
"Aaah, Bang?" Anna mendekati Amar.
"Apa yang terjadi?"
Amar telah menyelesaikan titahnya terhadap Darma. Panggilan telah ditutup. Tangan Amar begitu saja menggenggam tangan Anna.
"Kamu jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja."
Anna menganggukkan kepala. Netranya turun melihat tangan besar yang menggenggam dirinya. Sungguh berbeda rasanya saat Dokter Yoga melakukan hal yang sama.
"Apakah kamu bisa memberikan sebuah senyuman kepadaku?" Amar menarik dagu Anna membuat kedua pasang manik itu saling bertemu.
Anna membuang mukanya kembali, kali ini ia mencoba melepaskan genggamannya. "Sudah lah, Bang. Kita itu sedari dulu hanya menjalani pernikahan kontrak. Kenapa tidak diakhiri saja sesuai perjanjian? Bukan kah anakku ini sudah dewasa?" Anna berusaha melepaskan diri dari genggaman Amar.
Amar tak melepas genggamannya itu, mencengkram dengan erat. "Surat perjanjian itu sudah aku hancurkan. Perjanjian kontrak akan dibatalkan bila kita saling mencintai."
__ADS_1
Amar mendekap kedua pundak Anna. "Anna, aku mencintaimu. Ayo kita menikah kembali!"
"Cinta? Jadi kamu bilang kamu cinta? Kamu hanya menjadikanku sebagai pelarian! Jika saja dia tidak meninggalkan dunia ini, mungkin ... Aku bukan siapa-siapa bagimu!"
"Mama ... Papa? Kok berantem?" Mata Anan sudah berkaca-kaca.
Sisa-sisa orang tua yang masih berada di sana memperhatikan pertengkaran kedua orang tua Anan tadi. Amar menyadari situasi tersebut.
"Aku mohon kamu ikut denganku?" Amar menggenggam lengan Anna menatapnya dengan wajah sendu.
Amar menatap panjang langsung merasuk ke dalam manik coklat milik istrinya ini. "Apa pun yang kamu katakan, saat ini, hingga seterusnya, hanya kamu yang akan ada di hatiku."
Amar kembali menggenggam tangan Anna. "Aku tahu semua kebodohanku selama ini. Aku mohon maafkan aku. Semenjak usai operasi sepuluh tahun yang lalu, aku ingin mengatakan, bahwa aku mencintaiku. Terima kasih untuk tidak pergi di kala aku tidak memiliki siapa pun di saat aku sedang menderita, kamu masih menemaniku."
Anna membuang muka meski tangannya masih erat dalam genggaman tangan Amar. "Sudah lah! Aku tak ingin lagi membahas masa lalu. Aku sudah muak dengan segala hal yang berhubungan dengan masa lalu!"
__ADS_1
"Bagaimana pun juga, masa lalu lah yang mempertemukanmu denganku. Anna ... Berikan aku kesempatam sekali lagi. Bagaimana pun, catatan negara dan agam masih menyatakan bahwa kita ini adalah suami istri. Karena, aku tak akan pernah menalakmu, tak akan melepaskanmu lagi." Amar menarik Anna masuk ke dalam pelukannya.
Anna meronta sejenak terpaku di dalam pelukan itu. Pelukan yang dulunya, tak pernah ia rasakan. Rasa sakit, karena rindu yang membuncah seakan menjadi tentram di dalam sana. Mata Anna menangkap bagian di dalam kemeja Amar.
"Apa tatomu sudah dihapus?"
"Ah, ya ..." Amar melepas dekapannya itu dan mengangguk kikuk.
"Aku juga tak pernah lagi minum minuman keras. Aku ingin membuktikan bahwa semua yang kami larang, sudah aku tinggalkan. Supaya kamu tahu, aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena pelarian, karena aku benar-benar jatuh hati akan ketulusanmu padaku. Jadi toloong ... Terima lah aku menjadi suamimu seutuhnya. Tanpa kontrak apa pun. Tanpa embel pura-pura lagi."
Amar menatap dalam bola mata Anna. Tatapan panjang pun merasuk pada mata gelap milik Amar.
"Jika kamu diam, aku anggap kamu menerimaku kembali."
"Ayo kita ke KUA, dan aku akan mengucapkan ijab kabul sekali lagi untukmu. Demi sah lahir batin untukmu."
__ADS_1
"Anna?" Sebuah panggilan membuyarkan suasana di antara Amar dan Anna. Tak jauh dari mereka, Dokter Yoga telah berdiri nanar menatap genggaman itu.