
Alex melihat tulisan berisi alamat sebuah perkampungan yang tak asing untuknya. Sesekali Ia mengingat siapa yang tinggal disana.
Hingga Ia tak menyadari jika Sandi sudah datang dan duduk didepan nya.
"Apa ada masalah Tuan?" tanya Sandi.
Alex terkekeh "Bisa bisanya kau masih memanggilku Tuan padahal kita ini besan."
Sandi tersenyum, "Sudah terbiasa memanggil seperti itu jadi rasanya sulit sekali untuk mengubahnya Tuan."
Alex mengangguk setuju, Sandi sudah bekerja dengannya dalam waktu yang lama. Jadi mungkin memang sedikit sulit membiasakan panggilan yang baru. Meski sesekali Sandi bisa memanggil Alex dengan nama namun Sandi masih sering memanggilnya Tuan.
"Ya sudah terserah kau saja." kata Alex memberikan secarik kertas pada Sandi.
"Apa kau mengenal seseorang yang tinggal diperkampungan itu?" tanya Alex pada Sandi yang terlihat sedang mengingat sesuatu.
"Sepertinya kampung itu rasanya tak asing untuk ku." kata Alex lagi.
"Sepertinya itu kampungnya Bahar," kata Sandi masih mencoba mengingat "Iya Tuan, memang benar itu kampungnya Bahar, salah satu investor kita dulu namun sepertinya dia sudah lama pensiun." jelas Sandi yang sudah benar mengingat semuanya.
Alex tersenyum, "Apa yang dia kerjakan sekarang?"
"Sudah lama saya kehilangan kontak dengan nya, apa perlu saya datang kesana Tuan?" tanya Sandi.
"Ya datanglah kesana, karena memang ada pekerjaan yang harus kau urus." kata Alex.
"Pekerjaan? apa ini tentang perjodohan lagi Tuan?" Sandi tersenyum geli.
"Tentu saja, untuk apa lagi."
Keduanya pun terkekeh,
"Kali ini siapa Tuan?"
"Siapa lagi kalau bukan Randi anaknya Bianca dan Rangga."
"Hanya dia yang belum menikah." kata Alex.
Sandi sedikit terkejut, "Bukannya Randi berpacaran dengan sesama artis? saya melihatnya-"
"Sepertinya dia dijebak." kata Alex.
"Dijebak?"
"Kau tau sendiri lah bagaimana dunia artis, sepertinya Randi dijebak untuk keuntungan mereka."
"Aku sudah mengurusnya, kau tenang saja. Randi hanya akan membayar pinalti saja dan itu pun tidak sebanyak yang diminta." jelas Alex.
__ADS_1
"Tugasmu hanya menjebak mereka agar segera menikah." kata Alex.
Sandi mengangguk senang, "Baiklah Tuan, saya akan kerjakan. Sudah lama tidak melakukan pekerjaan ini."
"Ya benar lagi. dan mungkin ini yang terakhir." kata Alex terlihat kecewa.
"Sayang sekali, haruskah kita juga menjebak para cucu kita nanti?" tanya Sandi sambil terkekeh.
"Hey jangan gila, sepertinya kita sudah sangat Tua nanti."
Mereka berdua pun tertawa.
Sepulang dari pertemuan dengan Alex, Sandi segera meluncur menuju perkampungan Bahar.
Disana dirinya disambut ramah oleh Bahar yang ternyata masih mengingat jelas Sandi.
"Saya pikir Anda sudah tidak mengingat saya." kata Sandi yang kini sudah duduk disalah satu gazebo milik Bahar.
"Tidak, mana mungkin aku melupakanmu dan Tuan Alex. Kalian sudah banyak membantuku dulu." kata Sandi.
"Ngomong ngomong, Apa ada sesuatu yang penting? sampai harus datang kesini seperti ini? harusnya saya yang datang kesana. Anda cukup menghubungi saja." kata Bahar, pria yang kini sudah mulai menua itu.
"Hanya ingin menanyakan kabar dan..."
"Dan?" Bahar terlihat sangat penasaran.
"Aku tidak bekerja sekarang, hanya duduk dirumah dan uang mengalir." kata Bahar sambil terbahak "Orang orang kampung yang meminjam uang membuat uang itu mengalir banyak untuk ku." kata Bahar lagi.
"Ahh rentenir ternyata, sepertinya bagus." batin Sandi tersenyum menyerigai.
"Ya sepertinya menjadi pekerjaan masa tua yang menyenangkan." kata Sandi.
