DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
21


__ADS_3

Rania baru saja selesai memandikan satu sapi, Ia berniat meghampiri para tiga berandal untuk melihat pekerjaan mereka.


Namun langkahnya terhenti kala Ia akan mendekat ke arah Revan dan mendengar gerutuan Revan yang Ia pikir terdengar lucu.


Rania menahan tawanya, "Lo nggak gila kan?"


Revan menoleh ke belakang dan melihat Rania acuh lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.


"Ck, nggak gitu caranya. Gini caranya." Rania mengambil alih selang lalu mempraktekan cara memandikan sapi yang benar, namun bukannya membuat Revan berterimakasih malah membuat Revan berdecak kesal.


"Sebenernya gue udah paham, memang sengaja aja biar Lo benerin."


Seketika Rania menatap ke arah Revan dengan tatapan sebal, benar benar pria ini.


"Habis Lo mandiin, Lo bersihin kotorannya itu." Rania menunjuk ke arah kotoran sapi yang juga ada disana.


"Gila apa? kenapa harus gue!" protes Revan.


"Trus siapa lagi? sapinya sendiri?"


"Ya iyalah, masa iya gue suruh bersihin berak nya sapi. Lagian kenapa nggak nyuruh sapi nya pup di kamar mandi aja sih." kesal Revan membuat Rania menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Mana bau lagi, ogah ah." tambah Revan dengan tatapan protes.


"Ini emang bagian dari pekerjaan, kalau Lo ogah biar nanti gue bilang sama nenek gue jadi Elo nggak usah kerja di sini. Gimana?"


Ucapan Rania membuat Revan mendelik kesal "Eh jangan gitu dong. Mentang mentang Lo cucunya yang punya trus ngancem gue seenaknya!"


"Ya udah makanya dikerjain jangan banyak protes!"


"Ya udah ajarin gimana caranya."


Rania pun segera memberikan arahan bagaimana membuang kotoran sapi nya.


"Gimana, udah paham?" tanya Rania setelah membersihkan sebagian kotoran sapi.


"Emm, masih belum. Gimana tadi?"


Rania memutar bola matanya malas lalu kembali menjelaskan cara membuang kotoran sapi, namun seketika Rania sadar,


"Eh bambang. Lo ngerjain gue!" kata Rania dengan tatapan sengit sementara dibelakangnya Revan tertawa geli.


"Eng-enggak. Ngerjain gimana sih." Revan pura pura tak paham.


"Lo minta ngajarin buat bersihin nih kotoran sampai kotorannya habis biar Lo nggak usah ngebersihin kan?" Tuduh Rania dengan mata menatap tajam.


"Ck, Lo itu terlalu negatif thingking. Tapi makasih ya udah di bersihin kotorannya, jadi gue nggak perlu bersihin lagi." kekeh Revan membuat Rania benar benar kesal.


Sementara dari kejauhan, Randi dan Ander hanya bisa geleng geleng kepala melihat Rania dan Revan yang sedari tadi berisik.

__ADS_1


"Heran tuh kenapa mereka nggak akur kalau ketemu." celetuk Randi yang ada disamping Ander.


"Palingan ntar lama lama demen tuh bocah."


Randi terkekeh mendengar balasan Ander lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


..


"Eh ini beneran Lo bawain kita makan siang?" tanya Ander kala Rania memberikan satu rantang berisi makan siang.


"Ini dari nenek, katanya kerja kalian bagus makanya Nenek sengaja bikin makan siang buat kalian." jelas Rania dengan sipuan malu.


"Ya udah, buruan dimakan."


Ander dan Randi mengangguk dan segera mengambil piring untuk makan berbeda dengan Revan yang masih diam lesu dan tak berminat dengan makanannya.


"Lo nggak makan?" tanya Ander.


Revan menggeleng pelan "Gue nggak nafsu." balas Revan yang langsung membuat Rania terkikik.


