DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
117


__ADS_3

Pagi ini Risha berangkat sedikit terlambat dari biasanya. Semalam Ia pulang larut dan kelelahan membuatnya bangun kesiangan.


Buru buru Risha membuka pintu gerbang kosnya namun langsung saja Ia terkejut melihat pria yang sudah berdiri didepan gerbang kosnya sepagi ini.


Randi...


Risha mengerutkan keningnya heran, bagaimana Randi bisa tau kosnya, padahal dulu waktu Randi mengantar saja hanya sampai depan gang dan untuk sampai ke kosnya jika bukan orang yang sudah biasa pasti akan tersesat karena banyak gang dan juga padat rumah warga.


"Mas... kamu kok bisa sampai sini?" tanya Risha sedikit gugup.


Randi hanya tersenyum, "Aku antar."


"Eh nggak usah mas, aku biasa naik-"


"Udah ayo." Randi memaksa mengenggam tangan Risha namun sedetik kemudian Ia lepaskan karena Risha memberontak.


"Maaf, kalau nggak dipaksa pasti kamu nggak akan mau." kata Randi.


"Ya udah ayo,"


"Mas bawa masker kan?" tanya Risha.


"Kenapa?" Randi terlibat bingung mendengar pertanyaaan Risha.


"Pakai ya mas, takut ada yang ngeliat. mas kan artis." kata Risha yang langsung membuat Randi terkekeh.


"Nggak akan ada orang sepagi ini. aku tadi lewat masih nggak ada orang." jelas Randi.


Tanpa berkata lagi, Risha mengambil masker di dalam tasnya lalu diulurkan pada Randi.


"Pakai mas..." pinta Risha.


Randi tersenyum dan menerima masker dari Risha , "Padahal nggak apa apa."


Randi sudah memakai maskernya, mereka berjalan keluar gang karena mobil Randi diparkir dipinggir jalan.


Dan benar saja, sesampainya ditengah gang banyak gerombolan ibu ibu sedang berbelanja di abang tukang sayur.


"Kaann sepiii." sindir Risha membuat Randi seketika terkekeh.


Ingin mencubit pipi Risha gemas namun tak bisa, benar benar menyebalkan.


"Eh neng Risha, sama siapa nih?" tanya salah seorang ibu ibu.


"Penghuni kos baru ya? kok baru lihat."


"Duh maskernya dicopot dong, mau lihat wajahnya kayaknya ganteng nih." celoteh para ibu ibu sambil sesekali tertawa.


"Ini abang saya dari kampung Bu." kata Risha terpaksa bohong. Takut jika para Ibu ibu tau jika disampingnya ini artis akan membuat geger.


"Owalah, ganteng nih pasti... neng Risha nya aja cantik abangnya pasti ganteng lah."


"Copot maskernya dong mas, kali aja ada yang minat mau jadiin mantu. anak kita juga cantik cantik lho." goda lagi.


Randi hanya tersenyum saja, Ia merasa sangat beruntung karena Risha memberinya masker, jika tidak mungkin Ia sekarang sudah dijadikan perkedel oleh ibu ibu gang ini karena ketampanan nya.

__ADS_1


"Maaf Bu, abang saya pemalu orangnya." kata Risha sopan.


"Wah bener bener cocok nih jadi mantu."


Risha tersenyum geli, "Kami permisi bu."


Risha dan Randi berjalan meninggalkan kerumunan ibu ibu gang. namun masih saja ada yang berteriak mengoda,


"Sa kapan kapan ajak abangmu ke rumah nanti ibu kenalkan sama Nisa."


Risha tertawa dan mengangguk dari kejauhan, sementara Randi menatap Risha sebal.


"Seneng banget ya ngeliat orang menderita." cibir Randi saat keduanya sudah memasuki mobil.


"Harusnya tadi nggak usah aku kasih masker aja ya biar diserbu sama ibu ibu se gang." balas Risha membuat Randi langsung ajaa tertawa.


Randi tak tahan ingin mencubit gemas Risha namun Ia urungkan karena Risha segera saja menghindar.


