
Amar memandangi cambuk yang baru saja dipukulkan pada meja yang ada di belakangnya.
"Jika kau sudah sadar bahwa kau hanya pria bod*h yang menelantarkan anak kami, kenapa kau masih mencoba-coba untuk terus bersamanya?" Sugiono kembali mengintari Amar.
"Justru karena saya tahu bod*h, saya ingin memperbaiki kesalahan itu, Pi. Saya ingin membuktikan pada Papi, bahwa kali ini saya akan membahagiakan Anna dengan rasa cinta luar biasa yang saya miliki."
Sugiono melirik Amar yang terdengar begitu sungguh-sungguh. Namun, ia masih penasaran pada satu hal yang sepertinya sengaja disembunyikan oleh mereka.
"Aku tak mau jika orang bod*h yang tak bisa apa-apa sok-sok-an menjadi pendamping anak kami."
Plaaaak
Amar kembali terkejut. Sementara itu, dari luar, Anna mendengar suara yang sangat ia kenal. Suara pecutan dari cambuk yang dulunya dilakukan kepadanya. Wajahnya terlihat sangat ketakutan membayangkan jika Amar, suaminya mendapatkan perlakuan yang sama seperti dirinya.
"Anan, kamu temenin Oma di dapur dulu! Mama mau tengok Papa."
Anan mengangguk dan berdiri dekat dengan Renata yang sedang menyiapkan makanan demi menyambut mereka. Anna berjalan cepat menuju pintu ruang kerja milik sang ayah angkat. Dia menyelonong masuk dan mendapati Amar sedang berlutut di dekat ayah angkatnya yang memegang cambuk bewarna hitam.
"Papi ... Bang Amar?" soraknya membuat kedua pria itu menoleh padanya.
Anna setengah berlari menuju Amar yang masih berlutut. "Aku mohon, jangan pkuli Bang Amar lagi, Pi. Semua ini murni salahku. Aku lah yang pergi. Dia tidak mengusirku sama sekali. Malah, aku dengan sengaja pergi di saat ia sedang tidak berdaya." Anna memeluk Amar dari belakang.
Sementara Amar diam dalam kebingungan. Namun, mendapat pelukan dari Anna seperti ini, ada rasa nyaman yang membuatnya memilih untuk diam dan membiarkan Anna terus melakukannya.
"Bang Amar adalah orang baik, Pi. Dia, telah menyelamatkan Anna dulu di saat, Anna hampir m4ti karena—"
"Kamu pernah mencoba bun*h diri?" tebak Sugiono.
__ADS_1
"A-aku—"
Amar memutar tubuhnya yang tadi membelakangi Anna. Ia langsung memeluk Anna dan mendekapnya erat.
"Sudah lah, Sayang. Cukup! Biarkan hal berlalu itu terkubur untuk selamanya," ucap Amar.
"Tapi, aku tak akan pernah bisa memendam ini untuk selamanya."
Sugiono memperhatikan Anna dan Amar yang tampak saling melindungi di dalam pelukan. "Jadi, apa karena Zico meninggalkanmu membuatmu jadi berpikir pendek seperti itu?"
"Bukan! Bukan hanya itu, Pi. Saat itu aku—"
"Aku mohon kamu tidak perlu melanjutkannya. Biarkan semua orang tahu, seperti apa yang mereka tahu." Amar kembali menyela.
"Tapi, cepat atau lambat, mereka akan tahu juga."
Sugiono terlihat kebingungan dalam obrolan mereka. "Kalian ini membicarakan apa?"
Sugiono mengerutkan kening mencoba melanjutkan memahami apa yang diucap anaknya ini.
"Sebenarnya, menjelang pernikahan aku dan Zico, aku ...."
Amar bangkit dan menggenggam tangan Anna. "Please ... Jangan! Biarkan semua orang tahu bahwa Amar lah ayahnya." bisik Amar kembali.
"Tapi, aku merasa sangat berdosa, Bang."
"Pokoknya bagaimana pun juga, Anan adalah darah dagingku. Aku mohon, biarkan itu tetap terkunci supaya aku memiliki kebanggaan sebagai seorang pria."
__ADS_1
Anna menatap netra gelap yang terus merasuk dalam jiwanya. Amar tak henti menyugar rambut-rambut halus yang menutupi wajah Anna.
"Kalian ini? Apa kalian akan seperti itu terus di hadapan Papi?" Sugiono bergumam dengan suara berat.
Pelukan Amar dan Anna terlepas.
"Pi ... Aku mohon, izinkan aku menikahi Anna kembali. Aku berjanji, akan membuatnya bahagia, lahir dan batin." Sorot mata Amar kali ini berani menembus netra gelap milik mertuanya.
Sugiono juga merasakan dalamnya pandangan Anna terhadap Amar. Akhirnya ia bernafas lega. Sugiono tersenyum tulus dan mengangguk bersahaja. "Kalau begitu, menikah lah. Papi akan kembali menjadi saksi."
"Jika kamu memang kukuh harus menikah kembali dengannya ... Maka, menikah lah! Asal kalian berjanji untuk berbahagia sampai akhir hayat. Dan, satu lagi! Menikahlah hari ini juga!"
*
*
*
Sore harinya, pada sebuah mesjid, ijab kabul dilangsungkan dengan cara sederhana. Pernikahan sakral itu, hanya disaksikan oleh orang-orang terdekat. Bahkan meluarga Amar pun tak satu pun yang hadir, dan Amar menganggap mereka tidak perlu tahu dengan ijab kabul ulang ini.
Karena, mereka tak lagi membutuhkan dokumen pernikahan. Pernikahan ulang ini, hanya lah pengesahan secara agama. Bahwa, Anna benar-benar telah utuh menjadi miliknya.
Tak bedanya seperti dulu, Amar melafalkan ijab kabul dengan sangat sempurna. Namun, bedanya wajah Amar yang sekarang, melafaskannya dengan ketulusan dan sungguh-sungguh.
Anna mencium tangan suaminya, dibalas dengan kecupan di kening.
"Terima kasih ... Terima kasih sudah mau menjadi istriku kembali. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Anna memeluk Amar dengan bahagia. "Terima kasih juga telah menjadikan hari yang panjang ini, seindah mawar yang kamu berikan tadi."
Ponsel di dalam tas Anna bergetar. Ada dua pesan masuk di sana. Yang pertama dari Dokter Yoga, kedua dari Lasmi yang mengabarkan Zico mencarinya di salon.