Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
63. Meluluhkan Anan


__ADS_3

"Dadah Papa, besok jemput aku lagi yaaa ... Kita jalan-jalan lagi."


Melihat sang anak melambaikan tangan pada kendaraan asing, membuat amarah Anna meledak. Ia ingin menghampiri pemilik mobil yang membawa anaknya kabur, tetapi benda mewah itu telah pergi menjauh.


Amar sempat melirik sejenak ke arah belakang, tetapi ia lebih memilih untuk fokus kepada bagian depan jalan yang akan ia lalui. Tak lama, mobil mewah itu telah pergi menjauh darinya.


"Anan! Kamu itu pergi ke mana aja? Kenapa kamu memanggilnya Papa?" omel Anna memasang wajah marah.


Anan melirik Anna yang bersuara keras kepadanya. Setelah itu, pandangannya beralih pada Dokter Yoga yang tak jauh berdiri dari posisi sang ibu.


"Huh ...." Anan tidak menjawab pertanyaan sang ibu, memilih masuk ke dalam toko dan naik ke atas menuju rumahnya.


Anna merasa geram mengejar bocah itu, tetapi tangan Dokter Yoga menahan tindakan impulsif Anna. "Kamu jangan seperti itu kepada anakmu, kecuali kamu ingin dia membencimu di kemudian hari!"


Manik sendu itu membesar melihat Dokter Yoga dengan nanar. "Kenapa begitu? Aku melindunginya! Harusnya dia sadar aku khawatir kepadanya."


Dokter Yoga menarik Anna masuk ke dalam pelukannya. Anna tersentak mendapat pelukan tiba-tiba. Dengan refleks, Anna melepaskan diri dari pelukan tersebut. Dokter Yoga kembali hening. Dalam beberapa waktu, pria berprofesi dokter itu diam seribu bahasa.

__ADS_1


Doktor Yoga menghembuskan napasnya dengan sedikit berat. Baginya, ini tidak mudah juga.


"Kalau kamu mau, ayo kita ubah cara kamu berkomunikasi dengan Anan. Bagaimana pun juga, Anan itu masih sangat kecil untuk kamu perlakukan demikian." terang Dokter Yoga, sedikit dingin.


Anna melirik ke bagian atas ruko yang ia tempati. Ia telah membayangkan bahwa sang putra kini telah berada di dalam kamarnya.


"Kamu tau apa dengan pola asuh anakku?"


Dokter Yoga kembali menghembuskan napas panjang. "Ya, aku memang belum memiliki anak. Jangankan anak, memiliki istri saja belum pernah aku rasakan. Tapi, cara kamu memperlakukan anakmu itu sungguh sangat ...."


Anna membuang wajahnya. "Sepertinya cukup sampai di sini dulu pertemuan hari ini. Aku lelah!" Anna bergerak ingin masuk ke dalam ruko yang ia tempati.


"Maafkan aku! Kamu jangan marah begitu. Jangan pergi di saat marah begini."


Anna mematung menundukkan kepalanya. "Lepaskan aku! Aku rasa kita tak pantas berbuat seperti ini. Aku tak ingin orang lain mengatakan sesuatu yang aneh tentangku dan salon ini."


"Tapi kamu janji dulu jangan marah padaku. Masa usia pacaran yang masih seumur toga terancam putus begitu saja? Ini kan gak lucu." Dokter Yoga menarik dagu Anna membuat tatapan mereka saling beradu pandang.

__ADS_1


Anna menepis tangan itu dan membuang mukanya. Pandangan baru memperlihatkan beberapa orang yang memandang mereka dengan tatapan tajam. Hal ini membuat Anna refleks melepaskan diri dari Dokter Yoga.


"Malu dilihatin orang," bisiknya.


Anna berjalan cepat masuk ke dalam tokonya. Dokter Yoga turut serta mengikutinya dari belakang. Mereka menuju bagian atas bangunan dan Anna mencari Anan. Ia melihat pintu kamar anaknya itu telah terkunci.


Dengan cepat Anna mengetuk pintu kamar tersebut. "Anan, buka pintunya! Aku ingin bicara padamu!"


Dokter Yoga menahan tangan Anna. "Jika kamu begini, Anan tidak akan mau berbicara padamu. Berbicara lah dengan lembut dan sabar. Anak seusianya ini sedang mencari sesuatu yang bisa membuatnya aman dan nyaman."


Anna hening. Matanya yang sedari tadi kaku, kini mengedip beberapa kali, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam.


"Serahkan padaku!" ucap Dokter Yoga.


Dokter Yoga mengetuk pintu itu beberapa kali. "Anan, buka pintunya. Kami sangat khawatir padamu. Jadi Om mohon kamu keluar. Ayo kita bicara. Apa kamu tidak tahu, kami semua sangat khawatir padamu?"


"PERGIIII! AKU BENCI MAMA! MAMA TAK PERNAH SAYANG PADAKU!"

__ADS_1


"AKU MAU MENYUSUL PAPA KE ALAM SANA!"


__ADS_2