"Begini, apa kau mengenal gadis bernama Risha?" tanya Sandi.
"Risha? entahlah aku tak begitu mengenal gadis didaerah sini,"
"Heruuuu." panggil Haji Bahar pada salah satu anak buahnya.
"Ya, pak Haji?"
"Apa kau mengenal Risha?"
"Risha yang bekerja sebagai perawat dikota anaknya pak Slamet?" tanya Heru.
"Ya dia memang bekerja sebagai perawat." kata Sandi yang sebelumnya sudah mengetahui identitas Risha dari Alex.
"Ya, Risha anak pak Slamet yang kemarin meminjam uang pada Haji Bahar 500rb." heru mencoba mengingatkan.
__ADS_1
"Ya sudah pergilah." usir Haji Bahar pada Heru.
Sandi tersenyum menyerigai, Ia merasa semakin mudah saja pekerjaan kali ini.
"Jadi bagaimana? ada apa dengan Risha itu? apa kau memiliki masalah dengan nya?" tanya Bahar terlihat penasaran.
"Ya dia memang sedang bermasalah dengan Tuan Alex." jelas Sandi "Jadi bisakah kau membantuku?" tanya Sandi tersenyum licik ke arah Bahar.
"Tentu saja."
Sandi pun menjelaskan apa yang harus dilakukan Bahar, awalnya Bahar menolak karena tentu saja dirinya tidak seperti itu. Bahar memang rentenir tapi Ia tak akan meminta anak gadis untuk menjadi jaminan karena bagi Bahar satu istri saja sudah cukup. Namun karena permintaan dari Alex akhirnya Bahar menyetujuinya dan tentu saja Ia akan meminta ijin dari sang istri lebih dulu dan menjelaskan jika semua ini hanya settingan.
"Terimakasih, Tuan Alex pasti akan sangat senang dengan bantuan dari Haji Bahar." kata Sandi memuji membuat Haji Bahar tersenyum bangga.
"Ya, aku juga ingin membalas kebaikan Tuan Alex selama ini dan mungkin ini jalan nya." kata Bahar lalu bangkit dari duduknya "Kita kesana sekarang saja." ajak Bahar yang langsung diangguki Sandi dengan semangat.
Keduanya sampai dirumah Slamet dan langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka yang tentu saja langsung membuat Slamet terkejut setengah mati.
"Ta-tapi Pak Haji, bukankah kemarin kita tidak ada perjanjian seperti ini?" tanya Slamet dengan wajah pucat dan bingung.
"Ya, tapi sekarang aku berubah pikiran. kembalikan uang 500ribu dengan bunga nya 50juta atau kau ingin memberikan Risha untuk ku."
"Lim-lima puluh juta?" Slamet langsung saja terjatuh dilantai. tak menyangka bunganya akan bertambah sebanyak itu.
"Jika kau tak bisa membayar lebih baik suruh Risha pulang dan menikah dengan ku." kata Haji Bahar.
Karena bingung setengah mati, Slamet akhirnya mencoba menghubungi nomor Risha. Aktif namun hingga 10x panggilan tak ada jawaban dari Risha.
"Maaf Haji, Risha tidak menjawab panggilan saya." kata Slamet terlihat takut.
"Ku tunggu sampai besok jam 10 pagi. jika Risha tak pulang aku akan menyuruh anak buahku untuk menjemput paksa Risha." ancam Haji Bahar yang hanya membuat Slamet menunduk takut.
Malam harinya Slamet mencoba menghubungi Risha namun masih tak dijawab hingga akhirnya pagi seusai subuh Slamet kembali menghubungi Risha yang akhirnya Risha menjawab panggilan nya.
"Kemana saja kamu nduk?"
"Ada apa Yah?" tanya Risha dari seberang telepon.
"Kamu cepet pulang ya Nduk, Haji Bahar melamar kamu. maafin Ayah Nduk. Ayah punya hutang sama haji bahar dan sekarang dia meminta kamu menikah dengan nya."
Risha yang terkejut dengan ucapan sang Ayah akhirnya pulang dan yang lebih mengejutkan lagi saat sampai dirumah, sudah ramai sekali orang dikampungnya banyak yang datang untuk menyaksikan lamaran Haji Bahar untuknya.
"Risha nggak mau, Risha sudah memiliki kekasih dikota dan nggak mungkin mengkhianati dia." ungkap Risha membuat semua orang terkejut tak terkecuali Sandi yang berada disana, tersenyum menyerigai.
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1