Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
10.


__ADS_3

"Anna, kamu tidak apa-apa?" tanya Nenek.


"Kamu, kenapa berhenti tiba-tiba?" teriak Amar kepada Zico.


"Sa-saya hanya tidak suka Anda terkesan menghina istri saya. Apa maksud Anda istri saya seperti di luar bayangan?" ucap Zico membela diri.


"Sudah! Sudah! Kalian jangan berdebat! Anna terlihat kesakitan itu!" cegah Nenek menarik Anna untuk kembali duduk di atas jok.


"Nanti kita akan bicara di kantor!" tegas Amar. Setelah itu, Amar membantu Nenek untuk memposisikan Anna duduk di samping Nenek.


"Antarkan kami ke rumah sakit!" bentak Amar.


Zico mengernyitkan kening, rahangnya mengeras, dan napasnya terdengar memburu. Ia melepas sabuk yang tadinya melekat. Sejenak ia melirik atasan yang berada si sampingnya lalu membuka pintu. "Pak, saya itu bekerja sebagai seorang editor, bukan sebagai tukang suruh Anda!"


Amar menatap tingkah Zico itu dengan tenang. "Baik lah, jadi apa yang kau inginkan?"


"Mulai hari ini saya berhenti!" Ia mulai turun dari kendaraan mewah milik Amar ini.


"Oh, begitu? Seingat saya, kamu itu belum menyelesaikan masa kontrak selama lima tahun. Jika kamu keluar sebelum masa kontrak berakhir, apa kamu sanggup membayar penalti terhadap penerbit?" Amar menyandarkan diri pada jok yang empuk.


"Saya sudah tidak peduli lagi! Pokoknya saya akan melayangkan surat pengunduran diri esok!" ucap Zico kukuh.

__ADS_1


"Berarti persiapkan juga denda yang sudah masuk ke dalam perjanjian kerja sama dengan perusahaan kami. Kamu masih memiliki waktu sekitar dua tahun lagi, tinggal kamu kali kan saja dengan gaji bulanan yang kamu terima. Kalau tidak salah empat juta lebih ... Berarti siapkan sekitar 100 juta!"


Sejenak Zico terdiam dengan angka perkiraan yang harus dia bayarkan.


"Ja-jadi gajimu sebesar itu?" sela Anna refleks sembari meringis menahan sakit pada perutnya.


"Apa kamu mengenal dia Anna?" sela Nenek memberi kode, Anna tanpa sadar keluar dari jalur drama yang mereka tulis.


Anna akhirnya menggelengkan kepala. Raut wajahnya tersirat akan kekecewaan yang amat besar. Ia teringat kembali akan masa lalunya.


"Baik lah, saya pergi!"


Braaak


"Biar aku yang mengantarkanmu ke rumah sakit."


"Tidak usah! Aku ingin anak ini mati!" ucap Anna masih meringis menahan rasa sakit pada rahimnya karena benturan tadi.


"Anna? Apa yang kamu katakan? Kamu jangan begitu? Bayimu itu tidak bersalah! Dia tidak pernah memintamu untuk membuatnya hadir dalam dirimu!" ucap Nenek Andari lagi.


"Jadi kamu menginginkan anak itu mati?" tanya Amar memasang wajah datarnya menatap ke arah depan.

__ADS_1


"Amar?" bentak Nenek.


Amar pun hening, memilih untuk tidak berkomentar lagi. Dia hanya memperhatikan kekhawatiran neneknya kepada wanita yang membuatnya semakin menjauh dari Luna.


"Sekarang kita ke rumah sakit ya? Nenek khawatir nanti anakmu malah sakit di dalam sana?"


Anna tak bergeming meski ia masih terlihat sangat kesakitan.


"Tunggu apa lagi? Ayo jalan!" titah Nenek.


"Katanya dia nggak mau, Nek?" Amar membela diri.


"Cepat jalan!"


Amar pasrah melakukan apa yang diperintahkan wanita pengganti orang tuanya itu. Ia berbelok pada sebuah rumah sakit dan segera memanggil perawat untuk membawa Anna.


Kursi roda datang, dibawa oleh perawat pria. Saat perawat itu ingin memindahkan Anna, Amar terlihat keberatan.


"Jangan sentuh dia!" bentak Amar.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2