Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
61. Baik lah, panggil aku Papa!


__ADS_3

Amar terkekeh mendengar permintaan bocah polos itu. "Perasaan itu tak mudah diubah begitu saja. Dia memang pergi, tetapi masih menginjak bumi ini."


"Tapi, nama Om kan mirip nama papaku."


"Iya, nama Om emang banyak yang pakai. Nama kamu juga banyak yang punya. Bahkan, nama seperti mamamu ada di mana-mana."


Anan terlihat kecewa. Lalu menarik tas dari dalam laci meja. Setelah menyandang tas, ia keluar tanpa mengatakan apa-apa.


'Entah kenapa, aku merasa sifat mereka sangat mirip. Suka kabur begitu saja tanpa pamit.'


Anan merasa kesal berjalan pulang duluan tanpa mengatakan apa-apa kepada gurunya. Karena acara pembagian buku ini, membuat waktu belajar tidak efektif. Bagi anak-anak yang tak berminat, banyak yang memilih kabur pulang duluan seperti Anan.


Anan berjalan sendirian menendang apa pun yang didapatkan oleh kakinya. Kebetulan sekali, ia menemukan sebuah kaleng minuman ringan dan membuat ia semangat untuk menendangnya.


Sepanjang perjalanan, kaleng itu terus ditendang. Perjalanan pulang dan pergi sekolah tidak mendapat layanan antar jemput seperti anak-anak lain. Anan dibiasakan untuk mandiri semenjak kecil oleh sang ibu.


Sementara itu, tanpa sadar kaki Amar diam-diam terus melangkah mengikuti Anan begitu saja. Ia seakan terhipnotis oleh daya tarik yang muncul Anan. Ada sedikit perasaan gemas melihat anak itu terus menendang kaleng bekas minuman itu.


"Bukannya dibuang pada tempatnya, tapi malah ditendang kayak bola?" gumam Amar menggelengkan kepala.


Dari arah ujung jalan, dua orang yang berada di atas motor terlihat menunjuk ke arah Anan. Motor itu mulai menepi dan berhenti. Akan tetapi, Anan tidak menyadari hal itu karena ia sibuk dengan aktivitasnya menendang kaleng bekas tadi.


Dua orang yang menaiki motor tadi turun dan berteriak memanggil Anan. "Heh, elu yang bikin kami celaka kemarin kan?"


Anan tersentak mendapat kejutan luar biasa itu. Bocah itu memutar tubuh, melihat siapa yang berada di belakangnya. Anan langsung teringat pada penampilan kedua orang yang ia hajar di hari lalu.

__ADS_1


"Elu harus membayar biaya perawatan kami berdua!" bentak salah satu dari mereka.


"Biaya apa?" tanya Anan bingung.


"Karena elu, kami berdua harus mengeluarkan kocek untuk merawat luka yang terjadi kemarin."


Dengan seketima Anan teringat kepada dua orang pencopet yang ingin mengambil dompet Om Dokter. "Ooh ya ... Kalian maling ya?"


"Sekarang lu nggak akan selamat lagi. Lu harus ganti rugi perawatan kami!"


Anan mencibir pada kedua orang itu. Tiba-tiba ia teringat akan kondisi tangannya yang tidak baik-baik saja. Anan kembali mencibir, tetapi kali ini memilih untuk kabur.


"Wooi! Bocah tengik!" Mereka segera mengejar Anan, tetapi tubuh mereka tidak bisa bergerak karena pakaian bagian belakangnya ditarik oleh seseorang.


"Kalian mau apa? Ooh, jadi kalian yang menyeerang anak kecil itu?" tanya pria yang menahan tubuh mereka dari belakang.


"Apa urusan lu?" tanya pemuda pencuri itu dengan sangat garang.


"Urusanku? Menjaga keamanan bocah itu!"


Tak lama kemudian, dua preman tersebut telah dilempar ke dalam sel. Amar menepul kedua tangannya beberapa kali.


"Om ... Lepaskan kami? Kami mohooon!" rengek para pencuri itu.


Amar hanya tersenyum tipis. Lalu ia menatap polisi yang berdiri di dekatnya. "Periksa dan sidang mereka dengan seadilnya!"

__ADS_1


"Oom ... Oom ... Oom ..." teriak pencuri itu memohon.


*


*


*


Keesokan hari, Amar berada tepat di depan sekolah Anan. Ia menanti bocah itu. Tak lama kemudian, terdengar suara bell tanda pulang sekolah.


Amar berdiri bersandarkan pada mobilnya. Benar adanya ia melihat orang tua para siswa di sana rata-rata dijemput oleh orang tua mereka. Amar tersenyum tipis, tiba-tiba merasa menjadi orang tua secara mendadak.


Dengan seksama, ia memperhatikan siswa memastikan Anan keluar dari arah gerbang sekolah. Tak lama kemudian, ia melihat Anan berjalan memegangi tali ransel berjalan sendirian dengan lesu.


"Anan!" panggilnya.


Bocah itu menoleh, tetapi langsung berpaling dan melanjutkan perjalanannya.


Amar segera mengejar, menahan Anan berjalan semakin jauh. Anan memasang wajah cemberut dan terlihat cukup kesal.


"Om mau apa si? Om kan nggak mau jadi Papa aku. Jadi, kita gak usah temenan." gerutunya mengerutkan kening.


"Baik lah, mulai hari ini panggil aku Papa!" ucap Amar dengan antusias.


Anan mendelik sejenak, lalu ia membuang muka. "Mamaku sudah punya Om Dokter. Om udah terlambat!"

__ADS_1


__ADS_2