
Pagi ini Ander terlihat sangat bersemangat, mengingat ucapan Ran kemarin yang mengatakan jika Eliya berharap dirinya datang menemui membuat Ander berinisiatif untuk menemui Eliya sebelum pergi ke kantor.
"Jadi kita ke rumah Non Eliya dulu Tuan?" tanya Ran melihat wajah sumringah Tuan nya.
"Ya, aku ingin mencoba menemuinya."
Namun sesampainya di rumah Eliya, Ander cukup kecewa karena nyatanya Eliya sudah berangkat naik taksi.
"Yahh baru aja berangkat naik taksi, samperin ke tokonya aja." saran Bunda Nisa yang hanya Ia angguki.
"Antar aku ke toko." perintah Ander saat memasuki mobil.
"Tapi Tuan, satu jam lagi Tuan ada meeting-"
"Hanya sebentar." sela Ander yang langsung diangguki Ran.
Sesampainya di toko Ander segera keluar dari mobil dan bergegas masuk.
Ander sempat melihat Eliya didepan namun saat Eliya juga melihat ke arahnya, Eliya terlihat berlari ke ruangan nya dan menutup pintunya.
Tentu saja Ander segera mengejar Eliya, berharap pintunya tidak terkunci namun sayangnya pintunya dikunci dari dalam.
'"Eliya sayang... apa kamu masih marah?'' teriak Ander sambil mengetuk pintu tak peduli dengan para karyawan Eliya yang melihat ke arahnya.
"Ayolah sayang, jangan seperti ini. hanya sebentar saja. ijinkan aku masuk."
Eliya yang mendengar suara memohon Ander sebenarnya tak tega namun mengingat rekaman itu membuat Eliya kembali kesal.
"Eliya..." panggil Ander lagi dengan suara berat.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Ander hanya diam. Eliya pikir Ander sudah pergi, baru ingin membuka pintu suara Ander kembali terdengar membuat Eliya mengurungkan niatnya.
"Tidak apa jika masih marah, aku memang salah. tapi itu semua sudah dulu, sekarang aku benar benar mencintaimu."
"Aku pergi dulu... jaga dirimu baik baik. jangan sampai telat makan, kasian Baby kita."
Usai mengatakan itu, Ander segera pergi dari toko Eliya melewati para karyawan yang masih menatap ke arahnya.
__ADS_1
Sementara Eliya, kini sudah menangis didalam ruangan nya, mendengar ucapan Ander begitu tulus untuknya.
Rasanya Eliya ingin membuka pintu dan memeluk Ander namun egonya melarang dan membiarkan Ander merasakan betapa sakitnya Eliya sekarang.
Ran melihat tuan nya keluar dari toko, Ia tersenyum lebar dan bersiap untuk mendapatkan pujian. Ia yang membuat ide agar Ander menemui Eliya dan jika berhasil dan mereka kembali akur, ini semua berkat ide cemerlang dari Ran.
Ander memasuki mobil dan menatap kesal ke arah Ran membuat Ran bingung.
"Ingin bertemu katamu? huh seharusnya aku memang tak pernah mempercayaimu!" kata Ander membuat Ran terkejut.
Tapi... bagaimana bisa? jelas jelas Ran kemarin melihat sendiri jika Eliya begitu kecewa dan acuh saat melihat dirinya yang datang. jadi bukankah berarti memang Eliya mengharapakan kedatangan Ander?
"Huh dasar betina, semua sama saja. sukanya gengsi." batin Ran kesal sendiri.
"Maafkan Saya Tuan, saya pikir non E-"
"Sudahlah, antar saja aku ke kantor, tak perlu banyak bicara lagi." ketus Ander membuat Ran mengangguk dan segera menuruti perintah Ander.
....
Sementara didalam kamar hotel, terlihat dua orang yang begitu kacau. Pakaian yang berserakan dilantai serta posisi tidur yang sangat berantakan. Selimut yang sudah jatuh ke bawah, dua orang yang tak lain adalah Revan dan Rania yang kini polos tanpa sehelai benangpun. Revan tidur memeluk dua paha milik Rania dan Rania tidur dengan pipi yang menempel dengan burung elang milik Revan yang kini sudah lemas karena pertempuran panas mereka semalam hingga subuh baru mereka selesai bergulat.
