
"Aaaamaaar? Kamu ke mana aja? Nenek sudah menghubungimu semenjak tadi, tetapi kamu tidak ada kabar sama sekali!" Nenek Amar melihat sang cucu telah berada di dekatnya.
"Maaf, Nek. Aku hanya membutuhkan waktu sendiri sejenak saja. Ada apa, Nek? Bagaimana dengan pemeriksaannya?"
"Kata dokter jutek itu sang ibu mengalami stress hingga mengalami kejang dan kontraksi dini pada kandungannya—"
"Amar ... Amar?" Terdengar suara seseorang dari ujung koridor memanggil nama Amar.
Nenek dan Amar melihat pada sumber suara yang memanggil nama Amar. Ternyata suara tersebut berasal dari Mami Renata, ibu Anna. Seluruh keluarga Anna datang ke rumah sakit ini.
"I-iya ... Mi?" jawab Amar merasa canggung.
"Kenapa? Apa yang terjadi dengan Anna?" Mami Renata mengintip lewat cermin, Anna sedang diperiksa oleh dokter.
Keningnya berkerut melihat label ruangan yang bertuliskan 'Spesialis Kandungan(Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi)' pada bagian atas pintu.
"Ini tidak salah? Kenapa Anna malah dibawa ke sini?" tanya Mami Renata kembali.
Amar menahan napasnya, satu tangan menggaruk kepala bagian belakang, dan satu tangan lagi berada pada kantung celana. Kepalanya tertunduk memikirkan alasan yang telah mereka sepakat untuk dirahasiakan.
__ADS_1
"Ah, Anna sedang pemeriksaan siklus bulanan, Maminya Anna," sela Nenek memberikan jawaban yang belum mampu diutarakan oleh Amar.
"Kenapa siklus bulanan Anna, Nek?" Kali ini Renata bergerak mendekati Nenek Andari.
"Katanya perut Anna mengalami kram. Jadinya kami khawatir dan langsung membawa Anna kemari." jawab Nenek Andari dibalas anggukan paham oleh Renata.
"Syukur lah kalau hanya demikian. Saya takut Anna kenapa-kenapa." Renata kembali mengintip lewat bagian kaca yang pada pintu.
"Kalian berdua baik-baik saja kan?" tanya Sugiono yang masih menggenggam pergelangan tangan Bagas.
Amar menatap sosok pria kecil yang saat ini telah menjadi adiknya juga. Amar mengusap kepalanya dan tersenyum. Bagas menyembunyikan dirinya di belakang sang ayah, karena pria ini baru sekali ia temui saat pernikahan dilangsungkan.
"Kami baik-baik saja kok, Om. Hmmm ... Maksudku, Pi."
"Papi sudah menikirkan kalian beberapa hari ini. Rencananya, pada akhir minggu nanti kami ingin berkunjung ke rumah kalian. Ternyata, rencana ini kesampaian lebih cepat dari yang dijadwalkan. Meskipun Anna saat ini dalam keadaan kurang sehat."
Amar merasa sedikit lega mendengar informasi yang disampaikan oleh Sugiono barusan. Ia sendiri, memiliki jadwal bermain golf dengan rekan kerja pada akhir minggu nanti. Hal itu memang dilakukan dengan sengaja supaya tidak berlama-lama bersama dengan Anna, di rumah.
"Kapan pun Papi dan Mami ingin menemui Anna, pintu rumah kami terbuka dengan lebar untuk kalian." Pandangan Amar pun turun melihat bocah yang menggenggam erat tangan mertuanya ini.
__ADS_1
"Kamu juga, Bagas. Kapan main ke rumah? Biar main lagi sama Kak Anna?"
Bagas terlihat cemberut menatap wajah Amar. "Bagas tidak suka sama Om. Om udah rebut Kak Anna dari Bagas. Om jahat!" geramnya dengan tatapan marah.
"Bagas? Kamu tidak boleh berkata seperti itu?!" sesal Sugiono.
"Jangan panggil dia Om, dia itu suami kakakmu. Itu artinya dia juga kakakmu," tambah Sugiono kembali.
"Tidak mau! Dia itu Om-Om jelek, dan pemarah. Tidak cocok sama Kak Anna yang cantik." Bagas kembali memasang wajah cemberutnya.
"Bagas, kamu jangan berkata seperti itu?" Renata memasukan Bagas ke dalam rangkulannya.
Nenek Andari terkekeh mendengar ucapan Bagas. "Anak pintar," puji Nenek menyetujui pernyataan yang dilontarkan oleh Bagas. "Dia memang Om-Om pemarah." Nenek pun tertawa dengan lantang.
"Nenek?" Amar mengerutkan kening mendengar Nenek Andari malah mengejek dirinya.
Suara derukan pintu pun terdengar. Pintu dibuka dari dalam dan Renata dengan refleksnya bergerak masuk ke dalam ruang tersebut.
"Maaf ya, Bu? Dokter ingin bertemu dengan suami pasien terlebih dahulu," cegah Perawat di pintu masuk.
__ADS_1
...****************...