
Anna kembali mengencangkangkan pelukannya pada leher sang suami menyandarkan kepala pada dada Amar. Wajah Amar telah mengernyit, ia menguatkan otot lengan mengangkat Anna.
"Hah!"
Dia kembali melangkahkan kaki satu per satu meskipun pinggang dan lututnya mulai bergetar. Anna melihat raut Amar yang menahan bobotnya yang bisa jadi berkali-lipat bila tergantung seperti ini.
"Apa kamu yakin akan terus seperti ini?"
"Kamu tenang aja!" Amar terus menaiki anak tangga itu satu per satu.
Akhirnya ia berhasil sampai dan Anna segera meluncur turun dari gendongan memandangi suaminya yang terus memegangi pinggang. "Sekarang gimana, Bang? Sakit pinggang ya?"
Amar tertawa dan menyadari sesuatu. "Ternyata aku ini sudah tua," kekehnya terlihat jenaka.
"Kamu memang sudah tua kan? Pakai sok-sok romantis seperti ini, malah nelangsa sendiri?"
"Sssttt! Tidak boleh protes! Sebagai gantinya kamu harus memijitku hingga pagi."
"Aaah ...." Anna tercekat memahami maksud si lelaki yang entah pernah merasakan tidur bersama wanita atau belum sebelumnya.
Anna membuka pintu kamarnya, terlihat Anan yang terlelap dengan pulas di sana. "Kenapa Anan ditaruh di kamarku?"
"Aku tak tahu kamarnya, ya aku asal taruh saja. Yang penting dia tidur di kamar."
__ADS_1
"Ooh, ya udah. Aku mau membersihkan diri dulu." Anna beranjak meninggalkan Amar, tetapi Amar menariknya terlebih dahulu.
"Aku juga belum mandi. Ayo mandi bareng!"
Anna tersentak melongo. "Aaah, kamu ini kenapa?"
Amar tak menjawab tetap menarik Anna menuju sebuah pintu yang ada di kamar itu. Tentunya merupakan sebuah kamar mandi.
"Pengalamanmu lebih banyak dariku. Tapi, aku ingin melakukan ini setiap hari bersamamu." Amar mulai mengecup pipi Anna, perlahan pindah ke bibir.
Suasana dingin di kamar mandi itu membuat mereka saling berpagut mesra dan kecupan-kecupan manis mengiringi jemari mereka yang saling membukakan pakaian pasangannya masing-masing.
Amar terpana tak percaya dengan pemandangan putih mulus yang selalu tertutup oleh pakaian itu. Reaksi Amar membuat Anna malu dan ia menyilangi kedua tangannya menutupi bagian tersebut.
"Aah, aku tidak bisa seperti ini di dalam kamar mandi."
Amar kini memagut tubuh tanpa sehelai benang pun itu, membuat indera perasanya merasakan sesuatu yang berbeda. "Aaah, kita nikmati dulu di dalam ruang sempit ini." Amar kembali menjatuhkan kecupan-kecupan ringan pada bibir Anna, yang awalnya mulai turun membuat Anna meringis.
Melihat reaksi Anna membuat semangatnya naik dan terus memainkan di bagian l*her putih jenjang sang istri.
Ia teringat di mana pernah bermain sampai ke bagian dada Anna. Ia kembali bermain di sana, membuat reaksi Anna sungguh mengg*la. Sudah lama ia tak begini, di saat dij*mah terakhir kali sebelum Anan hadir di dalam rahimnya.
D*sahan panjang di malam itu akhirnya membuat Amar tak tahan bermain sepenuhnya. Kamar mandi menjadi saksi bisu di mana dua insan itu saling berc*mbu, saling menghangatkan.
__ADS_1
Setelah itu mereka berpindah lokasi. Ranjang luas Anna telah diisi oleh Anan. Mereka memilih pindah ke kamar Anan melanjutkan sesuatu yang tertunda.
D*s*han dan racauan terdengar di sepanjang malam. Hingga akhirnya mereka menyelesaikan permainan dalam pelukan di atas ranjang kecil milik Anan. Mereka pun tertidur di bawah selimut tanpa benang sehelai pun.
*
*
*
"Papaa ... Mamaaa ...."
Suara Anan menggeledar mencari sosok orang tuanya.
Anna membuka mata dengan seketika. Saat ini, Amar sedang menjepitnya bagai guling dalam kulit yang saling menempel.
"Bang ... bangun! Anan mencari kita."
"Hmmm ... Biar kan aja. Aku masih ngantuk." Amar mempererat pelukannya pada tubuh Anna, menjadikan Anna bagai gulingnya.
Anna mendengar gagang pintu kamar ini ditarik dari luar. Ia merasa kacau, mereka berdua tak memakai apa pun saat ini, hanya tertutup selimut kecil milik anaknya.
"Bang, bangun! Nanti dilihat Anan kita kayak gini gimana?"
__ADS_1