
"Luna ... Luna ... aaahh ...."
Anna terus mendapat serangan hasrat atas nama orang lain. Saat kecupan demi kecupan dilakukan Amar di dalam pakaiannya, Anna hanya bisa menangis.
Anna mengangkat kakinya, mengaitkan kakinya pada bagian belakang tulang lutut Amar. Sontak Amar oleng dan ambruk. Anna segera bangkit dengan ketakutan masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
"Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi!" Anna meringkuk memeluk lutut ketakutan.
*
*
*
Cahaya mentari masuk lewat ventilasi udara. Pancaran menyilaukan itu tepat menyerbak masuk ke kamar di mana Anna sedang terlelap di atas lantai dekat pintu. Cahaya itu lurus mengetuk kelopak mata yang sedang tertutup.
Rasa hangat karena pancaran cahaya tersebut membuat Anna perlahan bergerak dan menggeliat. Kelopak mata itu perlahan terbuka dan Anna memicingkan matanya kembali.
Beberapa waktu ia mulai terbiasa akan cahaya yang lurus merembet ke wajahnya. "Hmmmff ...." Suara halus dari bibirnya jelas menandakan ia masih malas untuk bangkit.
Anna bangkit dan melirik ke kiri dan ke kanan. "Aah, siang? Bang Amar sudah berangkat kerja mungkin." Anna bangkit dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Tubuhnya terasa kaku karena tidur di atas lantai tak beralas sepanjang malam.
Anna mengikat rambutnya dengan tinggi hingga memperlihatkan lehernya seputih susu yang jenjang. Ia masih dengan penampilan yang sama seperti tadi malam. Tanpa pikir panjang, Anna memutar kunci dan keluar dari kamarnya itu.
"Aaagghhh!" Ia terperenjat melihat apa yang ada di depan pintu kamarnya. Sebuah tubuh yang masih lengkap dengan setelan jas dan dasi, meringkuk di atas lantai dengan memar di keningnya.
__ADS_1
Anna refleks mendekati pria yang ternyata dalam keadaan tidak sadar itu. Ia segera memperbaiki posisi tubuh pria yang berstatus suami di atas kertas. "Bang? Bang? Apa kamu baik-baik saja?" Anna menepuk pipi Amar beberapa kali, akan tetapi tak satu pun sahutan yang terdengar.
Bola mata bewarna coklat terang itu fokus pada satu titik bewarna merah keunguan. "Ada memar, kenapa bisa begini?"
Tiba-tiba, tangannya menutup mulut yang membulat. Ia teringat akan kejadian tadi malam. Tanpa ia ketahui ternyata Amar terbentur keras saat Anna mendorongnya untuk menjauh.
"Ya, aampuun ... Bang Amar?" Ia kembali menepuk-nepuk pipi pria yang tak sadarkan diri itu.
Namun, kali ini berbeda dibanding pertama tadi. "Hmmfff, aaiiir ...." terdengar racauan Amar yang masih parau.
"Apa, Bang? Kamu bilang apa?"
"Aiir ... Aaaiiirr ...."
Kali ini Anna memasang telinganya dengan baik. "Air? Kamu mau minum?"
"Baik lah, tunggu sebentar. Aku ke belakang dulu untuk mengambil air." Anna menurunkan kepala Amar dengan hati-hati. Dengan segera ia menuju dapur dan mengambilkan segelas air.
"Ini, Bang?" Anna membantu Amar untuk bangkit duduk. Meski sedikit melas, Amar bangkit dan segera meminum air tersebut beberapa teguk meski matanya masih terpejam.
Usai minum, Amar menyandarkan dirinya ke dinding dan mulai membuka matanya. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah leher yang tidak terganggu dari helaian rambut yang telah tinggi tersanggul di kepala.
Selanjutnya, sinar mata yang masih sayu itu menuruni bagian bawah leher. Sejenak ia terpana merasa pertama kali melihat bagian itu. "Gleek ...." Amar menelan saliva yang dilarang merembes keluar dari rongga mulut.
"Bang, sekarang bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
Namun, Amar masih terpana membayangkan benda yang ada di balik pakaian wanita yang telah satu rumah dengannya beberapa hari ini. Anna mulai menyadari apa yang diperhatikan oleh Amar.
Tangan Anna refleks menyilang menutup bagian yang belum dilapisi dalaman itu. Tanpa berkata, Anna bangkit dan mundur berjalan membelakangi Amar.
"Kau jangan takut padaku. Kita ini hanya pasangan di atas kertas."
*
*
*
Yuhuuu every body ... Yuuuk hari ini adalah waktunyanya untuk promosi karya author-author keceh teman-temanku yaaah ... Ini akan berlangsung hingga 20-an bab ke depan ... Kami semua saling bekerja sama dalam promosi. Jangan protes yaa.. Kali aja tertarik untuk mampir pada karya keceh teman-teman Author. 😇🤣🤣
Nama pena: Nazwa Talita
Judul: Cinta Berselimut Luka
Blurb:
Bagaimana jika sikap baik dan penuh perhatian sang suami ternyata adalah sebuah sandiwara untuk menutupi kesalahannya?
Dara Jelita tidak pernah menyangka kalau Raditya Pratama, suami yang sangat dicintainya ternyata menyimpan banyak rahasia. Cinta yang ditunjukkan oleh suaminya ternyata hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kebohongan yang selama ini disembunyikannya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Akankah Dara tetap bertahan dalam pernikahannya setelah tahu rahasia yang disembunyikan oleh suaminya?