
"Lepas!" Anna meronta ingin melepaskan diri.
Namun, tubuhnya masih terjebak dalam pelukan Amar. Anna merasa geli dan ketakutan melihat tato itu. Dia masih meronta terus mencoba melepaskan diri.
"Hmmmfff ... Temani aku! Malam ini aja?" racaunya dalam mata terpejam.
"Tapi kita tidak bisss—"
Pelukan Amar semakin erat membuat napas Anna sesak. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan Amar itu. Namun, pelukan Amar tak kunjung merenggang.
'Kayak gini aja boleh kan?' batin Anna.
Kali ini Anna memandangi wajah Amar dengan seksama. Selama ini ia tidak pernah benar-benar menatap wajah Amar dengan sungguh-sungguh. Bahkan, melihat bagaimana bentuk tubuhnya pun baru kali ini.
Amar lebih tinggi dibanding Zico, bentuh tubuhnya sangat atletis dan memiliki wajah yang rupawan. Hanya saja, hati Anna sudah mati setelah perlakuan Zico yang diam-diam menikahi orang lain hanya karena ia hanyalah seorang anak pungut dari keluarga Cakradinata, yang terpandang.
Anna mulai merasa panas dingin. Ia berusaha mengendalikan diri mencoba bertahan teguh pada pendirian. Ia kembali mencoba menolak tubuh Amar. Namun, ukuran tubuh mereka sungguh sangat jauh berbeda.
"Bagaimana ini?"
__ADS_1
*
*
*
Alarm subuh pada ponsel Anna telah ribut bernyanyi di kamarnya. Akan tetapi, rasa lelah karena berusaha melepaskan diri dari Amar, membuatnya seolah tak mendengar suara alarm. Anna terlalu lelah dengan sikap waspada dari pria mabuk.
Namun, alis Amar bergerak merasa terganggu oleh suara alarm yang ada di kamar Anna. Ia menarik benda yang masih terjepit dalam tubuhnya. Benda itu masih disangka sebuah guling yang selalu menemani tidurnya.
Namun, anehnya guling kali ini terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Ia pun meraba-raba bantalnya itu beberapa kali. Akan tetapi ia menjadi heran karena sensanyinya berbeda, kenyal dan padat yang enak buat dimainkan. Amar mengumpulkan seluruh nyawanya sambil meraba-raba bantalnya itu mulai membuka mata.
Beberapa kali Amar mengerjapkan mata supaya penglihatannya menjadi lebih fokus. Tangannya masih keenakan meraba dan memainkan gulingnya itu. Akhirnya, penglihatannya mulai semakin fokus.
"Jadi, semalaman tadi aku memeluk guling hidup?"
Amar beringsut turun dan melihat tubuhnya yang sudah tanpa busana. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku malah tidur dengannya?"
Amar memejamkan matanya. Namun, ia mengingat bayangan yang lain. Di saat malam pulang minum di bar dan mencoba melanjutkan minum di rumah, ia sudah meraba dan menc*um seseorang dengan paksa. Dan ingatan lebih buruk muncul saat ia mencoba menj*mah bagian di dalam pakaian wanita itu yang tak lain Anna. Pintasan bayangan itu lewat begitu saja.
__ADS_1
"Aaah, kenapa? Kenapa aku menyentuhnya?" ringisnya kembali.
"Jangan-jangan ... tadi malam, kami melakukan ... ?" Amar menundukkan kepalanya memeriksa risleting celana yang ia kenakan.
"Huuufftt .... Sepertinya masih lengkap sampai ke dalam." wajah Amar terlihat lega. Apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi.
Amar mondar-mandir berkacak pinggang. Ia mencoba menebak-nebak apa yang terjadi tadi malam. Yang ia ingat hanyalah ketika Luna mengusirnya pulang ketika berada di rumah sakit.
Ia minum di kantor dan paginya terbangun di kantor. Tadi malam ia minum di bar, tapi ia tidak ingat kenapa bisa pulang ke sini.
Suara alarm di kamar Anna, telah terulang sekian kali. Hal ini membuat Amar memilih untuk mengambil benda yang berisik itu. Sebelumnya ia tentu memasang baju kembali, demi menutupi tato yang diam-diam baru saja dibuatnya setelah menikah dengan Anna.
"Dia pasti kaget melihat ini. Nanti kalau dia ngadu ke Nenek, bagaimana?" gumamnya menjemput ponsel itu.
Amar pun segera masuk ke kamar Anna. Dalam ingatannya muncul bayangan mencoba menyentuh Anna di kamar ini. Dia tersenyum memandangi tangan yang tadi sudah memainkan dada wanita yang sekedar istri kontraknya itu.
"Ternyata enak juga memegang itu."
Satu tangan Amar membawa ponsel yang terus berisik menuju ke kamarnya, di mana Anna masih terlelap tak terusik sama sekali. Matanya dengan begitu saja melirik pada benda yang ia raba tadi.
__ADS_1
"Waras lah! Jangan gara-gara itu saja kamu bisa melupakan Luna! Luna membutuhkanmu!"
Amar melempar ponsel milik Anna yang tiada berhenti berbunyi dengan nyaring.