"Apa ini?" batin Rania saat merasakan benda kenyal dipipinya.
Dengan kepala pusing dan tubuh yang entah mengapa rasanya berat, Rania mencoba mengumpulkan kesadaran hingga Ia merasakan dingin nya Ac kamar yang menembus kulitnya.
"Kenapa aku tak memakai baju." batin Rania.
Hingga Rania berhasil membuka mata dan mengumpulkan kesadaran nya,
Aaaaaaaaaaa....
Teriakan Rania yang begitu kencang tentu membuat Revan terkejut dan mau tak mau Ia bangun meski matanya masih ingin terpejam.
Rania tentu terkejut menyadari benda yang menempel di pipi nya adalah Burung milik pria yang sama sekali belum pernah Ia lihat sebelumnya bahkan menyentuhnya.
"Berisik banget sih! masih ngantuk nih." keluh Revan yang langsung membuat Rania melotot ke arahnya.
__ADS_1
Buru buru Rania mengambil selimut yang tak jauh darinya lalu menyelimuti dirinya membuat Revan mengeleng aneh.
"Nggak inget apa semalam minta nambah trus, ngapain sekarang ditutupin." batin Revan heran.
"Lo brengsek! apa yang udah Lo lakuin ke gue!" bentak Rania dengan wajah marah.
"Loh, Lo nggak inget?" Revan sadar semalam Ia melakukan dengan orang mabuk, Yah itulah kesalahan Revan dan pasti ini akan menjadi kesalahan Revan sendiri padahal semalam Rania lah yang meminta lebih dulu.
"Apa yang Lo lakuin ke gue." Rania memukul lengan Revan membuat Revan mengaduh.
"Lo mabuk berat, gue mau anter Lo ke rumah Lo tapi Lo malah godain gue. sorry semalem gue bener bener khilaf."
"Sorry Lo bilang?"
"Setelah Lo ngambil kesucian gue sekarang dengan gampangnya Lo ngomong sorry?"
Rania masih perawan, Ya memang Rania masih perawan ini kali pertamanya untuk dirinya. Revan sendiri juga terkejut semalam. mengingat selama ini Rania yang begitu murahan jika menyangkut dengan Ander namun siapa sangka Rania menjaga dirinya dengan baik.
"Gue bakal tanggung jawab, kita bisa nikah." kata Revan yang langsung membuat Rania terkekeh.
"Lo pikir gue mau nikah sama Lo!" ketus Rania segera beranjak dari ranjang. dengan wajah mengeryit menahan sakit dibawah sana, Rania berjalan mengambil baju nya dan membawa masuk ke kamar mandi.
Revan meraup wajahnya dengan kedua tangan nya, Ia benar benar kesal dengan dirinya sendiri semalam dan juga dengan Rania.
Kesal karena tak bisa menahan dirinya dan Rania yang nyatanya sudah lupa dengan kejadian semalam. Padahal semalam adalah malam terindah untuk Revan karena untuk pertama kalinya Rania tak ketus padanya, namun Revan akhirnya sadar, semalam Rania mabuk, ya Rania tak sadar.
Sementara didalam kamar mandi, Rania menatap dirinya didepan cermin. Ada banyak tanda merah yang menghiasi seluruh tubuhnya.
"Brengsek! bisa bisanya dia lakuin ini ke gue." gumam Rania.
Rania sama sekali tak bisa mengingat apapun semalam. Ia hanya ingat jika Ia minum 2 gelas bir dan setelahnya Ia sama sekali tak mengingat apapun.
Rania segera menguyur tubuhnya dengan air dingin. berharap bisa membuatnya melupakan semua yang terjadi semalam.
Masalah dengan kafe yang belum selesai sekarang bertambah lagi satu masalah.
"My gosh Rania, selamat datang di nerakamu."
__ADS_1
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...