Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
82. Harusnya Dari Dulu


__ADS_3

"Saat ini aku adalah wanita bersuami, Dok. Jangan mengharap apa pun dariku. Aku hanya bisa mendoakan supaya Dokter bisa mendapatkan wanita terbaik. Kamu pantas mendapatkannya."


Anna mengusap satu lengannya karena merasa bersalah. Akan tetapi, ia tak bisa terus memberikan harapan kepada Dokter Yoga.


"Baik lah, sepertinya kamu sudah kukuh dengan pendirianmu. Aku juga ingin minta maaf karena telah mencoba masuk dan mengusil dirimu yang mencoba untuk bertahan."


Dokter Yoga menarik gagang pintu yang terbuat dari bahan metal, pintu kaca tersebut terbuka dan kali ini Dokter Yoga memantapkan diri untuk pergi meninggalkan lokasi.


Anna menatap pintu yang kembali tertutup. "Maaf ... seharusnya aku tidak menerimamu semenjak awal. Karena sedari awal aku memang belum bisa membuka hatiku," lirihnya dalam kesenduan.


"Bu, kalau boleh tau, yang menggendong Anan tadi siapa ya? Kenapa Anda mengizinkannya untuk masuk ke sana? Biasanya, Anda memintaku untuk tidak mengizinkan siapa pun naik ke atas."


Anna mengangguk pelan. "Dia adalah suamiku."


Lasmi menutup mulut karena rasa terkejut. "Kemarin dia membayarkan biaya salon Bu Silvi yang pergi itu kan, Bu. Katanya dia tidak ingin Anda merugi."


Anna tersenyum tipis melirik ke bagian tangga. Tak lama kemudian, ia menganggukan kepala. "Terima kasih Lasmi, sekarang kamu boleh pulang. Oh ya, kamu jangan lupa bawa kunci serep ya? Saya takut, siapa tau terlambat sampai ke sini."

__ADS_1


Wajah Lasmi terlihat bingung. "Ibu mau ke mana?"


"Saya akan ikut tinggal bersama suami. Jadi, mulai hari ini selalu siapkan kunci serep. Saya takut malah terlambat membuka salon."


Lasmi setuju dan ia segera pamit untuk kembali ke rumahnya. Saat pintu telah tertutup, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. "Seharusnya, aku memelukmu setiap hari semenjak dulu. Terima kasih, kamu sudah menerima pria bod*h sepertiku lagi." Perlahan Amar mengecup cuping telinganya.


Anna membeku, tiba-tiba syaraf-syaraf di tubuhnya menjadi tegang. "Aah, apa yang kamu lakukan? Bukan kah kita harus ke rumahmu terlebih dahulu?" Anna merasa sangat gugup.


Amar memutar tubuh Anna yang masih membelakanginya. Kali ini dua pasang netra itu saling bertemu. Anna merasakan debaran jantungnya semakin cepat di setiap detiknya.


"I love you." Amar tak memberi Anna kesempatan untuk menjawab, dan menempelkan bibirnya dan mengecupnya perlahan.


Akan tetapi, tubuh Amar lebih kuat melanjutkan aktivitasnya yang tadi terhenti dengan sejenak. Ia kembali mengecup bibir itu. Ia merasa tak ingin lagi melewatkan masa indah itu.


"Kamu tahu, aku mengingat semuanya. Di kala aku mabuk, aku sempat menjamah, mengecupmu beberapa kali. Namun, aku tak tahu apa yang menyebabkanku berhenti melakukannya. Lalu, kamu ingat? Di saat aku aku mabuk, kamu tidur di dalam pelukanku, kamu menjadi guling dan aah yaa, tanganku sempat nakal membelai ini." Amar melirik sesuatu yang ada pada dada istrinya.


Anna yang mendengar semua itu, tiba-tiba merasa malu. "Aah, ayo kita ke rumahmu dulu?" Anna menggenggam tangan Amar.

__ADS_1


"Sepertinya, aku ingin mencoba malam pertamaku bersamamu di sini."


Anna tertegun dan melirik Amar menjadi canggung. "Kenapa kamu tiba-tiba menjadi agresif begini? Padahal dulu kamu tidak begitu?"


Amar mengangkat tubuh mungil istrinya. Anna segera mengaitkan kedua tangannya pada leher Amar. C*uman itu kembali terjadi dengan manis.


"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Seketika kata 'sah' menggema di mesjid tadi, ada sesuatu yang membuatku tak berhenti ingin terus memelukmu. Hanya saja, Anan selalu muncul dan terpaksa harus menahan diri."


Anna tersenyum manis menyandarkan diri sembari dibawa terus menaiki tangga. "Apa kamu sanggup menggendongku sambil menaiki anak tangga ini?"


"Oh, tentu ... Mari kita coba."


Amar menapaki anak tangga dengan membawa Anna sebagai beban yang ia bopong di depan. Awalnya, semua masih mudah saat ia menaiki bagian awal anak tangga. Namun, lama kelamaan, tubuh Anna terasa semakin berat saja.


Ketika sampai di tengah, pinggang Amar mulai merasa encok. Anna menyadari ekspresi yang terlukos di raut wajah suaminya itu. Anna tertawa lepas.


"Sudah lah! Aku turun saja. Kamu sok-sokan ala brydal style segala." Anna mencoba melepaskan dirinya.

__ADS_1


Akan tetapi, Amar tidak mengizinkannya turun dari gendongannya. "Kalau begini saja aku menyerah, maka aku tak pantas dijadikan sebagai seorang suami dan kepala keluarga."


__ADS_2