Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
84. Ranjang Anan Berantakan


__ADS_3

Terdengar suara gagang pintu terus ditarik beberapa kali. Anna bangkit dan menarik selimut kecil yang tadinya mereka pakai berdua.


"Ah, kamu mau mempermalukanku di hadapan Anan?" tanya Amar merasa ikut malu mendapati dirinya yang terpampang tanpa sehelai benang pun.


Anna hanya tersenyum tipis dan segera membuka lemari anaknya.


"Mamaaaa ... Kenapa Anan ditinggal sendiri di kamar Mama?" suara Anan semakin menggelegar.


Hal ini tentu membuat kedua orang yang masih dimabuk asmara menjadi semakin panik. Beruntung Amar sempat mengunci pintu kamar sebelum benar-benar melebur menyatu dengan istrinya semalam suntuk. Jika tidak ....


"Pakai ini!" Anna menyerahkan sarung Anan yang juga berukuran mini.


"Apa tidak ada yang lain?" protes Amar.


"Pakai aja dulu! Salahmu sendiri! Kenapa malah maksa di sini? Jelas-jelas perlengkapan ukuran jumbo itu tidak ada di sini."


Amar mengambil sarung kecil dan menyorongkannya dari bawah. Beruntung sarung itu masih bisa digunakan untuk menutupi bagian tubuhnya. Anna menatap waktu menunjukkan pukul lima subuh. Ia segera membuka pintu dan melihat Anan memasang wajah cemberut.


"Mama Papa ngapain di kamar Anan?"


Anna hanya menyelonong tanpa menjawab pertanyaan anaknya. Anan menghela napas dan berjalan ke arah Amar. "Papa, kenapa pakai sarung Anan? Kan kecil buat Papa?"

__ADS_1


"Oh, iya ... tadi Papa cari handuk, malah ketemunya ini."


Anan terbelalak melihat tempat tidurnya yang telah acak-acakan. "Papa Mama tidur di kasur Anan?"


"Oh, iya. Soalnya kamu tidur di kamar Mama, makanya kami tidur di kamar kamu," ucap Amar sekenanya.


"Tapi kok berantakan? Anan kan boboknya gak bikin berantakan kamar Mama?" protesnya.


"Ooh, itu ..." Amar menunjuk ke arah kamar mandi di kamar ini. "Itu ... kenapa ya? Papa mandi dulu aja deh. Nanti tanya sama mamamu kenapa."


Anan menggeleng cepat dan memasang wajah cemberut. Ia segera memuju ke ranjangnya itu dan merapikan tempat tidurnya.


Anna tertegun melihat ranjang Anan telah rapi kembali. Bocah itu terlihat tengah menyusun peralatan sekolah hari ini. Anna menarik sprei yang telah menutupi ranjang sang putra. Anan melongo melihat tingkah sang ibu.


"Kenapa ditarik lagi, Ma? Kan udah Anan rapikan?"


"Mau Mama cuci." Sprei itu digulung dan ia berjalan ke sisi putranya yang sibuk dengan persiapan ke sekolah.


"Hari ini kamu ada pelajaran apa?" Tangan Anna perlahan mengusap kepala Anan.


Anan melirik ibunya, dan mengelus tangan ibunya yang berada di kepalanya. Ia tersenyum sumringah. "Hari ini Anan ada pelajaran matematika, Ma."

__ADS_1


Tiba-tiba ia tercengang, seakan teringar akan sesuatu. "Astagah, Anan lupa ada PR."


Ia segera membuka tas kembali dan memgecek PR yang harus dikumpulkan hari ini.


"Kok bisa lupa sih?" Anna turut memeriksa tugas anaknya yang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu."


"Kemarin kita nggak pulang-pulang kan? Mama sama Papa lagi acara apa itu sampai semua orang teriak 'SAH' 'SAH' 'SAH' Anan sampai kaget, Ma."


Anna mengulum senyumnya dan menarik buku tugas Anan. "Sini Mama bantu!"


"Asiiiiik!"


*


*


*


Pada siang hari, seorang wanita datang marah-marah memasuki salon Anna. "Dasar wanita j*lang! Kau habis menggoda suamiku kan? Ayo katakan! Anak itu, anak suamiku kan?"


Anna yang sedari tadi tidak memiliki pekerjaan itu, langsung menyambut tamu istimewa itu dengan cara khusus.

__ADS_1


__ADS_2