Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
64. Kemelut hati sang ibu


__ADS_3

Teriakam Anan membuat hati Anna bergemuruh. Air matanya kini langsung membanjiri pipi dan tubuhnya seakan lemah ambruk terduduk bertopang pada daun pintu.


Dokter Yoga berlutut menenangkan Anna yang seakan kehilangan daya mendengar apa yang dilontatarkan putranya.


"Anan, kamu jangan berkata seperti itu. Mamamu sangat menyayangimu. Tidak mungkin seorang ibu tidak menyayangi anaknya." bujuk Dokter Yoga kembali.


Namun, tak ada jawaban yang mereka dapatkan. Anna sungguh merasa bersalah akan keras sikapnya kepada sang anak selama ini. Ia tak menyangka, bisa membuat sang putra berpikir bahwa ibunya ini tak menyayangi dirinya.


"Anna, katakan lah! Katakan isi hatimu yang sebenarnya! Pecahkan kebekuan hatimu kepadanya. Dia adalah darah dagingmu. Buktikan perjuanganmu selama ini semata-mata untuk kebahagiaan dirinya!"


Anna sesegukan tanpa suara. Ia teringat akan segala sikapnya kepada Anan selama ini. Anan adalah darah milik Zico, pria yang paling ia bencii sampai sampai ke ubun-ubun. Sehingga, alam bawah sadarnya membuat dirinya sama sekali enggan menyentuh dan memeluk sosok yang ia kandung selama sembilan bulan itu.


"Anna, cepat katakan! Bahwa kamu sangat menyayanginya!"


Anna menatap Dokter Yoga. Pria yang itu menganggukan wajahnya. Anna hening sejenak dan mencoba mengetuk pintu itu kembali. Namun, tagannya terasa kaku dan berat. Ternyata, ia masih begitu gengsi untuk mulai merayu putranya itu. Hal ini membuatnya tertunduk tak bersuara.


*


*

__ADS_1


*


Keesokan hari, Anna berinisiatif menjemput putranya di sekolah. Namun, hingga sekolah sepi, Anan tak terlihat sama sekali. Sehingga, membuat ia memberanikan diri bertanya kepada security yang duduk pada pos penjaga.


"Pak, kenapa Anan belum keluar juga ya? Apakah siswa kelas tiga memiliki kegiatan tambahan?"


Orang yang ditanya terlihat cukup bingung. Karena, semua siswa telah dipastikan pulang dan tak satu pun yang tertinggal.


"Waah, tidak ada, Bu. Sekolah udah kosong."


Wajah Anna langsung menegang. "Tapi, anak saya belum terlihat loh, Pak? Apa Bapak yakin semua udah pulang?"


"Kalau boleh tau, nama anak Ibu siapa?" Security ini memang tak pernah melihat Anna sebelumnya. Wajah Anna masih cukup asing baginya.


Sang security langsung menampakkan raut bahwa ia mengenal nama itu. "Oh, anak ganteng itu. Bukan kah dia sudah dijemput ayahnya, Bu?"


Kening Anna memgerut. "Ayah?"


"Iya. Ayahnya ganteng banget lho, Bu. Pakai setelan jas dan mobilnya bagus banget."

__ADS_1


Anna tersentak. Tubuhnya terasa lemas. Ia ketakutan, jika anaknya diculik oleh pria yang mengaku sebagai ayah Anan.


"Terima kasih, Pak." Anna segera melaju pulang. Ia ingin mengajak Lasmi untuk menemaninya untuk melapor ke kantor polisi.


Sampai di salon, ternyata Anan sedang ngobrol dengan kaki tangannya itu. Hal ini membuat Anna sedikit lega sekaligus kesal.


"Ternyata, kamu di sini rupanya?" tanya Anna sedikit menghardik putranya.


Wajah Anan, seketika berubah ketakutan dan seorang pria yang sedang duduk menunggu di bangku tersedia mengerutkan keningnya melihat sosok yang begitu lama tak ia jumpai. Tak jauh darinya, ada siswa berseragam sekolah dasar tampak takut melihatnya.


"Anna?" suara pria itu membuat Anna dan Anan refleks menatap wajah pria yang sedang membaca majalah pada pojok ruangan yang sengaja disiapkan bagi para suami yang menunggu istri melakukan perawatan di salon ini.


Wajah Anna menegang, matanya liar mencari sosok yang ditunggu oleh pria itu. Tampak wanita gendut yang merebut calon suaminya dulu sedang melakukan smoothing, dibantu oleh salah satu karyawan miliknya.


Jadi, dia yang membawa Anan semenjak kemarin? Tapi, dari mana ia tahu bahwa Anan adalah putranya?


Anna melirik Anan dan segera menariknya putranya itu untuk menjauh. Akan tetapi, pria yang tak lain adalah Zico, mengejar Anna dan bocah itu.


"Anna, tunggu!" Tangan Zico menahan lengan Anna. Ia melirik Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


"Kamu, tak berubah sama sekali. Kamu masih terlihat cantik, persis seperti dulu."



__ADS_2