Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
24. Pertemuan kembali


__ADS_3

...*Ada yang ikhlas ngasih vote dan saweran sama cerita ini ngga ya? Komentar juga boleh, biar popularitasnya cepat naik, authornya juga makin semangat updatenya*...


Wanita yang duduk pada kursi roda tersebut melirik ke arah Amar. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Setelah itu, ia melirik memandang Anna. Setelah itu, wajahnya lurus menatap ke depan.


"Sus, ayo kita pergi!" ucap wanita yang dipanggil Luna itu.


Perawat tersebut mengangguk dan melanjutkan mendorong Luna menuju ruang tempat Luna dirawat. Klinik ini, memiliki fasilitas ruang rawat khusus kelas VIP. Luna adalah salah satu pasien pada klinik mewah yang diperuntukan bagi kalangan elite ini.


Sementara itu, Amar mengejar ke mana arah Luna dibawa. Anna memandang kepergian mereka dengan beku. Dengan perasaan sedikit canggung, ia kembali memilih duduk dan menunggu kehadiran Amar kembali.


Waktu terus berlalu, menyisakan waktu yang terus merangkak semakin larut. Anna masih menunggu sendirian pada lorong yang semakin sepi. Anna memainkan jemarinya menunggu kemunculan Amar yang belum jadi diperiksa oleh sang dokter.


"Seharusnya aku memang tidak boleh datang ke sini," rintihnya.


Tanpa ia sadari, waktu terus mengalir menuju tengah malam yang sunyi. Tubuh Anna telah kaku karena dinginnya udara malam. Ia tidak menyangka akan menghabiskan waktu yang panjang di rumah sakit, hingga tak terpikirkan untuk menggunakan jaket saat menemani Amar.


"Ah, mungkin dia masih akan menghabiskan waktu yang lama di sini. Sepertinya aku pergi saja," rintihnya memeluk diri sendiri.


Rasa sakit yang tadi mendera, kini sudah jauh berkurang karena ia tidak terlalu banyak bergerak. Anna melangkah kan kaki berjalan keluar gedung disambut udara dingin yang terasa begitu menusuk bagi tubuhnya. Sedikit mengernyit, Anna masih melawan rasa dingin itu dengan memeluk tubuhnya sendiri berjalan menaiki taksi yang kebetulan sedang berdiri di depan beranda klinik itu.


Setelah sampai dan membayar taksi tadi, Anna segera masuk ke dalam aparemen yang sudah sangat sepi. Saat sampai di rumah, ia memandangi jam pada dinding. "Ah, sudah setengah dua pagi."


*


*


*


Saat pagi hari usai Subuh, Anna segera menuju dapur menyiapkan makanan untuk sarapan Amar. Setelah selesai, ia mengetuk pintu kamar Amar. "Bang, sarapan udah aku siapkan."


Namun, tak ada jawaban dan di dalam sana Anna tidak merasakan pergerakan apa pun. Anna sedikit menelengkan kepalanya, menempelkan telinga pada daun pintu.


"Apa dia memang belum pulang?"


Rasa kecewa dan sedih merasuk dalam diri Anna. "Jadi, ternyata dia begitu? Apalagi, dia tidak mengatakan apa pun sama sekali."

__ADS_1


Anna melangkah masuk dan kembali ke dalam kamar. Ia memilih untuk naik ke atas ranjang mengganti tidurnya yang terasa masih kurang.


Tubuhnya yang terasa lelah, membuatnya benar-benar lelap hingga siang hari. Saat bangun, ia segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban lohor baru keluar dari kamarnya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat mendapati sarapan pagi yang dibuatkan, ternyata tidak disentuh sama sekali.


Anna memberanikan diri untuk membuka kamar Amar, kamar itu kosong. Ia mengecek keranjang pakaian Amar, dan ternyata masih kosong.


