
"Laporkan ke mana?" tanya Anan dengan wajah polosnya.
"Kita laporkan ke polisi dong. Masa anak Papa dibilang begitu? Ada Papa dan mamamu yang sudah bersama dalam menjagamu, masa dibilang begitu?"
Anan menggeleng cepat. "Jangan! Nanti Anan jadi malu," ucap bocah itu kembali.
Anna termangu sepi di dapur sendiri mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya barusan. 'Maafkan Mama, Anan. Kamu bukan lah anak h4ram. Kamu adalah bayi suci yang hadir untuk memberi peringatan kepada Mama. Kamu adalah makhluk terindah yang pernah berada di dalam diri Mama. Kita melewati semua masa sulit itu, bersama. Kamu adalah teman sejati Mama, melebihi papa Amarmu.'
Anna hanya bisa menangis di dalam hati. Menyesali segalanya pun, sungguh terasa sia-sia. Lambat laun, Anan pasti akan mengetahui semua.
Pada malam hari, di bawah selimut, Amar dan Anna berpagut mesra usai memadu kasih di antara mereka. Dalam kesempatan seperti ini lah, mereka baru bisa bicara dari hati. Anna menyembunyikan wajahnya dalam dada Amar.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?"
Anna tersenyum tipis dalam persembunyian tersebut. Beberapa waktu kemuadian, ia mendongak menatap wajah Amar.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak mengatakan apa pun kok."
Amar mengusap rambut panjang Anna dan mengecup kening putih milik istrinya itu. Meski pun kita baru dekat akhir-akhir ini, tetapi beberapa waktu dulu kita pernah hidup bersama. Dari sana aku belajar berbagai hal tentang dirimu. Dan, aku yakin kamu tengah gelisah memikirkan satu hal, seperti apa yang diceritakan oleh Anan tadi.
Anna beringsut mengangkat wajahnya. Ia menangkupkab kedua tangan pada pipi suaminya yang kali ini bisa disentuhnya dengan leluasa. "Aku sangat kagum dengan perubahanmu. Ke-peka-anmu sungguh sangat mengejutkan buatku." Anna perlahan mengecup bibir Amar.
"Sepertinya kamu menggodaku untuk ronde berikutnya." Amar membalas dengan kecupan yang lebih lihai sampai Anna sesah seolah tak diberi kesempatan bernapas.
"Tu-tunggu! Aku hanya ingin mengutarakan sesuatu." Anna berusaha berkata meski terbata dalam serangan c1uman yang diberikan suaminya ini.
"Aku kepikiran Zico," gumam Anna perlahan.
Rona sendu Amar berubah dengan seketika. Tangannya yang sedari tadi tak lepas mengusap kulit tanpa alas itu terlepas dengan begitu saja.
"Kamu jangan cemburu dulu. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa Anan, semakin lama akan semakin dewasa. Bagaimana pun kita akan menutupi kenyataan bahwa dia bukan lah d4rah dagingmu, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Apalagi ada perbedaan wajah kalian begitu mencolok. Anan pasti akan menyadarinya."
__ADS_1
Anna memagut kembali tubuh Amar yang mulai merenggang itu. Wajah Amar tampak sangat datar. Terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai obrolan ini.
"Lalu, kita harus bagaimana?" tanya Amar dengan nada datar.
"Sebelum ia tahu dari orang lain, mungkin lebih baik dia mengetahui secara langsung dari kita berdua."
Amar melepaskan diri dengan cara bangkit dan menyibak selimut yang menutupi kedua tubuh mereka yang saling bersentuhan satu sama lain. Ia duduk sejenak, menarik piyama yang tergeletak di atas lantai.
Anna beringsut memeluk Amar dari belakang. "Aku mohon, kamu dengarkan aku dulu. Setidaknya aku harus tahu apa yang kamu pikir kan," ucap Anna mengusap dada Amar yang masih belum terpasang apa pun.
"Aku hanya tak ingin sikap Anan berubah jika ia mengetahui aku ini bukan ayah kandungnya. Ditambah lagi jika ia mengetahui bagaimana sikapku padamu di saat kamu sedang mengandungnya." Amar memutar tubuhnya langsung menangkap netrai milik istrinya.
"Please, jangan buang kesan ayah sempurna tentang diriku di mata Anan. Aku sungguh berjanji menjadikannya anak yang benar-benar tercipta karena ada d4rahku mengalir dalam tubuhnya."
Tanpa mereka ketahui, Anan sedang menguping pembicaraan mereka di antara celah pintu. Rencananya tadi Anan ingin melompat langsung ke ranjang kedua orang tuanya itu, karena terbangun dari mimpi buruk. Akan tetapi, mendengar keduanya sedang membicarakan sesuatu yang serius, Anan memilih untuk menunggu momen yang tepat. Namun, apa yang ia dapatkan sungguh sangat mengejutkan, raut wajahnya nanar dan kepalanya terus menggeleng.
__ADS_1