
Anna menganggukan kepalanya, karena kali ini Amar terlihat sungguh-sungguh.
Urusan di kantor polisi belum juga usai. Darma sudah beberapa kali menghubungi Amar karena Anan tidak mau pulang dijemput oleh asisten pribadinya itu.
"Baik lah, kedua belah pihak harus berdamai! Buat pihak Bu Silvi dan Pak Zico harus menghormati keputusan dari keluarga Bu Anna dan Pak Amar bahwa Anan tidak boleh diganggu!" Keputusan final itu diucapkan oleh Briptu Adji.
"Tidak hanya itu, pihak Bu Silvi juga harus membuat permohonan maaf terbuka secara online, untuk membersihkan nama baik Bu Anna dan usahanya. Jika hingg akhir minggu ini belum dilaksanakan, maka kami akan menindak secara tegas!"
Silvi terlihat kesal, deru napasnya nyata terdengar kasar. "Kenapa keputusan ini hanya merugikan kami?"
"Karena memang kamu lah yang mulai masalah ini. Sebelum ini kehidupan kami sangat lah tenang. Setelah kemunculan kalian barulah membuat segalanya menjadi rumit," ucap Anna dengan dingin.
Amar kembali menggenggam tangan Anna. "Hebat! Kamu memang istriku yang luar biasa!"
Silvi memutar bola matanya jengah. Akhirnya ia memilih untuk pergi meninggalkan lokasi di mana mereka baru saja diinterogasi. Sementara Amar menyalami pihak kepolisian yang baru saja membantu keluarganya menyelesaikan masalah ini. Setelah itu, ia menggandeng istrinya, berjalan cepat mendahului sepasang suami istri yang beradu mulut.
"Kamu itu kenapa terus menatap dia? Kamu masih mengenang masa-masa tidur dan menghabiskan malam bersamanya?" cecar Silvi tanpa rasa malu.
Zico yang merasa malu, menyumpal mulut Silvi dengan tangannya. "Kamu ini bisa diam nggak sih?"
__ADS_1
"Kenapa? Kamu marah jika aku membongkar kebusukanmu di masa lalu dengan wanita mura—"
"Silvi! Kamu keterlaluan!" sela Zico dengan nada tinggi.
"Kenapa? Kamu mau marah? Kamu mau marahin aku, hah?" Silvi tak kalah garang dibanding dengan suaminya.
"Apa kamu lupa? Jika tidak menikah denganku, kau hanyalah karyawan biasa di sebuah kantor penerbitan dengan gaji kecil! Siapa yang bayar penaltimu? Siapa yang memberikanmu segala kemewahan? Aku! Semua karena aku!"
Zico memasang wajah penuh amarah. Ia membuka jam mewah dengan harga ratusan juta di tangannya. Ia melepas sepatu merek ternama lomited edition yang keluar di dunia. Semua benda itu di lempar tepat di hadapan Silvi.
"Oke! Cukup! Aku sudah muak dengan penghinaan yang kamu berikan. Mulai hari ini, kita bukan suami istri lagi! Kau aku talak!" Zico menatap mata Silvie yang membulat dengan nanar. Mulut Silvi melongo mendengar ucapan perceraian yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu.
"Sampai jumpa di sidang perceraian kita!" Zico beranjak meninggalkan Silvi yang merenung berusaha memahami setiap kalimat yang diucapkan oleh suaminya ini.
Silvi seakan baru terbangun dari mimpi buru, segera mengejar Zico. "Mas ... Mas ... Kamu jangan bercanda! Kita ini masih suami istri kan?"
*
*
__ADS_1
*
Amar dan Anna berhenti tepat di depan sekolah Anan. Waktu telah menunjukan pulul enam belas, dan Amar mendapat kabar bahwa Anan merajuk tidak mau diajak pulang oleh Darma, dan masih menunggu Papa Amar yang berjanji untuk selalu menjemputnya.
Melihat Amar dan Anna terun dari kendaraan, Anan masih memasang wajah marahnya. Ia membelakangi kedua orang tuanya yang berjalan bergandengan dengan senyum bahagia.
"Halo Jagoan? Kenapa kamu tidak mau pulang sama Om Darma? Om Darma kan baik?" tanya Amar berlutut, menyamaratakan tingginya dengan Anan.
"Papa udah bohong sama Anan. Katanya akan selalu mengantar dan menjemput Anan? Kenapa hari ini malah menyuruh orang yang tidak Anan kenal?" sungutnya dengan bibir membulat.
"Ekhem ..." Anna berdehem karena ia merasa Anan sama sekali tidak menganggap keberadaannya.
Anan hanya melirik sejenak ke arah Anna. Lalu perhatiannya kembali terfokus pada Amar. Perasaan Anna menjadi berkecamuk ketika menyadari, Anan lebih sayang pada Amar dari pada dirinya.
"Baik lah, lebih baik aku pulang duluan." Anna memutar tubuhnya menghindari ada yang menyadari air matanya telah menetes begitu saja. Ada perih yang ia rasakan.
...****************...
__ADS_1