Pasalnya Rania lah yang membuat Revan tak nafsu makan karena kebanyakan membersihkan kotoran sapi. Awalnya Revan pikir hanya satu sapi yang harus ia bersihkan kotorannya dan Revan mengerjai Rania hingga membuat Rania lah yang membersihkan kotoran sapinya namun nyatanya Rania mengerjainya balik dengam menyuruhnya membersihkan kotoran sapi yang lain yang membuat Revan tak menolak karena ada mbah Mirah disana.


Alhasil karena terlalu banyak mencium kotoran sapi menbuat nafsu makan Revan hilang dan masih mengingat bagaimana baunya kotoran sapi tadi.


"Gue heran, kok kalian masih doyan makan sih habis bersihin kotoran sapi yang bau nya selangit." tanya Revan pada kedua saudaranya yang begitu lahap menikmati makan siang mereka.


"Laper, lagian kotoran Lo malah lebih bau dari kotoran sapi." ejek Randi yang membuat Revan semakin kesal.


"Katanya nggak nafsu makan?" cibir Ander.


"Mendadak gue juga laper!"


Baik Ander, Randi dan Rania hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah menyebalkan Revan.


Selesai makan siang, mereka melanjutkan pekerjaan dan kali ini mereka diminta untuk memerah susu sapi.


Rania menjelaskan bagaimana cara memerah susu sapi pada Revan karena yang lain nya sudah Ia jelaskan.


Namun saat Rania menjelaskan Revan malah sibuk tertawa membuat Rania kesal.


"Lo kenapa malah ketawa trus sih?" kesal Rania menatap Revan kesal.


"Gue geli aja ngeliatnya!" balas Revan masih terus terkekeh.


Rania bangkit, "Sekarang gantian Lo! coba praktekin yang gue ajarin tadi!"


Revan menurut, mencoba melakukan apa yang tadi Rania intruksikan namun hasilnya, Ia kembali tertawa.


"Gila, ini bener bener bikin gelay." celetuk Revan membuat Rania memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Tapi asik juga sih, apa punya cewek juga kayak gini?"


Rania mendelik kesal mendengar pertanyaan Revan, seketika Ia memukul kepala Revan.


"Cewek gila! ngapain Lo mukul gue!" Revan mengelus kepalanya yang baru saja dipukul oleh Rania.


"Lo itu ya! lagi kerja bisa bisanya mesum!"


"Eh, siapa yang mesum? gue kan cuma nanya gitu pikiran Lo udah kemana mana." cibir Revan membuat Rania memanas dan malu.


Rania segera meninggalkan Revan karena semakin kesal dengan ucapan Revan.


Sementara Revan terkekeh melihat kekesalan Rania dan kembali melanjutkan memerah susu.


Sore harinya, Tiga berandal bersiap pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai.


Senyum mereka cukup lebar kali ini karena upah mereka menjadi 30 ribu.


"Upahnya mbah naikan 10 ribu karena kerja kalian semakin bagus dan rajin." jelas Mbah Mirah sambil memberikan uang 30 ribu pada masing masing orang.


"Wah makasih ya mbah." Randi terlihat senang dan bersemangat.


"Dan makasih juga buat makan siang nya mbah." kali ini Ander yang mengatakan namun membuat kening mbah Mirah mengkerut.


"Makan siang apa?"


Ketiganya pun binggung, bukannya tadi Rania memberikan makan siang atas titah dari mbah Mirah, namun melihat wajah bingumh mbah Mirah sepertinya Rania bohong.


"Eh nggak mbah, Si Ander suka ngelantur ngomongnya!"


"Ya sudah kalian pulang, besok jangan telat datangnya."


"Siap mbah!"


Mereka pun berjalan meninggalkan kandang, "Apa Rania bohongin kita ya tadi siang?" tanya Randi.


"Maybe, cuma apa alasannya."


"Mungkin karena dia naksir salah satu dari kita." celetuk Revan membuat Ander dan Randi menatap ke arahnya.


"Pede banget Lo! jadi menurut Lo si Rania naksir lo gitu?"


"Enggak bukan gue," balas Revan menggelengkan kepalanya.


"Trus siapa?" Randi sangat penasaran.


"Ander."


Haaa...

__ADS_1


Bersambung...


jan lupa like vote dan komen yaahhh....


__ADS_2