
Setelah memperhatikan kerumunan anak-anak yang bersorak, mereka fokus pada anak yang ada di tengah.
Seorang pria dewasa yang tertutup oleh masker mencoba menenangkan anak-anak yang terus menyanyikan sorak sorai untuk Anan. Beberapa orang tua yang datang menjemput anaknya mulai mendekati kerumunan tersebut mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Anan bukan anak h4ram! Anan anak Mama dan Papa!" Anak lelaki itu menutup telinga di antara kerumunan anak-anak yang terus mengganggunya.
"Hentikan! Jangan mengganggu Anan!" Zico mencoba menenangkan, tetapi sorak sorai itu bukan menjadi reda, malah semakin menjadi.
"Bapak siapa? Kenapa mengaku sebagai ayah Anan?"
Zico tercekat oleh pertanyaan dari salah satu ibu-ibu yang penasaran. "Aaah, sa-saya ... maksud saya Anan adalah keponakan saya. Jadi sudah seperti anak saya sendiri."
Mulut para ibu yang penasaran membulat. "Oh, saya kirain apa ..." Para ibu itu mulai menarik anak-anaknya yang tergabung dalam kelompok tersebut sembari menarik telinganya.
"Kamu mau mencari masalah dengan kedua orang tua anak itu?" ucap sang ibu kesal menarik telinga anaknya.
"A-aampun, Ma. Ampuuuun ...."
__ADS_1
Zico terlihat mulai lega ketika keramaian itu mulai berangsur sepi. Ia menatap Anan yang menatapnya dengan tatapan lugu.
"Om, kenapa selalu saja ada deket-deket aku? Bukan kah Papa dan Mama bilang nggak boleh ganggu Anan?" tanyanya.
Netra Zico liar melirik ke kiri dan ke kanan. Ia sedang mencoba memikirkan alasan, supaya Anan tidak lari menjauh, ia masih kekeuh dengan apa yang ia yakini saat ini.
"Boleh kah saya meminta satu helai saja dari rambut kamu?"
Anan melongo refleks memegangi rambutnya. "Kenapa dengan rambut Anan?"
Anan tanpa pikir panjang menarik selembar rambutnya. Lalu ia memandangi rambut yang panjangnya tak lebih dari lima senti meter. Beberapa waktu ia berpikir dan kembali menarik rambutnya meski wajahnya meringis.
"Nah, ini! Anan sengaja ambil banyak-banyak agar rambutnya tidak hilang."
Zico terlihat sumringah mendekati anak itu. Ia segera menarik sebuah plastik yang sudah disiapkan dalam kantong kemeja yang ia pakai. Rambut itu dimasukan ke dalam kantong dan Zico mengusap rambut Anan.
"Apa yang kau lakukan?" Sebuah suara berat membuyarkan suasana romantis antara pria dewasa dan anak kecil itu.
__ADS_1
Pria berpakaian rapi setelan jas dan celana berwarna senada kini berjalan mendekat. Ia segera menggandeng tangan Anan menatap Zico dengan wajah datarnya.
"Kau mau apa lagi dengan anak kami?" Amar mengeluarkan ponselnya. "Kau sudah melanggar keputusan yang telah disepakati di atas matrai! Bersiap lah! Kau akan segera dipenjara." Amar menekan tombol dan menempelkan benda tersebut di telinganya.
Zico kelabakan dan balik kanan tanpa sempat untuk pamit. Amar tersenyum tipis menatap punggung itu terus menjauh dan menghilang.
"Apa yang dilakukannya padamu, Jagoan?" tanya Amar menatap Anan.
Anan menggelengkan kepala, lalu mengajak Amar untuk segera meninggalkan lokasi sekolah.
Di sisi lain, Zico segera menyerahkan sample ke laboratorium. Ia sungguh teramat penasaran. Ketika berada di sisi Anan, ada sebuah rasa yang tak bisa ia ungkapkan muncul.
Pada sebuah mansion mewah keluarga Amar, Anan tampak bermain dengan papanya itu. "Pah, Anan mau tau arti anak h4ram? Anak h4ram itu seperti apa? Tadi kawan-kawan bilang Anan anak h4ram."
Amar tertegun mendapat pertanyaan seperti itu. Ia melirik Anna yang sedang sibuk di dapur turut menghentikan kegiatannya.
"Siapa yang mengatakah anak papa yang tampan ini seperti itu? Ayo kita laporkan!"
__ADS_1