubuh yang sudah ku rindukan sejak siang tadi. rasanya ingin cepat cepat pulang dan menikmatinya." gumam Ander membuat Eliya kembali tersipu.


"Apa dia merindukanku." batin Eliya.


"A-apa k-kau ti tidak lelah?" tanya Eliya terbata bata karena tak tahan dengan sapuan bibir Ander yang menggelitiki tubuhnya.


"Tidak, justru ini membuat lelahku hilang." Ander berhenti sejenak sebelum akhirnya Ia kembali menyedot rakus gunung kembar milik Eliya yang membuat Eliya menjerit karena rasa nikmat yang tak tertahan.


"Aku suka desahanmu." bisik Ander sebelum dirinya kembali menyatukan miliknya.


"Rasanya nikmat, sangat nikmat. aku tak ingin berhenti." kata Ander setelah mendapatkan puncak kenikmatan nya.


"Tapi aku lelah."


Ander tersenyum, Ia kembali menyelimuti tubuh Eliya dan berbaring menyamping menghadap Eliya.


"Bagaimana jika kamu tak usah bekerja saja?"


Eliya menatap ke arah Ander "Toko bunga itu peninggalan Bunda, Mom dan Tante Riska. mereka sudah menyerahkan padaku. mana mungkin aku menyia nyiakan."


"Aku mengerti, tapi aku membutuhkan mu saat malam begini untuk menghilangkan penat dan stress seharian setelah bekerja."


"Tapi bukan berarti kamu memintaku melepaskan toko bunga!" kesal Eliya.


"Ya sudah,tapi setidaknya jangan bekerja hingga membuatmu lelah, jadi saat aku membutuhkan mu ti-"


"Apa hanya tubuhku saja yang kau inginkan?" Eliya memotong ucapan Ander.


"Apa maksudmu?"


Eliya tersenyum kecut "Tentu saja hanya tubuhku, memangnya apa lagi."


Eliya membalikan badannya memunggungi Ander membuat Ander bingung.


"Hey, kenapa kamu marah."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen....

__ADS_1


__ADS_2