
"Aduh Nenek, aku ini sedang sakit. Kenapa Nenek memukul aku?" Amar melindungi dirinya dengan kedua tangan.
Ia tidak bisa mendengar apa yang dikicaukan oleh Nenek. Mulut Nenek terus bergerak cepat, tetapi ia belum bisa membaca apa yang diucapkan oleh neneknya itu.
Pandangan Amar, berpindah pada benda yang dijadikan senjata oleh Nenek Andari. Amar menarik lembaran kertas itu dan membacanya. Tangannya bergetar saat membaca lembar kertas tersebut, dan ia segera turun dari brangkar meski keadaannya masih terasa tidak nyaman.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nenek menghalangi langkah Amar.
Namun, Amar masih belum bisa mendengar ucapan sang nenek dengan baik. Ia mencoba melepaskan genggaman Nenek. Namun, kali ini Nenek terduduk lemas.
Amar yang tadinya ingin keluar, membatalkan keinginannya. Ia melihat Nenek yang telah pasrah dengan keadaan. "Nek, kenapa tidak menghalangi kepergian Anna? Kenapa harus di saat aku tidak bisa berbuat apa-apa?"
Nenek hanya tertunduk. Beliau merasa percuma berbicara, karena Amar tidak akan bisa mendengar ucapannya.
"Bagaimana pun juga, Amar tidak akan menceraikannya. Tidak akan pernah. Karena, aku ... mencintai dia. Aku berjanji akan mencarinya sampai kapan pun."
Di tempat lain, Anna memasuki sebuah kontrakan sederhana. "Mulai hari ini, kamu dan aku akan tinggal di kontrakan ini." Anna mengusap kandungannya yang telah membesar.
*
*
*
Beberapa tahun kemudian, seorang anak yang sedang menggunakan seragam bela diri, bertulisan 'Wushu' sedang berjalan dengan ceria menuju rumahnya. Usia anak itu berkisar sembilan tahun. Ia baru saja mendapat informasi bahwa namanya akan diikutsertakan dalam pertandingan Wushu tingkat nasional.
Saat di perempatan jalan, ketika hendak menyeberang, ia melihat tingkah aneh pengendara motor yang di dekat mobil yang terlihat membuka jendela.
Anak itu mendekat dan terus memantau, menyaksikan penumpang yang duduk di bagian belakang, turun dengan cepat menarik sesuatu lewat jendela mobil itu dan kembali naik ke motor yang telah siap untuk beranjak.
Seorang pria keluar dari mobil tersebut, tetapi pencuri itu telah kabur dengan sangat cepat menggunakan motornya. Anak yang menyaksikan kejadian itu, melihat sebuah potongan balok tak jauh dari posisinya memunguti potongan kayu tersebut dan berlari kencang melemparkan ke arah tangan pengendara.
buughh
__ADS_1
Tangan yang berguna menarik gas itu tepat mendapat hantaman sebuah potongan kayu, sehingga ia tersentak dan motor itu oleng dan jatuh.
Anak tadi berlari kencang ke arah pencuri yang gagal kabur itu. Ia langsung saltu berputar beberapa kali hingga sampai lah hantamannya mengenai kepala pengemudi motor tadi.
Sementara itu, sang penumpang yang bertugas menjambret, mengeluarkan sebilah belati dan mengarahkannya pada anak kecil itu.
"Lu bocah, tak tahu diri ya? Mau sok jadi pahlawan?"
Anak itu mengambil ancang-ancang yang ia pelajari selama beberapa tahun ini dalam bela diri wushu. Dengan gesit, putaran dan tendangan indah melayang mendekati sang jambret.
Kali ini ia fokus pada dompet yang ada di tangan sang pencuri. Ia melakukan putaran indah bergantian berpijak antara tangan dan kaki, menjepit pinggang lawan yang memiliki postur berkali lipat dibanding dirinya dengan kedua kaki. Lalu menumpukan berat pada kedua tangan yang menjadi pijakannya kali ini di atas aspal. Tubuh pria itu terangkat dan terhempas di atas aspal.
