Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
36. Menyusun rencana


__ADS_3

"Ke mana mereka? Kenapa tak satu pun yang bisa dihubungi?" tanya Sugiono berdiri tepat di depan pintu apartemen yang ditinggali Amar dan Anna.


"Atau jangan-jangan mereka sedang berbulan madu di luar negeri?" tanya Renata terdengar bersemangat.


"Ekheeem ... Bisa jadi sih. Tapi kenapa mereka tidak memberi kabar?" geram Sugiono kesal.


"Ya, gimana lagi, Pi. Orang lagi kasmaran. Dunia serasa milik berdua, jadi bisa lupa segalanya." ucap Renata dengan mata berbinar.


"Beneran? Papi malah takut mereka kenapa-napa."


"Ih, Papi terlalu berlebihan ih. Amar sepertinya suami yang baik dan sopan. Mami rasa, dia akan membahagiakan Anna, putri kesayangan kita." Renata merangkul lengan suaminya dan menarik tangan Bagas. "Kita pulang, yuk?"


"Kok pulang aja? Mana Kak Anna, Mi? Bagas Kangen banget ...." ucap Bagas yang menyayangi kakaknya.


"Iya, Mami juga kangen. Tapi kakakmu itu lagi seneng-seneng sama suaminya. Nanti kita hubungi lagi kalau mereka udah kembali." Renata masih menarik sang putra.


Bocah laki-laki yang mulai besar itu, merengut dengan wajah kecewa karena gagal bertemu dengan Anna. Langkahnya terasa berat, membayangkan Anna telah direbut oleh pria yang tiba-tiba saja muncul menjadi suami sang kakak.


"Bagas gak suka sama suaminya itu," sungutnya.


"Lah? Kenapa gak suka? Bukan kah ketampanannya melebihi pacarnya yang dulu," ucap Renata masih menarik sang putra berjalan dengan melas.

__ADS_1


"Ya, gak tau. Gak suka aja."


*


*


*


"Luna ... Kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri di sini? Setelah kamu pergi, aku harus bagaimana?"


Amar terseok melangkahkan kakinya. Seluruh tubuhnya terasa lunglai. Untuk menekan pasword pada kunci apartemannya pun ia tidak fokus.


Setelah terdengar nada bahwa pasword yang ia tekan sudah benar, pintu dibuka dan ia masih menyeret kaki masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti sejenak, ia menatap panjang pada pintu kamar Anna yang selalu tertutup.


Ia menarik ponsel yang berada di dalam kantong jas yang masih terpasang pada tubuh. Dalam ponsel itu, tampak beberapa kali panggilan dari orang tua Anna. Beberapa waktu ia memandangi panggilan tak terjawab itu.


"Apakah ia pulang ke rumah orang tuanya? Orang tuanya ingin menemuiku dan akan memarahiku?" Amar melempar ponselnya asal.


"Terserah lah! Semua pergi ... Pergi lah!" Amar meringkuk membenamkan wajahnya dalam kepiluan.


*

__ADS_1


*


*


"Apa? Benar kah? Innalillah ...." Nenek Andari terdengar sangat terkejut mendapat sebuah berita. Wajah Nenek Andari seketika terlihat tegang.


"Ada apa, Nek? Siapa yang meninggal dunia?"


Nenek menaruh ponselnya di atas meja. Kedua tangan Nenek ditangkupkan ke wajah. Setelah itu, Benek beralih memegangi pundak Anna.


"Nenek baru saja mendapat kabar bahwa Luna, baru saja meninggal dunia."


Anna tersentak dan tangan menutup bibirnya. "Luna? Pacar Bang Amar?"


Nenek Andari mengangguk cepat. "Apa yang terjadi dengannya?"


Nenek Andari mencoba menghubungi Amar. Akan tetapi, panggilan tersebut tak kunjung dijawab. Sejenak, Nenek Andari hening dengan mata mengawang.


"Huffftt ... Semoga dia (alm.) tenang di sana. Usia memang tidak menentukan umur kita di dunia ini."


Anna hening dan kali ini, ada sebuah kesedihan terbesit di hatinya. "Bang Amar pasti sangat sedih."

__ADS_1


Nenek Andari memandang Anna, mengusap bahunya. "Sekarang, mari kita buat dia menyesali perbuatannya kepadamu, selama ini. Ini adalah kesempatan yang paling baik membuatnya menyadari semua." Nenek Andari tersenyum penuh arti, tetapi Anna terus menggelengkan kepala.


__ADS_2