"Kamu kok gemesin banget sih." kata Randi yang langsung membuat Risha tersipu malu.


"Udah ayo berangkat nanti malah telat." ajak Risha tak ingin mendengar godaan Randi lebih lama.


"Oke Tuan putri kita berangkat sekarang." kata Randi langsung melajukan mobilnya menuju klinik Vano.


"Turun didepan warteg aja mas." kata Risha membuat Randi menatap heran.


"Lah kan masih jauh, kenapa?"


"Nggak apa apa takut ada yang lihat." jawab Risha jujur.


"Nggak apa apa ya mas turun didepan aja."


"Ck, bolos aja yukk." bujuk Randi "Nanti aku yang ngomong sama Om Vano."


Risha menatap Randi lalu kembali menunduk, "Nggak mas, aku nggak biasa bolos."


"Yakin nggak mau bolos aja?" tanya Randi saat mobil Randi sudah sampai didepan warteg.


Risha menggeleng, "Makasih mas udah nganter aku."


"Eh bentar." kata Randi membuat Risha yang tadinya ingin membuka pintu pun menghentikan gerakannya dan kembali menatap Randi.


"Kalau nanti kamu denger berita apapun tentang aku, jangan percaya. karena nggak semua yang diliput sama media itu benar." jelas Randi.


"Berita tentang apa mas?" Risha mengerut heran tak mengerti dengan ucapan Randi.


"Tentang apa aja."


Risha mengangguk walaupun sebenarnya Ia masih bingung dengan ucapan Randi.


"Aku berangkat dulu ya mas." kata Risha.


"Eeee tunggu." Risha kembali menghentikan gerakan tangannya dan menatap Randi.


"Nggak cium tangan dulu?" tanya Randi sambil terkekeh membuat Risha wajah Risha seketika merona malu.

__ADS_1


"Nggak boleh sekarang."


"Trus kapan?"


"Nanti..."


"Nanti kapan?"


"Ck, udahlah aku berangkat sekarang." Risha yang kesal akhirnya keluar dari mobil Randi tak memperdulikan Randi yang menertawakannya.


Risha celinggukan melihat area jalanan, takut ada yang melihatnya. setelah dikira aman Risha menyebrang jalan dan berjalan menuju klinik.


Siangnya, Risha yang sedang fokus menatap layar komputer terkejut saat ada orang meletakan kotak makanan dimeja nya.


"Lho, mas..." Risha terkejut dan sedikit panik saat mengetahui Randi lah yang meletakan makanan di meja nya.


Ia melirik ke kanan dan kekiri takut ada teman nya yang melihat.


"Makan siang buat kamu." kata Randi tersenyum manis lalu pergi meninggalkan Risha dan memasuki ruangan Vano.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Vano heran menatap keponakannya datang membawa makan siang.


"Ck, ponakan datang nggak disambut ramah malah dicurigai." cibir Randi meletakan kotak makan siang dimeja Vano. "Makan siang buat om." kata Randi sambil nyengir.


"Waduh, ada apa ini... mencurigakan." Vano menatap Randi curiga membuat Randi salah tingkah.


"Pasti ada maunya nih, atau malah dikasih racun makanan nya." celetuk Vano membuat mata Randi membulat tak percaya.


"Astaga om, aku emang udah males liat om tapi aku nggak mungkin ngracuni om, aku nggak mau dipenjara." kata Randi dengan kesal.


Vano terkekeh, "Lagian tumben banget kamu bawain makanan. kan curiga."


"Tadi lewat sekalian mampirlah."


"Huh alasan. jangan jangan kamu naksir sama perawat di sini?" tebak Vano membuat Randi kembali salah tingkah.


"Ck, apa sih om."


"Bener nih... siapa? naksir sama yang mana?" Vano mulai penasaran.


"Udahlah Om, Randi balik dulu."


"Jangan naksir sama Risha," kata Vano membuat Randi menghentikan langkahnya.


"Kenapa om?" Randi penasaran membuat Vano tertawa karena tebakan Vano benar.


Randi mengincar Risha.


"Risha mau kujadikan istri kedua."


Seketika mata Randi melotot tak terima.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2