"Apakah ia masih di klinik itu? Bagaimana alergi yang ia alami? Apakah sudah jadi dikonsultasikan ke dokter?"


"Aah, iya ... Seharusnya, aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Luna memang kekasih dia yang sebenarnya. Bagaimana pun juga, mereka akan kembali bersama."


*


*


*


Saat malam sudah berada di puncaknya, Anna tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Selain karena ia sudah banyak tidur seharian, penyebab ia tidak bisa tidur adalah karena Amar masih belum juga kembali.


Anna membuka ponselnya. Ia memberanikan diri untuk menghubungi kontak Amar. Beberapa waktu ia menunggu, ternyata panggilannya tak kunjung masuk.


Anna barusaha menenangkan dirinya sendiri.


Braaaak


"Pak ... Pak ...!"


Anna memasang telinganya dengan baik. Ia yakin mendengar suara dari arah luar kamar. Anna bangkit dan segera membuka pintu kamarnya. Pemandangan mengejutkan menyambut Anna. Suaminya sedang dipapah oleh orang yang bekerja untuk suaminya.


"Maaf, Mbak? Di mana kamar kalian?" tanya Darma.


Anna segera menunjuk arah kamar Amar dan membukakan pintu kamar itu. Aroma menyengat dari tubuh Amar tercium kembali.


"Kenapa dia Mas?"


"Pak Amar minum sangar banyak, Mbak. Tadi pagi, saya temukan dia tidur di kantor. Saat malam hari, ada yang mengabarkan saya dia sedang mengamuk pada sebuah bar."

__ADS_1


Anna tak tahu harus berbuat apa. Satu kata terakhir yang bisa ia ucapkan hanya kata "Terima kasih, Mas. Sudah mengntarkannya pulang."


"Sama-sama, Mbak."


Darma merenung sejenak. "Maaf, Mbak ...." Darma tidak jadi menyambung ucapannya.


"Kenapa, Mas?"


"Aah, tidak jadi."


"Kenapa, Mas? Katakan lah!" desak Anna.


"Kamu yang sabar saja menghadapinya. Ini memang tidak mudah baginya." ucap Darma memasang wajah prihatin.


"Ah, ya ... Tidak usah khawatir, Mas. Aku baik-baik saja." ucap Anna tersenyum kecut.


"Kalau begitu saya pulang dulu." ucap Darma.


"Terima kasih, Mas."


Setelah pintu dikunci, Anna kembali ke kamar Amar. Ia membuka sepatu Amar yang masih terpasang dengan sempurna. Aroma alkohol yang sangat kuat membuat perut Anna tidak nyaman hingga membuatnya memilih untuk memakai masker.


Anna memandangi pakaian Amar yang masih sama seperti terakhir kali ia lihat. "Rasanya pasti sangat tidak nyaman."


Anna duduk di sampingnya. Yang pertama kali ia lakukan adalah mengecek wajah dan kulit Amar. "Sepertinya alergi yang kemarin, sudah sembuh. Hanya saja, bekas garukan terlihat di mana-mana."


Anna masuk ke kamar mandi Amar mengambil ember berisi air hangat dan handuk kecil. Anna membuka kancing kemeja yang terpasang pada tubuh Amar.


Matanya terbelalak saat melihat apa di balik pakaian yang tersembunyi selama ini. Ini untuk pertama kali ia melihatnya dan sungguh sangat mengejutkan baginya. Seluruh tubuh Amar dipenuhi oleh tato.


"Ya ampuun, apa Nenek tahu bahwa cucunya memiliki tato segede gaban begini?" Anna mengernyitkan wajahnya, dan kembali melanjutkan tugas membuka pakaian Amar.


Dengan sedikit susah payah Anna membuka pakaian tersebut, tetapi akhirnya ia berhasil menarik baju itu hingga lepas.


Namun, tangan Amar dengan cepat menyambar tangan Anna dan menarik Anna hingga masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Luna, maafkan aku ...."


__ADS_2