
Sugiono menjadi semakin kesal karena Amar terlihat plin-plan dan membuka pintu kendaraan itu lebar-lebar mengulurkan tangan kepada Anna.
"Anna, kamu keluar saja. Papi rasa kamu tinggal di rumah kami saja. Sepertinya kamu tidak bahagia tinggal bersamanya."
Nenek Andari menahan Sugiono yang terlihat sangat menyayangi Anna itu. "Jangan begitu, Pak. Saat ini Anna sudah menjadi istri Amar. Seharusnya Anna memang tinggal bersama Amar." Nenek melambaikan tangannya kepada Amar yang masih kaku.
Anna menggelengkan kepala menahan tangan Sugiono. "Jangan, Pi. Saat ini, Anna adalah istri Bang Amar. Berikan kami ruang untuk bisa terus semakin dekat. Jika setelah perjuangan kami tidak juga membuahkan hasil, Anna janji akan pulang kembali ke rumah Papi dan Mami."
Sugiono mematung mendengar ucapan Anna. Tubuh yang tadi membungkuk ingin mengajak Anna pulang, kini kembali pada posisi tegak. Ia melirik pada pria yang menjadi menantunya saat ini.
Amar dengan salah tingkah menganggukkan kepalanya kepada Sugiono. "Serahkan Anna kepada saya, Pi. Saat ini, Anna adalah tanggung jawab saya."
"Baik lah, jika memang begitu, saya tak mau mendengar kata perceraian di usia pernikahan kalian yang baru seumur jagung ini. Saya paham, kalian masih masa penjajakan. Namun, percayalah ... Setiap sentuhan setelah kalian menikah itu adalah pahala."
Tanpa ia sadari, tangannya mengenggam angin. Ia tahu, itu tidak lah mungkin. Karena, saat ini ... Anna adalah istri yang tidak boleh ia sentuh. Istri di atas kertas dengan segudang perjanjian yang telah mereka sepakati.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu keberatan?"
Amar menggeleng kepala cepat. "Papi jangan khawatir. Bagaimana pun, saya akan menjaganya. Dia adalah istri yang harus saya lindungungi."
Sugiono menatap dalam pada netra Amar. Tangannya diletakkan pada bahu Amar. "Jangan khianati kepercayaan Papi."
__ADS_1
Amar menunduk meneguhkan hati lalu kepalanya bergerak naik turun.
Sugiono menepuk pundak Amar beberapa kali. "Ayo kita makan bersama dulu dan setelah itu kamu boleh kembali ke kantor dan Papi yang akan mengantarkan Nenek dan Anna.
"Tidak usah, Pi. Biar saya saja."
"Lebih baik kamu kembali bekerja. Nanti kami sekalian berkunjung ke tempat di mana Anna tinggal. Mami dan Bagas sangat merindukan Anna."
Amar setuju dan mereka makan bersama pada sebuah restoran.
*
*
*
Sementara itu, karena merasakan respon orang yang di dalam terlalu lama, membuat Amar memilih untuk membuka pintu sendiri. Ia telah rapi dengan baju kerja yang sudah terpasang di tubuhnya.
Langkah pelan Anna membuat posisi luaran baju tidurnya masih jauh dari jangkauan. Amar tercengang beberapa detik melihat beberapa bagian tubuh yang terbentuk lewat baju tipis yang terpasang di tubuh Anna. Amar refleks memutar tubuhnya.
"Maaf ... Aku pikir kamu masih tidur."
__ADS_1
"Aku sudah bangun semenjak subuh. Aku bertekad untuk bertobat mendengar semua yang dikatakan oleh Papi kemarin. Mulai hari ini, aku berjanji tidak akan melalaikan sholatku lagi. Aku tidak ingin menambah dosaku lagi."
Sedikit mengernyitkan wajah Anna meraih jubah penutup bagian baju tidur yang mini itu. "Maaf ya? Aku masih lalai dalam urusan membenahimu dan rumah ini? Meskipun pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian, tetapi kita adalah suami istri di mata orang lain."
Anna membuka pintu lebih lebar lagi? "Kamu sudah siap, Bang? Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Oh, tidak usah. Aku malah ingin mengatakan bahwa aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." ucap Amar.
Kepala Anna langsung berputar ke arah meja makan. Dan, benar adanya sebuah tudung saji mini berada di atas meja untuk menutupi makanan sebuah piring yang berisi sandwich yang telah disiapkan oleh Amar.
"Kamu menyiapkan sarapan untukku?"
"Iya, kamu kan lagi tidak enak badan. Makanya aku siapkan sekalian makanan untukmu. Obat-obatanmu juga sudah aku letakkan di dekat makanan itu. Aku akan mengusahakan pulang secepatnya agar kamu tidak sendirian terlalu lama."
Anna tidak bisa berkata-kata. Ia teringat apa yang diperintahkan papinya kepada Amar, kemarin. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang dikatakan papi kemarin. Papi berkata demikian karena tidak mengetahui kebenaran yang kita sembunyikan. Kita lakukan semua sama seperti sebelumnya."
Amar terdiam sejenak, dan mengangguk. "Baik lah, bagaimana yang terbaik saja."
Anna sedikit jerih berjalan menuju meja makan. Amar mengernyitkan bahu merasa ingin membantunya untuk sampai. Namun, ia tidak berani menyentuh Anna. Saat Anna melirik dia yang berada di belakang, Amar menurunkan tangannya hanya tersenyum tipis.
Setelah Anna duduk manis di kursi, Amar merasa sedikit lega. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
__ADS_1
"Ya, hati-hati."
Amar pun mengangkat tas kerja dan keluar. Ia segera menghubungi seseorang. "Cepat cari si keparat Zico berada di mana! Kita akan membuat perhitungan dengannya. Enak saja dia menghilang setelah apa yang ia lakukan." Amar menutup panggilan tersenyum tipis.