"Aaagghhh!" ringis sang lawan.
Melihat lawannya sudah cukup babak belur, anak itu menarik dompet yang ada di tangan sang jambret.
"Om, cari duit itu yang halal dong! Jangan kayak gini! Malu kan? Kalah sama anak kecil kayak saya?"
Anak itu berpindah pada pria yang mulai berjalan mendekat padanya. Namun, pria sang pemilik dompet itu terlihat menunjuk ke arah belakangnya.
"Tolooong! Tooloong!" teriak pria yang ditolongnya. Hal ini membuat sang jambret segera memndirikan motor, langsung menyalakan, dan kabur.
Pria yang melihat anak kecil itu terluka, menyobek kemeja yang sedang ia pakai, mengikatnya pada sayatan yang mengalirkan d*rah yang sangat banyak.
"Ayo, kita ke rumah sakit." Ia mengajak anak kecil itu masuk ke dalam mobilnya. Lalu mereka ke rumah sakit.
Wajah anak laki-laki itu terlihat tenang. Ia terus melirik sembari menyetir kendaraannya. "Namamu siapa?" tanya pria itu.
"Aku, Om? Namaku Anan, Om."
"Kita akan ke klinik tempat saya bekerja."
"Baik, Om. Jadi, Om seorang dokter? Kenapa tidak obati langsung?" selidiknya.
__ADS_1
"Ini lukanya cukup dalam dan harus dijahit. Biar kita lakukan di klinik saja."
Bocah bernama Anan itu akhirnya mengangguk menekan bagian tangannya yang terluka.
Beberapa waktu kemudian, bocah sembilan tahun itu ditemani oleh beberapa perawat, setelah Dokter yang membawanya tadi memberikan suntikan anestesi.
"Apakah tidak berasa lagi?" tanya salah satu perawat.
Anan menganggukan kepalanya. Dokter tadi telah muncul membawa jarum yang telah diberi tali berwarna hitam.
"Kamu jagoan kan? Dengan begini saja, pasti nggak takut kan?"
Anan menganggukan kepalanya. Namun, ia memilih memejamkan mata saat jarum itu memasuki kulit dan menyatukan bagian luka yang masih mengalirkan cairan merah segar.
"Dah selesai," ucap Dokter tadi.
Anan membuka matanya. "Hah? Udah aja, Om? Kok cepat ya? Nggak sakit sama sekali."
Dokter itu tersenyum mengusap kepala Anan. "Makasih yah? Kamu sampai terluka menolong, saya."
"Tidak apa, Om. Kata mamaku, ilmu bela diri itu digunakan untuk menolong orang. Kali ini adalah waktu yang tepat. Aku bisa mempraktikkannya secara langsung."
Dokter itu tersenyum. "Wah, mama kamu belum membayangkan apa yang akan terjadi sih ya? Kalau tahu anaknya terluka begini, dia pasti akan marah pada Om."
Anan tersenyum kikuk. "Benar juga, mama pasti akan sedih. Tapi entah lah, Om. Sepertinya Mama tak akan sedih melihat ini doang. Semenjak kecil, aku jatuh atau terluka, mama tak pernah terlihat sedih. Aku disuruh ikut bela diri ini dikatakan biar tidak jadi anak manja."
Sejenak dokter itu menganggukan kepala. "Sepertinya mamamu tahu, telah membesarkan anak hebat."
"Bukan begitu, Om. Mama Anna tidak pernah benar-benar sayang padaku."
Dokter itu terkejut mendengar sebuah nama yang telah menghilang semenjak sepuluh tahun lalu. "Siapa nama mamamu?"
"Anna, Dok. Kenapa, Dok?"
__ADS_1
"Papamu?"
"Kata mama, papaku telah meninggal saat aku dalam kandungan dulu. Aku lihat, nama papa yang tertulis di dalam rapor namanya Amar ..."