
Saat ini, semua benda yang diberikan Silvi telah diambilnya kembali. Bahkan, tanpa sepengetahuannya, Silvi mengalihkan nama benda-benda yang dibeli atas nama Zico, menjadi nama orang tua Silvi. Saat ini, Zico resmi sebagai gelandangan yang terpaksa tidur di sebuah kamar sewaan.
"Mama selalu melarang Anan makan mie instan, Pa. Padahal Anan tau rasa mie instan itu sangat enak." Anan tak berhenti memasukan makanan-makanan itu ke dalam mulutnya.
"Apa yang kamu pikirkan saat melihat Papa tinggal di kamar sempit ini?"
"Tidak apa, yang penting tidak tidur di kolong jembatan kan?"
Zico terkekeh menggelengkan kepala. "Tapi Papa memang sedikit lagi jadi penghuni kolong jembatan. Kamu tahu itu kenapa? Karena perbuatan Papa di masa lalu yang udah j4hat sama mama kamu."
"Uhuuukk." Anan tersedak dan Zico segera menyerahkan air untuk diberikannya kepada anaknya ini.
"Papa Zico udah j4hatin Mama Anan?" Kali ini raut wajah Anan berubah memerah.
"Iya, maafkan Papa. Papa sudah jah4t kepada Mama Anna dan kalian berdua. Namun, apa kamu masih mau tinggal dengan Papa di sini? Kamu kan anak Papa, harusnya temani Papa."
Zico tidak memedulikan suasana kamar tanpa jendela yang pengap itu. Hanya kamar ini yang bisa ia sewa dengan harga yang cukup murah. Ia menghabisakan sisa uang tunai yang ada di tangannya demi menyewa kamar ini untuk satu tahun ke depan. Baginya, untuk biaya makan bisa dicari kemudian hari, tetapi berbeda dengan tempat untuk tinggal.
__ADS_1
Anan menaruh garpu sebagai alat untuk menarik mie yang ia makan tadi. "Jadi ini tujuan Papa muncul dan mencari Anan?"
"Setidaknya Papa tahu, memilikimu dalam hidup Papa." Zico terkekeh mencoba melebur dalam suasana.
"Papa harus minta maaf kepada Mama!" Anan memukul meja, meskipun ia tidak tahu kej4hatan apa yang diperbuat ayahnya ini.
"Papa sadar diri, Papa ini tidak akan termaafkan lagi." Zico mengusap kepala Anan.
"Sebenarnya Papa ingin membawamu kabur jauh dari kota ini, tetapi sekali lagi Papa ingat, saat ini Papa Zico-mu tidak memiliki apa-apa. Jadi, untuk beberapa waktu ayo kita tinggal bersama di tempat ini."
Anan mendelik memasang raut wajah kesalnya. "Tidak mau! Anan mau tinggal sama Mama. Jangan-jangan gara-gara ini Mama selalu diam kepada Anan? Ternyata, semua karena Anan hanyalah anak yang lahir tanpa keinginan Papa kan? Papa kabur lalu membiarkan Mama Anna sendirian? Gitu?"
"Tidak, tidak seperti itu. Bahkan dulu Papa tidak tahu jika mamamu sedang mengandungmu." Zico terus membela diri di hadapan Anan.
"Lalu apa yang kau lakukan pada mamaku?" Suara Anan terus meninggi, hingga melupakan bahasa yang harus digunakan.
"Kejahatan Papa kepada mamamu adalah, meninggalkannya demi menikah dengan wanita lain. Padahal pernikahan Papa dan mamamu sudah dekat. Maafkan Papa, karena dulu Papa terlalu picik. Tak siap dengan keadaannya yang hanyalah seorang anak angkat."
__ADS_1
"KAU JAHAT!" teriak Anan bergerak cepat keluar dari pintu kamar ini.
Zico mencoba menahan Anan, tetapi dengan mudah Anan mengunci tangan ayahnya ini ke belakang.
"Anan tidak suka punya Papa macam kau! Karenamu lah Mama selalu membenci Anan semenjak lahir. Kau tahu, siapa orang yang membuat Mama mulai sayang kepadaku? Papa Amar! Dia membantu agar Mama yang Anan sayang, bisa sayang juga sama Anan," tangisnya.
"Dulu Anan pikir, Papa Amar memang papa kandung Anan. Aku menyesal sudah teriak-teriak pada Papa Amar tadi malam. Ternyata, papa kandung Anan hanyalah orang jahat yang udah pergi dari Mama."
"Jadi kamu menyesal mengetahui semua ini?"
Anan tidak menjawab dan mengusap air yang jatuh pada pipinya dengan kasar.
"Setidaknya kamu sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Sekarang kamu boleh menganggapku tidak ada. Namun, jika kamu membutuhkanku, aku akan hadir sebagai 'Om' bagimu. Cukup kamu ingat, suami mamamu yang bernama Amar itu adalah ayah kandungmu. Jangan katakan apa pun kepada mereka, bahwa kamu mengetahui segalanya," ucap Zico sendu.
"Ternyata hanya begitu artiku buatmu? Bahkan, tidak berusaha menahanku untuk tetap di sini? Baik lah! Anan hanya memiliki satu papa kandung, yaitu Papa Amar. Semua kenangan kita berdua ini, akan aku lupakan."
Anan pun keluar dari kamar pengap itu, langsung dikejar oleh Zico. "Biar Papa yang mengantarkanmu pulang!"
__ADS_1
Anan melepaskan diri. "Anan sudah besar dan tahu arah jalan pulang. Lepaskan Anan, Om!" ucap bocah itu meninggalkan Zico dengan matanya yang merah.
Zico tertunduk mendapat reaksi Anan yang luar dugaan ini.