
Suaminya mengusap punggung dan memberikan air minum kepada istrinya yang tersedak dengang wajah tersenyum. "Amar, jangan membuat mamamu kaget begitu. Udah tau mama menikmati, masih juga ditanya."
Sang suami menundukan kepala melirik ekpresi sang istri mengusap dada. Namun, istrinya tampak kesal karena merasa diejek oleh suaminya.
"Ah, biasa. Menurutku rasa makanan ini di bawah standar semua. Tak seperti makanan di resto bintang lima yang biasa kita nikmati." Wanita yang melahirkan Amar ini mengusap mulutnya dengan serbet yang sudah disediakan.
"Ooh, biasa ya?" Kekehan ayah Amar terdengar mulai mengudara.
"Mantuku, apa yang dikatakan suamimu itu memang benar. Ayo makan dulu. Apa perlu Papa yang nyuapin kamu?" tawar ayah mertua Anna ini.
Anna menggeleng cepat. "Maafkan aku, Pa. Suasana makan siang kita malah jadi canggung kayak gini gara-gara aku," ucap Anna sendu, setengah berbisik.
"Sayang, kenapa kamu berkata begitu. Ini semua bukan salahmu. Jangan terus menyalahkan diri seperti ini. Bagiku, kamu adalah wanita terhebat yang ada dalam hidupku—"
__ADS_1
"Oooh, gitu? Jadi kamu menganggap Mama tak lebih baik dari pada dia?" sela wanita berambut yang mulai beruban.
"Terus, kamu juga lupa pada jasa nenek yang sudah menemani dan membesarkanmu hingga kamu bisa berdiri sendiri seperti saat ini?" Sang ayah turut tidak mau kalah.
Amar bergantian melirik kedua orang tuanya itu. "Pa, Ma ... Ini beda konsep dengan yang kalian utarakan. Maksudku sebagai teman hidup, orang yang menemaniku dalam setiap langkah, adalah dia. Dia adalah ibu dari anak-anakku."
Amar menggenggam erat tangan Anna. "Aku berharap, kami akan terus bersama hingga pada masa yang memaksa kami berpisah puluhan tahun ke depan."
Wanita yang mulai beruban itu tak sadar telah memegangi rambutnya yang kata Amar tak lagi hitam. Ia memandangi pria yang duduk di sampingnya.
"Beda dong? Perjalanan cinta kami telah melewati aral yang tak pernah habisnya. Namun, kami bisa membuktikan kepada dunia bahwa kami berdua bisa melewatinya meskipun sangat tidak mudah." Ibu Amar mengusap dagu seuaminya dengan penuh cinta.
Namun, suaminya langsung menimpal wanita yang membuatnya memiliki predikat suami paling sabar di antara komunitas suami yang bekerja sama dengan mereka. "Emangnya kira-kira pembuktian seperti apa, Mom? Kok aku kayak baru denger gitu?"
__ADS_1
Istrinya mengerutkan kening, terdengar mendengkus kesal. "Pah, kita ini kayak lagi main peran. Mama yang berdongeng, tapi Papa yang jadi komentator? Harusnya jadi pendengar yang baik aja dong?" sungut wanita itu.
Amar, sang anak hanya bisa terkekeh mendengar pertengkaran orang tuanya. Ia merangkul Anna dan mengusap lengannya yang tampak sedang begitu rapuh. "Sayang, sekarang kamu tahu kan alasan kenapa kamu tidak perlu mendengar apa yang Mama katakan?"
Sejenak setelah itu, Amar menyuapkan Anna tak memedulikan pandangan kedua orang tuanya. Yang satu tampak mengangguk setuju akan reaksi sang putra. Yang satu lagi mencabik lalu melanjutkan menyuapkan makanan yang memang begitu lekat pada lidahhnya.
Memang benar adanya ia keluar masuk restauran berbintang lima, tetapi nyatanya makanan ala wanita kampung ini memimpin kemenangan dalam rasa. Suaminya kembali melirik sang istri menikmati makanan dengan rakus.
"Hati-hati! Nanti tersedak lagi!"
Lalu dari sisi lain tampak gelas berisi air melayang dari sebuah tangan kecil yang sedari tadi mode kalem.
"Ayo, Nek. Minum dulu!"
__ADS_1