Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
14. Kecurigaan ayah Anna


__ADS_3

Renata tercengang sesaat dan ia terkekeh merasa geli sendiri. "Bahkan aku sampai lupa bahwa anak kita sudah memiliki wali yang baru." Renata pun masuk ke dalam rangkulan suaminya.


Amar menganggukkan kepala meminta izin untuk masuk dalam ruangan tersebut. Pintu ditutup oleh perawat yang menjaga di pintu dan Amar dipersilakan duduk di hadapan Dokter Liani.


"Sebenarnya kamu itu memiliki hati nggak sih? Kamu itu sudah nyakitin hati dua orang sekaligus! Jika kamu mencintai sahabatku Luna, kamu harusnya tidak melakukan hal memalukan itu!"


"Sekarang setelah dia hamil, kamu mengatakan masih mencintai Luna? Otakmu itu terbuat dari apa sih?" cecaran menyakitkan itu keluar dengan sangat lancar dari mulut Dokter Liani.


"Meskipun aku ini adalah sahabat Luna, setidaknya kamu bisa membahagiakan wanita itu! Dia sedang mengandung anakmu! Jangan kamu buat dia terus merasa stress seperti ini!"


Anna yang masih terbaring di atas brangkar, menggenggam selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya. Ada perasaan tidak enak muncul di hatinya karena Dokter itu menyalahkan Amar, pria yang tidak bersalah sama sekali.


"Sudah lah! Aku capek marah-marah. Sekarang kamu pulang dan rawat saja istrimu itu! Tidak usah menemui Luna lagi."


Amar melirik ke arah brangkar di mana yang terlihat hanya kaki Anna. Wanita yang menjadi istrinya ini, tak bersuara tertutup oleh korden penyekat ruang pemeriksaan yang sempit. "Bagaimana kabar Luna saat ini?" bisiknya.

__ADS_1


Dokter Liani membisu menatap Amar dengan wajah kesalnya. "Sekarang aku mengerti kenapa istrimu stress itu stree berat! Kamu jangan berlaga seperti orang yang tidak bersalah begitu. Kamu tidak perlu lagi menanyakan keadaannya! Kisah di antara kalian sudah berakhir bukan? Biarkan semua yang telah terjadi, meskipun ini semua memang sepenuhnya adalah salah kamu!"


Rahang Amar pun mengeras. Wajah datarnya itu seakan mengeluarkan hawa menusuk dan mencekam. Ia melirik kembali pada wanita yang masih terbaring di atas brangkar itu.


"Baik lah, terima kasih." Amar pun bangkit berjalan menuju brangkar itu masih tertutup sebagian oleh korden. Amar akan menarik gorden yang barbahan dasar satin, tetapi tangan itu hanya mengambang tidak jadi nenyentuh korden sekat.


Amar memutar tubuhnya kembali memilih keluar dari ruangan. Pintu dibuka tergesa dan cepat, membuat orang yang berdiri di luarnya tersentak dan terkejut.


"Nek, aku tunggu di mobil," ucap Amar berlalu tidak bisa menahan diri lagi hingga kali ini ia mengabaikan mertua yang sangat terkejut melihat perilaku dirinya.


"Anna, putri Mami. Apa yang terjadi denganmu?" Renata langsung menyibak kain yang menyekat tempat sempit itu.


"Semuanya boleh mempersiapkan pasien ya? Dokter sedang menyiapkan resep dan vitamin bagi pasien. Kami harap, semua bisa tertib dalam ruangan ini," ucap perawat mengingatkan.


Sugiono hening tak bergeming menyadari keanehan pada menantu yang pergi tanpa permisi. Ia hanya memperhatikan sang istri mempersiapkan Anna untuk segera meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Nenek tak berhenti memperhatikan Sugiono yang hening dan dingin. Nenek mendekati besannya itu. "Kenapa, Pak Sugiono? Anda memikirkan apa?"


Sugiono berdehem sejenak dan terlihat jelas bibirnya dipaksa untuk tersenyum. "Tidak apa-apa, Nek Andari."


Sugiono menarik kursi roda yang telah tersedia dan menunggu Anna duduk di sana. Perawat menyerahkan resep yang telah diberikan oleh Dokter Liana. "Ini bisa ditebus setelah membayar administrasi dan pemeriksaan dengan lunas."


"Baik lah. Terima kasih, Dokter," ucap Nenek Andari.


Dokter Liana hanya membalas dengan senyum tipis dan masih terlihat jengkel. Namun, Nenek tidak ambil pusing segera menuju loket pembayaran dan apotek.


"Hmmmf, ke mana anak itu? Masa neneknya yang melakukan ini semua untuk istrinya?"


...****************...


__ADS_1


Yang punya rumah sebelah boleh mampir yaaa ....


__ADS_2