Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
48. Kejutan


__ADS_3

Nenek Andari menarik tombol hijau dan langsung menatap layar. Di dalam layar pipih tersebut, tampak wajah Amar yang terlihat kusut dan gelisah.


"Nenek pergi ke mana?"


Anna duduk di sebelah Dokter Yoga memasang telinga memastikan ia sedang tidak salah mendengar. Ia diam-diam menyimak Nenek yang sedang berbicara di belakang sendirian.


Nenek Andari menyadari Anna sedang menyimak pembicaraan mereka. "Nenek sedang menikmati masa tua. Ada apa? Kamu ke rumah ya?"


"Huuufft, Nek ... kenapa malah di saat aku butuh, Nenek malah pergi begini?"


Anna menyimak dengan seksama suara seseorang yang begitu ia kenal. Suara itu terdengar lebih berat dibanding biasanya.


"Kamu kenapa?" tanya Nenek.


"Tadi, aku ke rumah orang tuanya."


" .... " Nenek dan Anna sama-sama diam menyimak dengan baik. Karena reaksi kedua wanita ini terasa aneh, Dokter Yoga turut menyimak dalam konsentrasi menyetir.


"Kata orang tuanya, dia belum pernah ke sana dalam beberapa waktu terakhir."


"Dia pergi ke mana ya, Nek? Apa dia baik-baik saja?"


Degh ...

__ADS_1


Anna yang turut serta menjadi penyimak yang baik, merasa ada yang aneh pada dirinya? 'Kenapa dia tiba-tiba mengkhawatirkanku begini?'


"Kata orang tuanya, jika aku tidak bisa membahagiakan dia, mereka menyuruhku bercerai dengannya."


Refleks wajah Anna bergerak menatap pada benda yang dipegang oleh Nenek. Dokter Yoga masih belum memahami apa yang terjadi.


"Kamu kenapa Anna? Apakah kamu mengenal orang yang menelepon Nenek?"


Amar yang mendengar ucapan pria yang berada di titik buta, mengerutkan keningnya. "Anna? Apakah Nenek bersama Anna, istriku?"


"Ah, nanti Nenek hubungi lagi." Nenek Andari menekan tombol merah pada layar datar di tangannya.


Dokter Yoga terdiam, mencerna ucapan seorang pria yang menelepon Nenek Andari tadi. 'Anna, istriku? Apakah Anna yang duduk di sampingku ini, atau ada Anna yang lain lagi?'


"Ayo ... Hari ini kita bersenang-senang!" Nenek sedikit bersemangat dengan sebuah ide yang tiba-tiba muncul dalam kepala wanita lansia tersebut.


Sementara itu, di dalam kepala Amar terngiang-ngiang suara pria yang menyebut nama Anna di dekat Nenek. Suara pria itu terdengar menyebut nama Anna dengan sangat syahdu.


Tangannya mengepal erat. Ia mencoba menelepon Nenek Andari kembali, akan tetapi ... Panggilan tersebut tak kunjung masuk juga.


Saat malam datang, Amar menikmati sepi dalam hatinya pada sebuah bar. Di sampingnya telah duduk seorang yang sengaja dipanggil untuk menemaninya.


"Satu gelas untuk Luna!" Amar mengacungkan gelas kecil khusus minuman itu, lalu menenggaknya hingga kosong.

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi dalam waktu cepat?" Amar meringis, tertawa, lalu menangis.


Amar menuangkan kembali minuman itu ke dalam gelas kecil tadi. "Sekarang giliranmu Damaaarr!" Amar mendorong gelas itu ke mulut asistennya itu.


Darma menolak dan mundur. "Namaku Darma, Pak. Bukan Damar."


Amar menyeringai menyipitkan matanya menggoyang-goyangkan gelas kecil yang ada di tangannya. "Hah, berarti ini untukku saja." Amar kembali menenggak semua isi gelas itu ke dalam mulutnya.


"Sudah, Pak! Jangan memikirkan dia yang telah pergi. Anda ini memiliki istri yang membutuhkan perhatian. Apakah Anda mau jika kali ini ditinggal olehnya?"


Penglihatan Amar telah buram. Akan tetapi, seseorang yang ada di sampingnya itu seakan berubah bentuk menjadi Anna.


Tangan Amar mulai mengusap-usap pipi Darma, yang di dalam penglihatannya seperti Anna. "Kamu di sini untuk menemaniku?"


Darma menepis tangan sang Boss. "Saya bukan Anna, Pak. Sadar lah!" Darma mulai merasa geram dengan tingkah pria ini.


Drrrrttt


Ponsel Amar terasa bergetar. Darma menarik ponsel yang berada pada posisi yang cukup jauh dari jangkauan boss yang sudah tidak sadar.


"Pesan dari orang yang tidak dikenal, Pak?"


Amar langsung menarik alat komunikasi tersebut, dan terburu-buru membuka. Di dalam ponselnya itu, muncul beberapa potret wanita yang dicarinya, tengah tampak bahagia berjalan berdua dengan pria lain.

__ADS_1


__ADS_2