Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
78. Cerai atau M4ti?


__ADS_3

"Ma-maksud Papi?"


"Ceraikan saja dia! Kau sepertinya tak mampu membahagiakan dia. Bahkan, saat putri kami pergi pun, kau tidak mampu menemui keberadaannya selama ini!"


Amar tertunduk. "Ya, aku tahu itu. Setidaknya, aku mohon Papi—"


"Jangan panggil aku seperti itu! Aku tak sudi jika orang yang terus menyakiti putri kesayangan kami, ikut memanggilku dengan sebutan sakral tersebut!"


Amar mengatup bibirnya rapat. Kepalanya berpikir cepat harus bagaimana lagi setelah ini. Ayah istrinya ini, benar-benar sangat keras. Amar berjalan tepat di hadapan Papi Sugiono. Ia menghempaskan tubuhnya berlutut tepat di hadapan ayah Anna ini.


"Jika Papi masih marah padaku, silakan hajar aku! Pukul aku! Aku akan bertahan dijadikan sebagai samsak asalkan bisa mengubah perasaan Papi hingga mau memaafkanku."


Alis Sugiono naik sebelah. Wajahnya datar tersenyum tipis. "Apa kau yakin?"


Amar mengangguk. "Aku memang pantas dihukum. Hukuman fisik memang paling pantas untukku. Agar aku bisa merasakan, betapa sakitnya Anna kala melahirkan seorang diri."

__ADS_1


Sugiono tersenyum sinis. Ia menuju lemari di mana ia menyembunyikan sebuah benda yang digunakan kepada Anna, kala ia kecil dulu. Perlahan, pria beruban itu menarik pecutan yang telah lama tak digunakan.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan tadi?" Sugiono berujar dingin memainkan pecutannya itu.


Amar mengernyitkan dahi melihat benda yang ada di tangan mertuanya kini. "Aku siap jika Papi akan menghajarku, asalkan Papi mengizinkan kami menikah kembali."


"Ceraikan dia atau kuhajar sampai m4ti?"


"Silakan berbuat sesuka hati, Papi. Aku tidak akan m4ti hanya karena itu. Namun, jika Papi telah lelah ... Berjanji lah untuk melepaskan kami berdua menikah kembali." Amar menundukan kepalanya.


Sugiono tersenyum sinis melihat menantunya yang masih berlutut itu. "Baik lah! Sepertinya kau mengiraku tak bersungguh-sungguh akan hal ini."


Amar mengerutkan keningnya. Sekejap ia membayangkan teriakan Anna seakan nyaring terdengar di gendang telinganya. Membayangkan tubuh kecil Anna yang mendapat kan itu semuanya, membuat amarah Amar tiba-tiba saja meledak.


"Kenapa Papi tega memukul Anna?"

__ADS_1


Sugiono tersentak mendengar bentakan Amar. "Kenapa? Apa kau marah? Aku memiliki cara tersendiri untuk mendidik anakku. Agar dia bisa menjadi orang berguna."


Sugiono kali ini berdiri tepat di belakang Amar. Sementara itu, otak Amar terus berkelumit membayangkan bagaimana kesakitan yang didapatkan Anna dulu.


"Seandainya aku lebih dahulu mengenalnya, aku akan melindunginya. Sekarang aku mengerti, kenapa Anna ingin membunuuhdirinya waktu ia gagal menikah dengan Zico."


Sugiono tercengang mendengar apa yang disampaikan oleh Amar. Dia benar-benar tidak tahu itu. Yang ia tahu hanyalah, Amar menawarkan diri menikahi Anna, untuk menggantikan Zico yang telah meninggalkan Anna, menikah duluan.


"Sepertinya, kamu mengetahui banyak hal yang tidak kami ketahui."


Amar diam seribu bahasa. "Pukul saja aku ... agar aku ikut merasakan perihnya kesakitan itu."


Sugiono tersenyum tipis. "Kenapa kau baru saat ini berlaga bak pahlawan kesiangan? Selama Anna menghilang, kenapa kau diam saja?"


"Aku tidak pernah diam. Aku selalu mencarinya. Hanya saja, aku memang terlalu bodoh membiarkan orang yang aku minta melakukannya sendiri tanpa mengecek apa yang ia lakukan. Bahkan, aku baru tahu, setelah ia kembali. Anna menyeberang pulang dan menjalani beratnya hidup di sana."

__ADS_1


Plaaak


Sugiono baru saja melayangkan cambuk yang ada di tangannya. Cambuk itu mengeluarkan suara yang sangat memilukan.


__ADS_2